Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jangan Biarkan Kecurangan Mewarisi Generasi

Thursday, May 01, 2025 | Thursday, May 01, 2025 WIB Last Updated 2025-05-01T11:36:52Z

Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Dua hari pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2025, sudah ada temuan kecurangan yang dilakukan para peserta. Pada hari pertama UTBK SNBT, Rabu (23/4/2025) tim Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) menemukan ada sembilan kasus kecurangan (kompas.com, 27-04-2025).

Ternyata banyak siswa menyontek pada Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2025. Dalam dua hari pertama ujian (23—24 April), panitia menemukan total 14 kasus kecurangan oleh para peserta. Ketua Umum Penanggung Jawab SNPMB Prof. Eduart Wolok menyampaikan bahwa kecurangan terjadi pada 0,0071% dari 196.328 peserta yang hadir pada sesi 1—4. Meski persentasenya tampak kecil, fakta ini tidak bisa diabaikan.

Menurut Prof. Eduart Wolok, peserta menggunakan teknologi canggih untuk mencuri soal UTBK. Sangat mungkin ada keterlibatan pihak eksternal, baik dari dalam maupun luar peserta ujian. Mereka mengambil soal dengan berbagai cara dan sarana teknologi, yaitu dengan menggunakan hardware dan software. Mereka menyontek menggunakan ponsel recording desktop. Ada juga peserta yang soalnya dikerjakan oleh pihak lain di luar lokasi ujian dengan menggunakan remote desktop. Prof. Eduart menjelaskan bahwa kecurangan dengan melakukan perekaman soal terjadi tiap tahun. Namun, tahun ini caranya lebih bervariasi, yakni menggunakan kamera yang dipasang di kancing, behel, kuku, dan ikat pinggang yang tidak terdeteksi oleh detektor logam. Ada peserta yang memasang ponsel di sepatu, badan, dan lain-lain. 

Fakta ini menambah panjang daftar kecurangan yang terjadi di dunia pendidikan. Meski persentase kasus kecurangan kecil, kejadian ini berulang tiap tahun, bahkan modusnya makin canggih. Ini menunjukkan bahwa kecurangan terjadi secara sistemis. 

Miris. Dunia pendidikan kita begitu suram. Pendidikan yang seharusnya mencetak siswa unggul serta  jujur,  ternyata mengambil jalan pintas untuk meraih cita-citanya. Kecurangan menjadi ajang yang biasa.  Menghalalkan segala cara demi memperoleh nilai yang bagus dalam ujian, menjadi perilaku yang lumrah saja.  Proses pendidikan yang materialistis melahirkan generasi yang jauh adab dari ilmu. Jauh unggul dari tabi'ah mulia.

Terkait kondisi tersebut, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan siap memperbaiki sistem dan pendekatan pembelajaran untuk mencegah budaya menyontek pada pelajar. Hal itu diungkapkan Mu’ti terkait adanya Survei Penilaian Integritas (SPI) yang menunjukkan masih banyaknya pelajar di sekolah dan juga di kampus yang menyontek. Skor SPI Pendidikan 2024 berada di angka 69,50. Dan salah satu perbaikan sistem dan pendekatan pembelajaran yang akan dimulai adalah penerapan pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning mulai tahun ajaran 2025/2026. Sebabnya, deep learning akan menekankan pada proses penemuan makna (meaning) dalam setiap materi pelajaran siswa.

Gambaran di atas, mampukah menyolusi budaya menyontek  pelajar di negeri ini? Mampukah menghalau kecurangan yang seakan lumrah saja tanpa rasa bersalah?

Runtuhkan Sekulerisme Kapitalisme 

Perlu didalami kembali, keinginan Mendikdasmen untuk mencegah budaya menyontek di kalangan siswa dengan mengubah orientasi pendidikan akan sulit direalisasikan. Bahkan membuahkan hasil signifikan pun jauh panggang dari api. Kuatnya budaya menyontek, dan yang sejenisnya, hanya bisa diatasi jika pangkal rusaknya sistem pendidikan (sekulerisme kapitalisme) dibabat habis tanpa sisa.  Dan mengembalikan fungsi negara agar serius mengurus pendidikan.

Rendahnya skor SPI Pendidikan menunjukkan adanya masalah besar dalam tata kelola pendidikan di Indonesia, yakni terkait sistem yang digunakan dan peran negara dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini. Sistem pendidikan kapitalisme saat ini yang berasas sekularisme,  menjauhkan arah dan cara pandang dari akidah Islam. 

Sistem pendidikan lsaat ini lebih berfokus pada penguasaan materi akademik berupa ilmu pengetahuan, sains dan teknologi, maupun ketrampilan penunjang lain yang semuanya berorientasi pada dunia kerja. Alhasil  pembentukan kepribadian  hanya menjadi pelengkap dan tidak didasarkan pada asas Islam. 

Saat ini kala siswa mengetahui suatu perbuatan itu salah, dengan entengnya mereka akan melakukan lagi dan lagi. Melanggar apa yang mereka pelajari dan ketahui tentang sebuah kesalahan tidak membuat mereka beranjak dari buruknya perbuatan. 

Demikianlah pembelajaran dalam sistem pendidikan sekuler saat ini. Para pelajar kehilangan ikatan terhadap akidah Islam. Rasa takut terhadap dosa akibat menyotek minim. Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan hasil pun menjadi hal biasa saja dalam dunia pendidikan

Parahnya, dalam pengaturan pendidikan kapitalis peran negara seakan tiada. Dalam sistem kapitalis saat ini, kehadiran dan tanggung jawab negara sangat minim. Minimnya anggaran pendidikan mengakibatkan negara tidak mampu membangun sarana prasarana pendidikan memadai sesuai kebutuhan. Sulitnya mencari sekolah maupun kampus yang baik, juga memicu para siswa berbuat curang demi mendapatkan nilai bagus sebagai kunci memasuki jenjang berikutnya.

Oleh karena itu, jika Mendikdasmen hanya berencana mengubah orientasi belajar siswa, tanpa mengubah sistem pendidikannya, maka tidak akan menghasilkan perubahan signifikan atau bahkan gagal. Pendidikan yang berorientasi kerja tersebut dianggap menjadi satu-satunya kunci mendapatkan penghidupan. Kondisi ini makin membuat mental siswa rusak. Semua ini tentu berkaitan dengan sistem besar yang menaunginya, yakni sekulerisme kapitalisme. 

Apabila sistem pendidikan hanya mengandalkan model atau pendekatan pembelajaran deep learning yang nafasnya tetap sekuler kapitalis, maka pembentukan karakter yang baik tidak akan terwujud. Kalau pun ada pelatihan tambahan bagi guru, itu pun tidak akan bisa menjangkau kebutuhan mengingat begitu parahnya kondisi siswa. Kenyataannya guru dalam sistem kapitalis ini pun banyak bermasalah sebagaimana yang diungkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).  Ketakdisiplinan akademik bagi guru/dosen, dari hasil survei menunjukkan bahwa 69% siswa mengatakan masih ada guru yang terlambat hadir ke sekolah, dan 96% mahasiswa menyatakan masih ada dosen yang terlambat ke kampus. Bahkan, katanya, di 96% kampus dan 64% sekolah masih ada dosen/guru yang tidak hadir tanpa alasan yang jelas.

Lalu apa yang bisa diharapkan dari sistem pendidikan saat ini dengan dangkalnya solusi yang disiapkan negara atas problem besar tersebut. Sungguh, ini semua karena rusaknya sistem sekuler kapitalisme yang diterapkan,  telah mencengkeram negara dan semua kebijakan yang dikeluarkan dan seharusnya sistem rusak yang merusak ini harus segera ditinggalkan.

Urgensi Tegaknya Islam

Masalah ini adalah masalah besar. Dan akan tetap menjamur jika tidak segera diselesaikan. Generasi ini harus diselamatkan. Butuh tanggung jawab penuh negara untuk merealisasikan penyelesaiannya dengan sistem pendidikan yang tepat, dengan asas yang sahih.Tentunya asas dari Sang Pencipta Alam Semesta, Allah Ta'ala. Artinya, pendidikan yang dijalankan  harus didasarkan pada asas Islam yang bertujuan menghasilkan manusia yang berkepribadian Islam yang  terikat dengan halal haram dalam setiap kesempatan. 

Dalam sistem Islam negara hadir secara penuh dalam melaksanakan tanggung jawabnya. Tentunya kondisi tersebut memang hanya bisa terwujud dalam sistem yang menerapkan syariah Islam secara kafah, yakni Khilafah. Urgensi Tegaknya Islam tidak bisa lagi  dalam posisi tawar karena dalam sistem ini, negara memiliki kemampuan untuk membangun pendidikan sesuai dengan kebutuhan. Siswa tidak lagi gelisah untuk mendapatkan pendidikan terbaik.

Dengan penanganan sesuai Islam, pendidikan  tidak akan lagi dihiasi moleknya dunia kerja yang suram. Dunia pendidikan akan senantiasa dinamis. Pengabdian ilmu yang mengantarkan pada berbagai penemuan dan kemudahan berbagai urusan kehidupan terealisasi dengan sebaik-baiknya ketersediaan. 

Dalam Islam solusi sistemis sangat realistis. Jangan apatis jika tidak mau utopia. Berjuanglah untuk menegakkan ya. Karena Islam bukan hanya untuk dinanti, tetapi harus terwujud secara pasti. Dalam Khilafah segalanya bukanlah basa basi.

Wallaahu a'laam bisshawaab.


No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update