Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Gaza Dilanda Kelaparan, Akankah Terus Dibiarkan?

Tuesday, May 13, 2025 | Tuesday, May 13, 2025 WIB Last Updated 2025-05-13T11:41:37Z




Oleh Umi Lia


Member Akademi Menulis Kreatif


Kondisi Gaza makin mengerikan. Stok bahan pangan sudah tidak lagi tersedia, yang ada hanya pasta dan nasi yang jumlahnya sangat sedikit. Tidak mampu mencukupi meski hanya untuk setengah jumlah penduduk. Situasi makin bertambah pelik tatkala satu-satunya pabrik roti yang masih berdiri dibom oleh Zionis. Bahan makanan yang ada di pasar pun harganya sangat tinggi dan persediaannya hampir habis. Dapur-dapur umum sudah tidak bisa beroperasi karena kehabisan bahan mentah.


Program Pangan Dunia (WFP) memyatakan bahwa stok makanan mereka di Jalur Gaza telah habis. Blokade ketat yang telah berlangsung sejak 2 Maret 2025 oleh Zionis membuat ratusan ribu warga Palestina kehilangan sumber makanan utama mereka. Dalam pernyataan resminya, lembaga dunia ini menyebut bantuan terakhir telah disalurkan ke dapur umum yang mereka dukung di berbagai wilayah Gaza. Dapur-dapur tersebut diperkirakan akan berhenti beroperasi dalam beberapa hari ke depan. Menurut organisasi ini, hanya dapur umum yang konsisten memberi bantuan pada orang-orang selama beberapa pekan ini. Itu pun hanya bisa memenuhi 25% dari kebutuhan makanan sehari-hari untuk setengah populasi. (Antaranews.com, 26/4/2025)


Selama ini penguasa Arab di sekitarnya dan dunia pada umumnya hanya sekedar menyaksikan kekejaman ini. Dukungan untuk Palestina telah datang dari penjuru dunia lewat aksi-aksi yang terus bergaung di berbagai negara muslim dan kafir. Namun Zionis tetap tidak bergeming. Padahal jumlah mereka hanya 9,4 juta jiwa, sedikit bila dibandingkan 2,02 miliar umat Islam. Badan-badan dunia termasuk PBB dan negara-negara yang berpenduduk mayoritas muslim tidak ada keseriusan untuk menghentikannya.


Dalam kondisi demikian maka umat Islamlah yang seharusnya paling bertanggungjawab untuk menyelamatkannya dari kelaparan. Terlebih negeri-negeri lslam yang berdekatan, kalau mereka tidak mampu, negeri muslim lain yang berjarak agak jauh harus ikut pula membantunya. Jika ternyata juga tidak mampu maka seluruh negeri-negeri Islam harus bahu-membahu membantunya. Jika bantuan sulit sampai karena dihadang militer zionis, maka bantuan yang paling mendesak adalah bantuan militer sebelum yang lainnya. Allah Swt. dan RasulNya sudah mempersaudarakan orang yang berakidah Islam di manapun mereka berada. 


Negeri-negeri Islam mesti menyadari bahwa keberadaan lembaga dunia seperti PBB tidak bisa diharapkan, karena posisinya sejalan dengan kepentingan AS dan negara-negara Barat. Awal kemunculannya pun untuk mewadahi negara-negara kristen yang terlibat perang dunia ke satu. Keanggotaannya terus  diperluas untuk memperkuat pengaruh Amerika dan sekutunya. Prinsip-prinsip Kristen dipertahankan sehingga menjadi undang-undang internasional dan asas peraturan dunia. Dengan kata lain sekarang, negara-negara Nasrani atau negara sekuler kapitalis lah yang melakukan hegemoni terhadap populasi manusia seluruh dunia. 


Kejahatan Zionis hanya bisa dihentikan dengan jihad, sebagaimana perintah Allah dalam QS. al-Baqarah ayat 190:

"Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu dan janganlah melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."


Syariat di atas tak pernah digubris oleh negeri muslim manapun. Penguasanya justru berkhianat pada umat Islam khususnya di Palestina. Mereka tidak mengarahkan moncong senjatanya dan tidak menggerakkan militer yang dimiliki untuk melawan bangsa Zionis. Padahal mereka memiliki pasukan yang sangat kuat. Alih-alih mengerahkan jihad, mereka justru sibuk dengan berbagai diskusi dan diplomatik usang. Sungguh solusi tuntas untuk mengusir penjajah entitas Yahudi membutuhkan upaya untuk mengakhiri pengkhianatan yaitu persatuan umat dalam naungan khilafah.


Khilafah adalah kepemimpinan umum untuk seluruh kaum muslim. Sebagai junah/perisai untuk membela tanah kaum muslim, menjaga kemuliaan Islam dan umat khususnya di Gaza. Pemimpinnya disebut khalifah, yang diangkat untuk menerapkan syariat Allah secara menyeluruh. Keadilan dan kesejahteraan akan terwujud, karena itu merupakan konsekuensi dari penerapan hukum Sang Pencipta alam semesta.


Refleksi peran junah khilafah bisa dilihat dari bagaimana sikap Sultan Salahudin al-Ayubi yang merebut kembali tanah Palestina dari tentara Salib. Beliau tidak bertemu dengan paus untuk menetapkan solusi bagi Baitul Maqdis, tapi langsung ketemu dengan pasukan Kristen di perang Hitin. Mengalahkannya dan mencabut kerajaan Nasrani ini di semua negeri muslim. Selain itu peran junah seorang pemimpin dapat dilihat ketika Rasul yang kala itu menjadi kepala negara di Madinah mengusir Yahudi Bani Qainuqa karena telah melanggar perjanjian.


Pengusiran terjadi karena seorang laki-laki Yahudi membunuh seorang muslim yang membela muslimah yang diganggu orang bani Qainuqa. Perbuatan Rasul ini mencerminkan posisi negara Islam melindungi jiwa dan kehormatan warga negaranya. Jadi jika ada khilafah, warga Gaza tidak akan mengalami kelaparan ekstreme seperti saat ini, bahkan mereka tidak akan merasakan penjajahan. Karena sedari awal Zionis menyerang akan ditumpas habis oleh khilafah.


Dengan demikian telah jelas bahwa Palestina hanya bisa diselamatkan dengan jihad dan khilafah. Karena itu umat harus berjuang untuk mewujudkannya. Apalagi menegakkannya adalah fardu kifayah bagi kaum muslim. Konsekuensinya bila pemerintahan yang islami ini belum tegak seperti hari ini maka seluruh kaum muslim wajib berjuang menegakkannya. Ulama pun sudah mengatakan bahwa negara yang menerapkan syariat ini sebagai tajul furudl atau mahkota kewajiban. Kembalinya kekuasaan Islam ini adalah bisyarah/kabar gembira di Rasulullah saw.


Perjuangan menegakkan khilafah mutlak membutuhkan dakwah yang diusung oleh jamaah yang menyerukan jihad dan tegakknya khilafah. Itulah kelompok yang bersifat ideologis dan mengikuti metode Rasulullah saw. Maka tidak ada alasan lagi bagi kaum muslim yang peduli Palestina untuk tidak memperjuangkan kepemimpinam Islam bersama mereka.

Wallahu a'lam bish shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update