Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Generasi Terjebak Pengangguran Massal, Islam Solusi Tuntas

Tuesday, May 27, 2025 | Tuesday, May 27, 2025 WIB Last Updated 2025-05-26T22:07:12Z

 



Oleh  Haspily Alghaziah


Pengangguran  menjadi isu krusial di Indonesia utamanya bagi generasi muda. Mengingat  angka pengangguran yang cukup tinggi. Gelar sarjana dianggap sebagai pintu  menuju masa depan yang cerah. Akan tetapi, pada faktanya banyak  lulusan universitas di Indonesia justru masuk dalam lingkaran pengangguran.


Dilansir dari CNBC Indonesia (01/05/2025),  Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan tren yang begitu mengkhawatirkan. Pasalnya jumlah pengangguran bergelar sarjana tercatat sebanyak 495.143 orang pada tahun 2014. Angka ini melonjak drastis menjadi 981.203 orang pada tahun 2020. Walaupun  sempat turun menjadi 842.378 orang di 2024, tetapi jumlah tersebut tetap tergolong tinggi. Bahkan diprediksi  angka tersebut  akan terus meningkat dalam beberapa tahun kedepan. Sebagai dampak dari memanasnya perang dagang.


Laporan International Monetary Fund (IMF) menyatakan bahwa Indonesia tergolong dalam negara dengan tingkat pengangguran tertinggi. Diantara enam negara lainnya di kawasan Asia Tenggara pada tahun 2024. (kompas.com, 30/04/2025)


Fenomena ini menjadi tanda tanya besar. Mengingat lulusan diploma dan sarjana hasil lulusan universitas merupakan tenaga kerja yang harusnya sudah siap bekerja dan ada lapangan kerjanya. Namun tingginya tingkat pengangguran ini menunjukkan adanya faktor ketidakseimbangan antara jumlah lapangan pekerjaan dengan jumlah tenaga siap kerja yang di hasilkan tiap tahunnya.


Kapitalisme Akar Masalah


Banyaknya generasi yang terjebak dalam pengangguran massal menjadi fenomena yang kompleks. Hal ini tentu  memiliki dampak luas terhadap masyarakat. Bukan tanpa alasan fenomena ini terjadi karena disebabkan oleh beberapa faktor. 


Faktor pengaruhnya dapat berasal dari sumber seperti kebijakan ekonomi yang tidak tepat. Sehingga mempengaruhi tingkat pengangguran, perubahan teknologi yang dapat menyebabkan otomatisasi dan efisiensi produksi. Akibatnya dapat mengurangi kebutuhan tenaga kerja.


Selain itu,  globalisasi juga dapat menyebabkan perusahaan memindahkan produksi ke negara-negara. Dengan biaya tenaga kerja yang lebih rendah serta ketidakseimbangan pasar tenaga kerja. Kekeliruan yang terjadi dalam hal ini dapat berasal dari berbagai sumber. Seperti kurangnya keterampilan dan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan pasar.


 Ketergantungan pada satu sektor ekonomi dapat menyebabkan pengangguran. sektor tersebut mengalami krisis dan diskriminasi dalam pasar tenaga kerja bagi kelompok-kelompok tertentu. 


Tak hanya  itu faktor yang menjadi penyebab meningkatnya pengangguran dipengaruhi  karena beberapa hal diantaranya :


Pertama,  Kurangnya kesempatan kerja

Akar masalah tingginya angka pengangguran  terjadi akibat kesenjangan antara lapangan pekerjaan dan pencari kerja. Tenaga kerja lebih banyak jumlahnya dibanding dengan jumlah pekerjaan. 


Hal ini tidak terlepas dari penerapan sistem kapitalisme sekulerisme yang diterapkan pada hari ini baik ditingkat nasional maupun global.


Dengan meningkatnya jumlah  pengangguran  menunjukam bahwa sistem kapitalisme telah gagal.  Dalam menjamin kesejahteraan rakyatnya. Pasalnya dalam sistem ini negara yang semestinya bertidak dalam mengurusi kepentingan rakyatnya. Tetapi negara hanyalah bertindak sebagai regulator yang mementingkan korporat.  Negara telah abai terhadap tanggung jawab utamanya. Termasuk dalam hal penyediaan lapangan kerja.  Negara malah menyerahkan tanggung jawab membuka lapangan kerja pada pihak swasta/korporasi dengan membuka investasi sebesar-besarnya dan pengelolaan sumber daya alam (SDA) kepada swasta.


Apalagi dengan banyaknya regulasi yang condong pada korporasi multinasional. Seperti UU Cipta Kerja, beban pajak yang tinggi serta kebijakan terkait impor yang kurang berpihak pada produk dalam negeri. Akibatnya terjadi ketimpangan antara jumlah angkatan kerja dan kesempatan kerja yang tak berbanding lurus. Padahal dengan pengangguran massal mengakibatkan meningkatnya kriminalitas ditengah masyarakat. Seperti tindakan penipuan, pencurian bahkan sampai pembunuhan. Tidak sedikit anak-anak putus sekolah disebabkan biaya pendidikan yang sangat mahal. Disisi lain pendapatan orang tua menurun bahkan sama sekali tidak memiliki pendapatan.


Kedua, Ketidakcocokan antara pendidikan dan kebutuhan pasar kerja.

Ketidaksesuaian antara pendidikan dan pekerjaan di Indonesia menjadi tantangan signifikan dalam dunia kerja. Sehingga meningkatkan angka pengangguran dan kesulitan ekonomi. 


Salah satu penyebab utama ketidakcocokan ini adalah kurangnya komunikasi antara industri dan lembaga pendidikan. Akibatnya kurikulum pendidiakan tidak relevan dengan kebutuhan pasar kerja.

Ditambah kurangnya keterampilan praktik juga menjadi masalah besar dalam pendidikan saat ini.


 Pendidikan yang terlalu fokus pada teori dan tidak membekali siswa. Dengan keterampilan praktik yang dibutuhkan oleh industri.  Akibatnya lulusan tidak siap untuk memasuki dunia kerja.


 Selain itu, perubahan teknologi yang cepat juga dapat menyebabkan kurikulum pendidikan menjadi tidak relevan dan tidak membekali siswa dengan keterampilan yang dibutuhkan.

Kendati demikian, demi memenuhi kebutuhannya banyak sarjana yang akhirnya terpaksa bekerja di sektor informal. Sebagai supir, pramukantor, pengasuh bayi dan pembantu rumah tangga cukup menjadi bukti bahwa masalah utamanya bukan soal skill dan rendahnya daya juang. Melainkan lapangan pekerjaannya memang tidak ada. Kalaupun pekerjaan itu ada, tetapi jumlahnya  tidak berimbang dibandingkan dengan jumlah tenaga kerja yang ada.


Ketiga, Ekonomi yang tidak stabil.Ekonomi yang tidak stabil dapat mempengaruhi kesejahteraan masyarakat dan negara secara keseluruhan. Masyarakat mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar. Seperti makanan, pakaian dan perumahan. Negara juga mengalami kesulitan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


 Ditambah dengan Krisis ekonomi, inflasi dan ketidakstabilan politik mendorong  pengangguran massal.

Sungguh jelas bahwa akar permasalahan utama terjadinya pengangguran massal karena penerapan sistem ekonomi kapitalisme . 


Dengan asasnya yang sekuler serta berfokus pada materi sebagai tolak ukur perbuatannya. Kapitalisme tidak akan mampu menyediakan kesempatan kerja yang layak dan merata bagi seluruh rakyat. Hal itu terjadi karena sistem kapitalisme memberikan kebebasan kepemilikan SDAE kepada swasta.

 Akibatnya megara tidak menjadi pengendali industrialisasi utama yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi rakyat. Ketika industri-industri itu ada di tangan swasta maka yang menjadi fokusnya bukan lagi kesejahteraan pekerja melainkan profit perusahaan. 


Perusahaan swasta akan lebih mudah melakukan PHK demi profit yang lebih banyak. Disisi lain, mereka akan bebas merekrut Tenaga Kerja Asing (TKA) yang tidak bisa dihentikan oleh pemerintah. Akhirnya, pengangguran makin marak dan tidak bisa dicegah oleh negara.


Ditambah ekonomi dalam kapitalisme meniscayakan  pada sektor nonriil. Selain hanya memperkaya pemilik modal, aktivits ekonomi nonriil ini juga tidak menciptakan lapangan pekerjaan secara nyata. Mirisnya negara hanya fokus pada pencapaian pada sektor nonriil tersebut, sedangkan sektor ekonomi rill seperti pertanian, perikanan dan industri berat yang berpontensi menyerap banyak tenaga kerja, akhirnya dipandang sebelah mata. Sementara itu, uang dianggap sebagai komoditas. Hal ini memunculkan aktivitas ekonomi nonriil, seperti bursa efek dan saham, perbankan sistem ribawi maupun asuransi. 


Padahal persoalan tentang skill pekerja, sebenarnya tergantung pada sistem pendidikan yang diterapkan. Jika basis pendidikannya keliru dan hanya fokus pada kemampuan kognitif  dan akademis dalam penerapan sistem saat ini. Wajar saja jika output yang dihasilkan kurang berkualitas. 


Terbukti dengan banyak lulusan sekolah dan  perguruan tinggi yang kurang kreatif dan inovatif.  Tidak jarang bersaing dengan produk dan inovasi dari luar negeri. Alih-alih berinovasi membuat produk yang lebih bersaing, mereka justru mencukupkan diri sebagai pemakai. Pada akhirnya, bukan lapangan kerja yang dibuka. Tetapi menyediakan lahan subur bagi pasar produk-produk asing.


Solusi Islam


Berbeda dengan Islam. Islam sebagai agama dan seperangkat aturan dalam segala aspek kehidupan. Mampu memecahkan problem pengangguran massal.


 Islam memiliki sistem ekonomi terbaik untuk menjaga kestabilan ekonomi dunia. Dalam islam, negara adalah raa’in (pengurus rakyat). Sehingga, dalam penerapan sistem islam negara tidak berlepas tangan dalam menjamin kesejahteraan rakyatnya dengan  membuka lapangan pekerjaan.


Negara akan menerapkan sistem ekonomi Islam yang mampu membuka lapangan kerja bagi rakyat secara memadai. Negara akan melakukan pengelolaan SDA secara mandiri dan haram diserahkan kepada swasta apalagi asing.

Sumber daya yang tergolong kepemilikan umum, seperti tambang dan energy, akan dikelola langsung oleh negara demi kemaslahatan umat. Kebijakan ini memungkinkan negara membuka sektor industri dalam jumlah besar dan menyerap tenaga kerja secara optimal.Negara juga akan mengembangkan berbagai industri yang berkaitan dengan kepemilikan umum, sekaligus menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya sumber daya manusia unggul bukan hanya sekedar buruh murah dalam sistem kapitalisme global.


Disamping itu Islam mensyariatkan laki-laki atau kepala keluarga untuk mencari nafkah, maka tentu saja untuk menjalankan syariat ini harus ada lapangan pekerjaan yang akan menunjang kewajiban tersebut. Oleh sebab itu negara sebagai raa’in yang harus terus-menerus menyediakan lapangan pekerjaan di berbagai sektor khususnya di bidang ekonomi rill yang fokus pada produksi barang dan jasa secara langsung, seperti pertanian, industri, dan layanan.


Inilah bentuk nyata tanggung jawab negara dalam menciptakan keadilan sosial, termasuk dalam sektor ketenagakerjaan. Tidak akan pernah dapat diwujudkan dalam sistem kapitalisme yang serba liberal dan oportunistik.

Disisi lain, tidak boleh sama sekali mengembangkan bahkan melirik sektor nonriil karena selain haram, sektor ini juga menyebabkan beredarnya uang hanya diantara orang kaya serta menyebabkan ekonomi labil. Penerapan syariat islam secara keseluruhan oleh negara akan menciptakan iklim investasi dan usaha yang sehat dan bertumbuh karena ditopang oleh birokrasi yang bebas pajak. Dengan begitu, pengangguran tidak akan mendapatkan tempat didalam sistem ini.

Pengangguran telah menjadi masalah sistematis yang lahir dari penerapan sistem kehidupan yang rusak dan merusak, yaitu sistem kapitalisme. 


Semua hanyalah mimpi jika kita masih berharap pada sistem ini. Tidak ada cara lain untuk mengatasi pengangguran kecuali dengan mencampakkan sistem kapitalisme, kemudian bersegera menerapkan sistem islam dalam kehidupan. Dengan demikian, ini menyadarkan kita bahwa tidak ada sistem yang bisa mensejahterakan umat selain dari sistem islam. Karena islam merupakan agama yang sempurna, mengatur segala aspek kehidupan.  Bukan hanya mengatur ibadah individu saja tetapi juga mengatur dalam bernegara.


Wallahu A'lam

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update