Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kapitalisme Mencetak Generasi Rusak

Wednesday, May 14, 2025 | Wednesday, May 14, 2025 WIB Last Updated 2025-05-14T05:45:29Z

 Oleh: Vita Ratna, S.Pd. 

(Aktivis Muslimah)


Sistem pendidikan merupakan instrumen strategis dalam membentuk generasi masa depan sebuah bangsa. Namun, dalam sistem kapitalisme yang kini mendominasi dunia, termasuk Indonesia, pendidikan tidak lagi diposisikan sebagai hak dasar rakyat, melainkan sebagai komoditas ekonomi. Hal ini telah berdampak buruk terhadap kualitas moral, spiritual, dan intelektual generasi muda.


Kapitalisme dan Komersialisasi Pendidikan

Kapitalisme menjadikan pendidikan sebagai ladang bisnis. Pemerintah mendorong otonomi kampus dan swastanisasi pendidikan, yang berdampak pada melonjaknya biaya pendidikan dari jenjang dasar hingga tinggi. Data BPS 2023 mencatat, rata-rata pengeluaran rumah tangga untuk pendidikan meningkat 6,2% dari tahun sebelumnya, dengan beban terbesar ditanggung oleh masyarakat kelas menengah ke bawah.


Kebijakan seperti Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan penetapan Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) menambah tekanan finansial bagi mahasiswa dan orang tua. Laporan Jurnal Kampus ULM menyebut, sistem ini membuat kampus berlomba-lomba mencari pemasukan, mengorbankan orientasi ilmiah dan sosial pendidikan.


Pendidikan dalam sistem ini lebih mengutamakan pencapaian akademik dan keterampilan teknis yang berorientasi pasar ketimbang pembangunan karakter. Kurikulum seringkali tidak membentuk pribadi yang berakhlak, melainkan hanya lulusan yang siap pakai untuk industri.


Dampak Sosial: Kekerasan dan Krisis Moral

Krisis ini tergambar jelas dari maraknya kekerasan di sekolah. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat hingga September 2024 terdapat 293 kasus kekerasan di lingkungan sekolah, dengan kekerasan seksual mencapai 42% dan perundungan sebanyak 31%.


FSGI (Federasi Serikat Guru Indonesia) juga melaporkan tren peningkatan perundungan pelajar dari 21 kasus pada 2022 menjadi 30 kasus di 2023. Ini mencerminkan kegagalan pendidikan dalam membentuk kepribadian luhur. Alih-alih menjadi ruang aman dan mendidik, sekolah justru menjadi tempat trauma bagi banyak anak.


Moralitas generasi pun terganggu. Remaja semakin terpapar budaya permisif, konsumerisme, serta krisis identitas karena sistem pendidikan yang sekuler dan terpisah dari nilai-nilai agama. Nilai-nilai kebaikan seperti sopan santun, hormat pada guru, dan kesadaran spiritual semakin luntur.


Islam Menawarkan Solusi Sistemik

Islam memandang pendidikan sebagai kewajiban negara, bukan komoditas pasar. Pendidikan dalam Islam bertujuan mencetak manusia yang bertakwa, berilmu, dan memiliki kepribadian Islam. Negara dalam sistem Khilafah, misalnya, wajib menyediakan pendidikan gratis dan berkualitas bagi seluruh rakyat, tanpa diskriminasi status ekonomi.


Menurut Kaltim Today, dalam sistem Islam, pendidikan bukan hanya ditujukan untuk mencetak tenaga kerja, melainkan untuk membentuk insan kamil—manusia paripurna yang beriman dan beramal shaleh. Kurikulum dalam pendidikan Islam memadukan ilmu duniawi dan ukhrawi, serta dibangun berdasarkan akidah Islam.


Institusi seperti madrasah dan pesantren yang berpegang pada sistem Islam telah terbukti membentuk pribadi-pribadi tangguh, berilmu, dan berakhlak. Dalam kitab Ta’limul Muta’allim, dijelaskan bahwa adab dan akhlak adalah syarat utama dalam proses menuntut ilmu, bahkan lebih utama daripada kecerdasan intelektual.


Sistem pendidikan Islam tidak mengenal liberalisasi atau sekularisasi. Negara tidak hanya menyediakan sarana pendidikan, tetapi juga mengatur media, lingkungan sosial, dan keluarga agar konsisten dengan tujuan pendidikan. Dengan ini, terbentuklah suasana pendidikan yang kondusif dan selaras antara sekolah, rumah, dan masyarakat.


Penutup

Kerusakan generasi saat ini bukan semata-mata akibat penyalahgunaan teknologi atau kemajuan zaman, melainkan buah dari sistem pendidikan kapitalis-sekuler yang gagal memanusiakan manusia. Ketika pendidikan dijadikan alat pasar, maka yang lahir adalah manusia yang kehilangan arah, krisis moral, dan minim kepekaan sosial.


Sebaliknya, Islam menawarkan solusi sistemik dan menyeluruh—bukan tambal sulam. Sistem pendidikan dalam naungan syariat Islam menempatkan ilmu sebagai jalan menuju ketakwaan, bukan sekadar untuk mencari kerja. Dengan penerapan Islam secara kaffah, generasi muda akan tumbuh menjadi pribadi beriman, cerdas, dan siap memimpin peradaban.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update