Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Khilafah Sebuah Realitas, Bukan Utopis

Wednesday, May 14, 2025 | Wednesday, May 14, 2025 WIB Last Updated 2025-05-14T05:17:44Z

 

Oleh: Rina Ummu Riefa 

(Aktivis Muslimah)


Baru-baru ini media dibanjiri dengan berita tentang pernyataan Perdana Menteri (Israel), Benjamin Netanyahu yang mengatakan bahwa dirinya tidak akan “menerima pembentukan Khilafah apa pun di pesisir Mediterania,” dan ia menjelaskan bahwa “respons (Israel) tidak akan terbatas pada Yaman, tetapi akan meluas ke Lebanon dan wilayah lainnya.” (arabic.rt.com, 21/4/2025).


Pernyataan tersebut menggambarkan dengan sangat jelas kekhawatiran tegaknya khilafah dapat mengancam eksistensi Israel. Kekhawatiran Netanyahu ini bukan tanpa alasan, Pasalnya tuntutan tegaknya kekhalifahan sudah bersifat global. Hal ini dapat terlihat dari banyaknya aksi masif Bela Palestina di berbagai belahan dunia yang senantiasa dihiasi oleh kibaran Al-liwa dan Ar-rayah. Bahkan muncul narasi pembelaan yang mencuat ke permukaan, sudah mengarah pada tuntutan jihad yang disertai seruan penegakan Khilafah sebagai satu-satunya solusi menghentikan penjajahan.


Hal inilah yang kemudian menjadi latar belakang kebrutalan Zionis di Tanah Gaza. Dengan bantuan Amerika, berupa sokongan dana, politik, dan persenjataan yang sangat luar biasa. Stockholm International Peace Research Institute pernah mengungkap, bantuan Amerika Serikat untuk operasi militer Zionis di Gaza, Lebanon, dan Suriah mencapai lebih dari Rp356,8 triliun. Dengan kata lain, AS telah memasok 69% kebutuhan senjata Zionis pada periode 2019–2023 dan meningkat menjadi 78% pada akhir 2023.


Dan akibat dari serangan brutal tersebut banyak sekali jatuh korban. Berdasarkan laporan dari Al-Jazeera (30-4-2025) menyebutkan jumlah korban sejak 7 Oktober 2025 sedikitnya 52.365 warga yang tewas dan 117.905 lainnya luka-luka (data Kementerian Kesehatan Gaza). Data ini diperbaharui Kantor Media Pemerintah Gaza yang menyebut jumlah korban tewas adalah lebih dari 61.700, sedangkan ribuan orang yang hilang di bawah reruntuhan juga diduga tewas. Lebih dari 70% di antara mereka adalah perempuan dan anak-anak. 


Meskipun fakta kekejaman tampak begitu nyata, namun hal tersebut tidak menjadikan negara-negara yang notabene sesama muslim tergerak untuk menolong saudara-saudara di Palestina. Jika saudara seiman saja tidak tergerak, apakah mungkin mereka berharap kepada Lembaga-lembaga Internasional, seperti PBB dan Mahkamah Kriminal Internasional (ICC). Yang jelas Meski pengadilan memutuskan bahwa pihak Zionis bersalah atas bencana perang dan menyebut Netanyahu sebagai penjahatnya, nyatanya tidak ada yang bisa dilakukan untuk menyeret ke meja pengadilan.


Sungguh diamnya negeri-negeri muslim merupakan bukti bahwa saat ini mereka sedang berada di bawah komando barat, sehingga tidak lagi mampu merasakan sakit yang dirasakan oleh saudara-saudara se-akidah mereka. Padahal Rasulullah S.A.W bersabda “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi di antara mereka adalah ibarat satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya)." (HR Muslim No 4685).


Selama ini, para penguasa negara-negara Arab tersebut, mereka bahkan mendukung Barat untuk memecah kekuatan umat Islam dan berada di garda terdepan upaya menghadang kembalinya Khilafah di kawasan. Sebagian mereka bahkan secara terbuka mendukung keberadaan negara ilegal Zionis di Palestina. Sebagian lainnya satu demi satu menormalisasi hubungan dengannya. Bahkan ada yang dengan sengaja menutup perbatasan demi memudahkan zionis melakukan genosida terhadap Palestina.


Untuk itu perlu penyadaran terhadap ummat secara massif bahwa saat ini mereka sedang diadu domba oleh penjajah untuk menghadang tegaknya kembali Khilafah, karena mereka menyadari, jika negeri-negeri kaum muslimin bersatu, maka mereka akan hancur sebagaimana yang pernah terjadi sebelumnya. Inilah ketakutan barat yang diwakili oleh pernyataan Netanyahu di atas.


Semua realitas ini semestinya menyadarkan kita bahwa dakwah Khilafah yang selama ini dipandang sebelah mata, pelan tetapi pasti, telah terbukti menuai hasilnya. Dakwah yang sering disebut Utopis ini terbukti benar-benar telah diterima umat dan suaranya menggema hingga menggentarkan hati dan jantung para musuhnya. Bukan hanya orang per orang, melainkan hingga level negara adidaya. Hal ini harusnya dapat menjadi semangat bagi para pengemban Dakwah untuk terus menyuarakan dengan lantang bahwa solusi Hakiki dari semua persoalan, termasuk Gaza hanyalah dengan tegaknya Institusi Khilafah. Tentunya dimulai dari asasnya, yakni dengan mengokohkan akidah ummat hingga lahir ketaatan pada Syari’at Islam secara Kaffah. Dan hal tersebut tidak mungkin bisa terwujud kecuali dengan tegaknya Khilafah. Wallahu A’lam Bisshowwab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update