Oleh Ainun Afifah
Persoalan palestina hingga hari ini masih terus membara. Terhitung sudah lebih dari 15 bulan kebrutalan Israel menyerang gaza dengan total korban sejak 7 oktober 2023 mencapai 52.615 juta jiwa. Serangan demi serangan terus dilakukan dan umat muslim bagai dipasung tak bisa berbuat banyak.
Keadaan Gaza
“Gaza benar-benar menghembuskan nafas terakhirnya. Kami tidak akan mengganggu kalian lagi dengan kabar dari kami. Ini hanya tinggal menghitung hari dan semua akan gugur menjadi syuhada” (Mustafa Darwesh, Guru di Gaza)
Kita dipertontonkan secara vulgar orkestra genosida terbesar di dunia abad ini. Situasi di Gaza telah melampaui batas bencana. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan menyatakan gudang makanan mereka kosong, dengan seluruh penduduk Gaza membutuhkan bantuan pangan. Ratusan ribu ton makanan tertahan di penyeberangan karena blokade Israel. Sistem kesehatan Gaza berada di ambang kehancuran total. Kurangnya obat-obatan akibat blokade Israel, yang meningkatkan banyak pasien mati, terutama anak-anak. Rumah sakit akan tutup dalam hitungan hari tanpa pasokan bahan bakar. (Aljazeera-1, 9/5/25)
Ketakutan Menggerogoti Barat
Kondisi memprihatinkan gaza tersebut membuat aksi bela Palestina dan konferensi-konferensi soal Gaza makin masif di berbagai tempat dengan tuntutan pengiriman tentara (jihad) dan khilafah. Tidak hanya pada negeri muslim, Menteri Luar Negeri Spanyol pun menyerukan suara Eropa yang lebih lantang menentang situasi di Gaza.
Seruan jihad dan penegakan khilafah yang masif akhir-akhir ini menjadi pukulan telak bagi barat. Kebangkitan Islam menjadi momok yang menakutkan bagi mereka. Baik dulu maupun sekarang. Barat dan para sekutunya sadar betul bahwa keberadaan pasukan Islam yang dimobilisasi Khilafah dipastikan akan menghancurkan mimpi-mimpi mereka tentang Timur Tengah Baru dan Tata Dunia Baru.
Oleh sebab itulah, Amerika sampai merancang skenario jahat yang dikenal dengan peristiwa serangan gedung WTC pada 11 September 2001 di Washington DC. Peristiwa ini kemudian menjadi starting point bagi dimulainya proyek global melawan terorisme yang tidak lain merupakan proyek global menghalangi kebangkitan Khilafah Islam.
Ketakutan Barat akan Khilafah ini tampak pula dari berbagai pernyataan para pemimpin negara-negara Barat yang secara gamblang menunjukkan kekhawatirannya akan penyebaran ideologi Islam dan gagasan Khilafah.
Presiden Rusia Vladimir Putin, misalnya, pada November 2002, saat KTT Rusia-Uni Eropa ke-10 di Brussels, menyatakan, “Ngomong-ngomong, saya ingin Anda mencatat bahwa pembentukan kekhalifahan di wilayah Federasi Rusia hanyalah bagian pertama dari rencana mereka. Sebenarnya, jika Anda mengikuti perkembangan di bidang itu, Anda harus tahu bahwa kaum radikal memiliki tujuan yang jauh lebih ambisius. Mereka berbicara tentang pembentukan kekhalifahan dunia.”
Renungan bagi Umat Islam
Fakta bahwa begitu takutnya barat akan kebangkitan Islam membuktikan bahwa jihad dan Khilafah adalah solusi realistis bagi problem Gaza Palestina, bahkan bukan hanya bagi Palestina melainkan bagi seluruh permasalahn negeri kaum muslim yang berada neoimprealisme barat.
Hal ini harus menjadi renungan dan refleksi bagi umat sejauh mana sumbangsih kita dalam mendakwahkan penegakan Khilafah? Saat musuh terus menggiring opini menakuti dunia dengan framing negatif mengenai Khilafah, umat Islam justru turut mengambil peran dalam menguatkan opini tentang kemestian menegakkan Khilafah. Mereka bahkan dituntut oleh syariat untuk bersungguh-sungguh menyegerakan tegaknya Khilafah sebagai bentuk tanggung jawab mereka menolong saudaranya seakidah, umat Islam Palestina, terkhusus Gaza.
Sungguh, perjuangan penegakan Khilafah adalah perjuangan yang sangat mulia, Allah telah menjanjikan pahala yang besar bagi para pengembannya sebagaimana pahala yang diperoleh para sahabat. Sungguh, umat merindukan hidup dibawah naungan Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
_Wallahu’alam bishowab._

No comments:
Post a Comment