Oleh: Suryani
Dilansir dari Beritasatu.com—Menanggapi adanya kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) untuk Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) tahun 2025. Dalam keterangan resminya , panitia SNPMB sangat menyayangkan tindakan tersebut karena dianggap mencederai prinsip keadilan, integritas, dan kejujuran yang menjadi dasar seleksi nasional.
Kecurangan dalam akademik telah menjadi tantangan besar bagi pendidikan di era digital. Dengan kemajuan teknologi, kecurangan dapat dilakukan dengan lebih mudah dan lebih sulit dideteksi. Salah satu kasus yang terjadi dimana ada seorang pelajar menyembunyikan sebuah kamera di kawat gigi yang dipakainya. Sekarang ini muncul berbagai macam dan bentuk teknologi/AI yang secara tidak langsung mendukung kegiatan yang mengarah pada keburukan. Jika dilihat dari aspek seperti ini maka orang-orang akan menganggap teknologi sesuatu yang buruk, padahal sebenarnya yang harus diperhatikan dan dibenahi bukan hanya dari sisi teknologinya tetapi yang paling utama ialah pemakainya atau manusianya.
Penyebabnya: banyak pelajar yang kurang termotivasi untuk belajar seringkali lebih memilih mencari cara pintas untuk mencapai tujuan akademik, pelajar yang tidak memahami materi pelajaran dapat mencari cara untuk mengatasi kesulitan dengan cara yang tidak etis, pelajar merasa tertekan untuk berprestasi dapat melakukan kecurangan untuk mencapai tujuan, besarnya keinginan untuk masuk ke dunia perkuliahan dengan universitas bergensi dengan menghalalkan berbagai macam cara.
Selain itu, kurangnya peran orang tua dalam mendidik memberikan pengajaran atau orang tua yang terlalu menekankan prestasi akademik sehingga mendorong untuk melakukan kecurangan, kurangnya pengawasan dari institusi pendidikan, kurangnya pendidikan karakter sejak dini sehingga menyebabkan seseorang tidak memahami pentingnya kejujuran dan integritas akademik, kemudahan akses informasi diera digital, dan kurangnya konsekuensi yang tegas bagi pelaku kecurangan yang dapat menjadi efek jera dan menjadi contoh bagi yang lain sehingga tidak ada lagi yang berani mengulangi atau melakukan hal serupa.
Islam sebagai solusi:
1. Islam khususnya dalam pendidikan akan mengajarkan nilai agama secara keseluruhan salah satunya pendidikan akhlak atau karakter dan tauhid, menanamkan nilai-nilai kejujuran, amanah, dan takut kepada allah serta pemahaman bahwa allah selalu mengawasi seseorang. Sekarang ini, kita lihat bahwa pendidikan agama islam hanya diajarkan dalam bentuk poin secara umum saja tidak secara menyeluruh tidak menekankan pada sisi karakter dan yang lainya padahal islam sangatlah sempurna mengatur segala sesuatunya.
2. Dalam islam mengutamakan peningkatan kualitas pengajaran dan penilaian, dalam islam proses menuntut ilmu lebih utama dari sekedar hasil tidak menekankan pada nilai untuk pencapaian sehingga mengurangi adanya penekanan yang menyebabkan kecurangan.
3. Islam mendorong pembentukan karakter sejak usia dini melalui pembiasaan nilai-nilai islam, seperti amanah(dapat dipercaya), sidq(jujur), dan istiqomah(konsisten). Jika karakter ini tertanam, kemungkinan kecurangan akademik bisa ditekan.
4. Peran orang tua, dalam islam orang tua wajib bertanggung jawab terhadap anak, mengajarkan nilai-nilai agama, menanamkan karakter yang baik sejak usia dini.
5. Islam memandang pelanggaran akademik sebagai perbuatan dosa karena melanggar prinsip amanah, kejujuran, dan tanggung jawab. Pelaku harus diberi sanksi sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dilakukannya. Secara fikih, pelanggaran akademik berbeda dengan hukuman tetap seperti zina, mencuri, dll. Tetapi masuk kategori ta’zir, yaitu saksi yang diberikan oleh pemimpin atau lembaga berdasarkan kebijakan dan maslahat. Memberikan hukuman yang menjadi pembelajaran dan pengajaran.
Wallahu’ alam

No comments:
Post a Comment