Oleh : Verry Verani
Berita-berita dari berbagai penjuru terus membahas Gaza. Salah satu yang menonjol datang dari pernyataan petinggi militer Israel. Menurut Aljazeera, pekan ini Israel mengirimkan puluhan ribu perintah mobilisasi pasukan cadangan. Tujuannya jelas yaitu memperluas agresi ke wilayah Gaza dan menghancurkan seluruh infrastruktur Hamas.
Pernyataan ini keluar sebelum kabinet keamanan Israel menggelar rapat untuk membahas arah perang selanjutnya. Perang yang dimulai sejak Oktober 2023 ini telah meratakan Gaza. Infrastruktur luluh lantak. Sistem kesehatan hancur. Lebih dari dua juta warga terusir dari rumah mereka.
Tekanan juga datang dari dalam Israel. Gerakan anti-perang tumbuh. Banyak tentara cadangan mulai menolak panggilan militer. Di sisi lain, kelompok kemanusiaan memperingatkan bencana kelaparan akibat blokade total sejak 2 Maret.
Namun, di tengah kritik dan tekanan, para pemimpin Israel justru makin brutal. Menteri Keamanan Nasional, Itamar Ben-Gvir, menyerukan pengeboman terhadap pasokan makanan dan listrik di Gaza. Ia menegaskan, perang harus ditingkatkan hingga kemenangan total diraih.
*Analisis Ideologis dan Geopolitik*
Pernyataan-pernyataan di atas menunjukkan tiga hal penting:
Pertama, Israel Panik, Barat Bangkrut Secara Moral
Seruan untuk “mengintensifkan perang” dan “menghancurkan infrastruktur” bukan tanda kekuatan. Justru sebaliknya, itu adalah tanda panik. Ketika kemenangan tak kunjung diraih, Israel memilih jalan brutal. Ini membuka wajah asli kolonialisme Zionis atas perbuatan kejam, tanpa batas moral.
Barat terus mendukung agresi ini. Meski tekanan publik makin kuat, dukungan struktural tetap diberikan. Ini menandakan bahwa Barat tidak sekadar membela Israel secara geopolitik, tetapi juga demi menjaga hegemoninya dari ancaman ideologis Islam.
Kedua, Perlawanan Gaza Membakar Kesadaran Umat
Walau Israel mengerahkan segala kekuatan, semangat perlawanan Gaza tak padam. Bahkan dalam blokade dan kehancuran, jihad terus hidup. Inilah yang ditakuti musuh-musuh Islam. Bukan roket, tapi kesadaran akidah yang membangkitkan keberanian.
Kini, dari Gaza, jihad menjadi pemantik kesadaran umat. Aksi solidaritas, tuntutan pengiriman pasukan, hingga seruan khilafah bermunculan di mana-mana. Rudal tidak bisa memadamkan arus kebangkitan ini.
Ketiga, Ketakutan Barat Terhadap Khilafah Kian Nyata
Narasi “pembebasan sandera” atau “mengalahkan terorisme” adalah topeng.
Di balik itu, ada ketakutan besar mereka terhadap bangkitnya kekuatan adidaya khilafah.
Barat faham, jika umat ini kembali bersatu di bawah satu naungan Agung khilafah dan dipimpin oleh kepemimpinan sistem islam kaffah, maka cengkeraman mereka atas negeri- negeri kaum muslimin akan hancur.
Gaza menjadi titik balik. Bukan sekadar konflik, tapi medan perang ideologis.
Barat sadar, proyek sekularisasi Islam telah gagal. Maka mereka membabi buta. Brutal. Frontal. Berusaha keras mencegah kembalinya kejayaan Islam.
*Fajar Itu Mulai Menyingsing*
Kebrutalan Israel menunjukkan kegagalan Barat menjaga citra kemanusiaannya. Dunia menyaksikan kemunafikan peradaban Barat. Di saat yang sama, umat mulai sadar bahwa hanya Islam, dalam sistem khilafah yang dapat membebaskan mereka.
Aksi bela Palestina makin meluas. Konferensi --
konferensi internasional menyerukan jihad dan penegakan khilafah. Solidaritas tak lagi bersifat emosional, tapi mulai menuju kesadaran ideologis.
Selama satu abad, Barat berusaha menghalangi kebangkitan ini. Penjajahan, liberalisasi, moderasi Islam dan lain sebagainya.
"Mereka (kaum kafir) hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah menolaknya, malah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai." [ At-Taubah : 32]
Allah berkehendak derita rakyat Palestina justru menyadarkan umat.
Siapa yang lebih unggul makarnya ? Pada akhirnya solusi hakiki ada pada syariat Islam yang diterapkan secara kaffah dalam naungan khilafah.
Wallahua'alam.[]

No comments:
Post a Comment