Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)
Pejabat senior Hamas, Basem Naim mengaku mendapatkan janji langsung dari utusan AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff bahwa dua hari setelah sandera Edan Alexander dilepas, AS akan mewajibkan Israel untuk membuka blokade bantuan kemanusiaan masuk Gaza. Witkoff, menurut Basem, juga menjanjikan, bahwa Presiden Donald Trump juga akan membuat pernyataan resmi terkait gencatan senjata segera di Gaza dan negosiasi demi tercapainya sebuah 'gencatan senjata permanen'. "Itu sudah disepakati," ujar Basem Naim kepda Drop Site dalam laporannya, Jumat (16/5/2025). Menurut Basem, janji itu diutarakan oleh "Witkoff sendiri".Dalam wawancara dengan Drop Site, Basem Naim mengatakan bahwa perjanjiannya adalah, "Jika kami melepas (Edan Alexander), Trump akan berterima kasih kepada Hamas atas sikapnya, mewajibkan Israel pada hari kedua membuka blokade dan membiarkan bantuan masuk ke Gaza, dan (Trump akan) menyerukan gencatan senjata segera dan dijalankannya proses negosiasi demi mengakhiri perang." "Dia tidak melakukan apapun soal ini," kata Naim. "Mereka melanggar kesepakatan. Mereka melempar kesepakatan itu ke tong sampah." (news.republika.co.id, 17-05-2025).
Komisaris Tinggi HAM PBB Volker Turk mengatakan bahwa krisis kelaparan di Gaza pada dasarnya adalah konsekuensi dari keputusan yang dibuat oleh otoritas Israel. Sejak Juni 2007, Zion*s Yahudi melakukan blokade darat, laut, dan udara, yang menyebabkan Jalur Gaza menjadi penjara terbuka terbesar di dunia. Setelah Hamas melakukan Operasi Badai Al-Aqsha pada 7 Oktober 2023, Zion*s Yahudi melanjutkan serangan brutal di Gaza, tempat sekitar 2,3 juta orang tinggal di salah satu wilayah terpadat di dunia. Zion*s Yahudi terus menggempur Gaza, sehingga mengakibatkan lebih dari 43.317 orang tewas, sebagian besar adalah wanita dan anak-anak, serta lebih dari 99.100 terluka, dan hampir seluruh penduduk Jalur Gaza mengungsi.
Zion*s Yahudi juga melakukan blokade total sejak 2 Maret dengan menutup penyeberangan Gaza, melarang masuknya makanan, air, listrik, dan bahan bakar. Tidak ada pasokan kemanusiaan maupun barang komersial yang dapat memasuki Gaza selama beberapa bulan. Ini adalah blokade terlama bagi bantuan untuk memasuki Gaza sejak dimulainya perang sehingga warga Gaza menghadapi masalah kesehatan dan ancaman kelaparan yang meluas.
Komisaris Tinggi HAM PBB menambahkan dan memperingatkan bahwa membuat warga sipil kelaparan sebagai cara peperangan adalah kejahatan perang. Israel menghadapi gugatan kasus genosida di Mahkamah Internasional atas tindakannya di Gaza. Sebuah laporan keamanan pangan yang didukung PBB, yakni IPC (The Integrated Food Security Phase Classification), pada Kamis (17-10-2024) memperingatkan bahwa sebagian besar penduduk Jalur Gaza akan menghadapi tingkat kelaparan darurat dalam beberapa bulan ke depan. Laporan terbaru dari ketentuan Tahap Ketahanan Pangan Terpadu memperkirakan 345.000 warga Palestina akan menghadapi bencana kelaparan tingkat bencana atau Tahap 5. Sebanyak 876.000 orang lainnya, atau 41% dari penduduk akan tertinggal satu langkah di belakang dalam Fase 4, yaitu Tingkat Darurat.
Seluruh fakta di atas nyata menunjukkan betapa lemah dan pengecutnya Isr43ll dalam menggenosida rakyat Gaza. Ketakutan Z*ionis ditampakkan dengan membabibutakan aksi kejinya yang tiada batas. Kemanusiaan tak lagi dimiliki. Melaparkan rakyat Gaza seakan jadi kepuasan yang tiada tara. Z*onis Isr43l terlalu ciut nyali menghadapi kekuatan Gaza yang tak pernah berhenti membara. Sayangnya, para pemimpin Muslim bukan malah menguatkan Gaza. Mereka pun turut ciut bersama kejumawaan Isr43l yang ditamengi AS.
Berbagai kecaman dan ancaman dari dunia internasional yang bersahut-sahutan tidak menyebabkan Zion*s Yahudi meredakan kebrutalan dan blokade yang mereka lakukan. Zion*s Yahudi terlalu sombong dengan dukungan penuh sang adidaya, Amerika Serikat dan sekutunya. Solusi-solusi yang ditawarkan, seperti evakuasi penduduk Gaza yang kelaparan, menggalang solidaritas internasional untuk menciptakan perdamaian dunia, hakikatnya adalah solusi yang makin mempertahankan penjajahan dan pendudukan Zion*s Yahudi atas Palestina sekaligus mematikan gelora perang pada warga Gaza.
Sungguh kelaparan Gaza merupakan tanggung jawab seluruh umat Islam. Tanggung jawab seluruh manusia. Hanya saja, untuk bisa menyelesaikan masalah Palestina dan Gaza secara tuntas, kita perlu mengklasifikasi masalah menjadi dua, yaitu pertama adalah masalah pendudukan Zion*s Yahudi dengan metode kekerasan, perampasan dan kekejamannya. Ini adalah merupakan akar masalah Gaza. Kedua adalah masalah berjatuhannya korban tewas, luka-luka, cedera dan munculnya masalah kemanusiaan berupa kelaparan, tidak adanya akses pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Masalah kedua ini merupakan masalah cabang.
Riilnya, saat ini Umat Islam berada dalam arus menyelesaikan masalah yang kedua, dengan menggalang donasi untuk bantuan pangan, obat-obatan, dan pendidikan bagi korban. Tawaran solusi berupa evakuasi warga Gaza pun sesungguhnya juga dibangun berdasarkan empati terhadap korban. Padahal, kita bisa menyaksikan bahwa sekuat apa pun tawaran untuk menyelesaikan problem kedua, sesungguhnya tidak akan berarti selama problem pertama, berupa kebrutalan dan kebiadaban Zion*s Yahudi, sama sekali tidak disentuh untuk dihentikan. Problem kedua akan terus muncul selama problem pertama tidak diselesaikan.
Bantuan makanan, obat-obatan, pakaian, dan tenda-tenda darurat memang dibutuhkan. Namun, umat Islam jangan melupakan bahwa yang mendesak dan sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan semua problem kedua itu adalah menghentikan kebrutalan dan kejahatan yang dilakukan Zion*s Yahudi. Zion*s Yahudi bisa terus melakukan aksi kekerasan karena mendapatkan dukungan dana, senjata, dan kekuatan fisik lainnya dari negara-negara super power.
Tanah Palestina harus dibebaskan dari penjajahan dan penjarahan Zion*s Yahudi. Mengirim kekuatan pasukan dan persenjataan yang seimbang menjadi harus dan pasti. Kaum muslim harus mengerahkan apa pun kekuatan yang bisa menggentarkan musuh.
Solusi strategis jihad dengan berperang dalam kerangka meninggikan kalimat Allah di muka bumi sudah sangat urgen. Karena jihad pada hakikatnya mampu menghilangkan penghalang fisik, berupa kekuatan negara dan militer, yang menghalangi manusia kenal dengan Allah sebagai Pencipta alam semesta beserta manusia dan kehidupannya, dan menghalangi manusia menerapkan aturan dari Allah Swt.. Zion*s Yahudi yang didukung oleh super power hari ini adalah kekuatan fisik yang menghalangi manusia mengenal Tuhannya dan tunduk patuh kepada Tuhannya.
Kekuatan politik yang hanya bersandar pada kekuatan akal manusia (sekuler) ini secara nyata sudah menimbulkan problem akut dunia, di berbagai tempat, dan di berbagai bidang kehidupan, sepanjang masa kekuasaan mereka. Jihad inilah yang akan mampu menghentikan kebiadaban, kebrutalan dan kesombongan kekuatan sekuler dan mewujudkan kehidupan yang manusiawi dengan tunduk patuh hanya kepada Al-Khalik, Allah Taala. Namun, jihadi tidak bisa dilakukan secara individual maupun kelompok individu. Jihad akan efektif jika berada di bawah komando pemimpin negara super power baru, yaitu Khilafah Islamiah. Khilafah Islamiah merupakan kepemimpinan umum kaum muslim sedunia untuk menerapkan hukum Islam secara menyeluruh. Dengan hukum Islam inilah, khalifah sebagai pemimpin politik umat Islam, mengelola seluruh sumber daya yang dimiliki oleh umat Islam, baik sumber daya alam (dari teritorial) maupun sumber daya manusia (dari sisi penduduk), sehingga menjadi kekuatan yang tidak tertandingi. Umat Islam akan menjadi “khairu ummah”, sebaik-baik umat yang memimpin dunia menuju rahmatan lil alamin.
Oleh karena itu sudah seharusnya umat Islam melakukan pergerakan politik global, untuk mengubah tata dunia sekuler menjadi tata dunia Islam sebagaimana dulu Rasul dan para sahabat juga melakukan aktivitas tersebut dalam periode Makkah ketika umat Islam hidup dalam tatanan kehidupan kufur, berupa kemusyrikan.
Saat itu umat Islam tidak punya kebebasan untuk tunduk patuh kepada Allah karena mereka hidup dalam sistem kufur. Saat itu pula Rasul sebagai pemimpin kaum muslim menggerakkan kaum muslim untuk melakukan perubahan tatanan kehidupan. Ini merupakan pergerakan politik umat Islam (islamic political movement) pertama, yang langsung dipimpin oleh Rasul di bawah panduan wahyu.
Rasulullah ﷺ telah mencobtohkan bahwa karakteristik pergerakan politik Islam adalah proses perubahan menuju diterapkannya Islam (dakwah Islam) harus dilakukan secara berjemaah yang dalam jemaah itu ada pemimpin dan ada ikatan di antara anggotanya. Rasul adalah pemimpin jemaah dan Rasul menjadikan akidah Islam dan keterikatan terhadap hukum syariat sebagai ikatan jemaah. Ikatan ini merupakan ikatan pemikiran, perasaan, dan hukum, yang memandu manusia dalam menjalani kehidupannya.
Rasulullah ﷺ pun memberikan teladan berupa aktivitas perubahan tatanan kehidupan harus dimulai dengan mengedukasi masyarakat agar terjadi perubahan pemikiran, perasaan, dan aturan. Ini merupakan aktivitas pokok dan penting bagi pergerakan politik Islam, menjadikan ideologi Islam sebagai pengikat anggotanya, sekaligus terus menyebarkan ideologi Islam ke tengah masyarakat.
Sungguh apa yang dilakukan oleh Rasul dan para sahabat dalam periode Makkah adalah aktivitas politik, berupa senantiasa mengkritisi dan mengevaluasi kebijakan penguasa yang kufur dan menawarkan Islam sebagai solusi permasalahan kehidupan bersama.
Pergerakan politik seperti itulah yang akan mampu mewujudkan kekuatan politik praktis umat Islam seluruh dunia, yaitu Khilafah Islamiah. Khilafah Islamiah yang akan menjadi aktor penting dalam menjamin diterapkannya hukum Islam di dalam menyelesaikan seluruh permasalahan, menyatukan seluruh potensi Islam, hingga menjadi kekuatan yang diperhitungkan di panggung internasional.
Khalifahlah yang memiliki otoritas untuk mengomando pengiriman pasukan untuk menghentikan kebrutalan Zion*s Yahudi, dan bersungguh-sungguh mengelola anggaran secara syar’i untuk menangani korban perang dan membangun kembali Gaza dan Palestina. Umat Islam tidak mungkin berharap kepada Negara-negara Barat dan lembaga internasional hari ini untuk menyelesaikan masalah Gaza dan pembangunan kembali Gaza. Sampai kapan kita akan memenangkan pertarungan jika kita hanya berdiam diri?
Wallaahu a'laam bisshawaab.

No comments:
Post a Comment