Oleh : Dewi
Aktivis muslimah Deli Serdang
Donald Trump melalui jubirnya pernah membuat usulan agar seluruh warga Gaza-Palestina direlokasi ke berbagai negara termasuk Indonesia. Alasannya agar rekonstruksi Gaza-Palestina pasca perang bisa segera dilaksanakan dengan baik, cepat dan tepat sasaran. Sekilas memang terdengar manis ide dari penguasa USA ini di telinga para sekutu juga jongos-jongosnya. Tapi tidak di pendengaran orang-orang yang berakal panjang dan bertentangan dengan USA. Statement Trump tersebut bermakna pengusiran halus warga Gaza-Palestina dari tanahnya dibalik nama sosial kemanusiaan.
Beberapa jam setelah menyebar luas pernyataan dan ide Trump di berbagai media berita dunia, banyak negara-negara muslim termasuk Indonesia yang menentang ide Trump itu. Bahkan Presiden Prabowo melalui jubir kementerian LN Indonesia menyatakan penolakan ide tersebut dan justru menyerukan agar seluruh negara yang anti penjajahan untuk mengirimkan bantuan militer dan persenjataan perang selain bantuan kemanusiaan lainnya.
*Presiden Kok Gitu sih..*
Banyaknya penolakan dan penentangan dari berbagai pihak atas ide Trump, rupanya membuat USA cukup risau. Tidak berhasil mendapatkan respon positif dari seluruh negara, Trump mulai meluncurkan ancaman halus. USA akan menaikan tarif import untuk semua negara yang mempunyai hubungan bisnis dan kerjasana bilateral atau multilateral. Mendengar pernyataan ini rupanya pemerintah Indonesia ketar-ketir hingga berubah haluan sebab kegamangan.
Sebagai pemimpin tertinggi negara seharusnya Prabowo harus bersikap tegas menolak segala bentuk intimidasi negara lain. Indonesia bukanlah negara miskin hingga harus bergantung pada keputusan/ketetapan negara lain untuk menentukan kehidupannya. Bukannya keder hanya karena ancaman kenaikan tarif import yang dibuat sepihak oleh USA. Presiden kok gitu amat sih, bukannya takut pada pemegang hukum tertinggi yaitu Allah SWT malah takut sama musuh-musuh Allah yang jelas-jelas sudah melakukan banyak kelaliman dan pelanggaran hukum-hukum kehidupan, bermasyarakat dan bernegara. Akibat ketergantungan hutang pada dua negara adidaya USA dan China, sejak era pemerintahan Jokowi cs, Indonesia benar-benar kehilangan jati diri selain gelap dan suram masa depannya. Ex negara Macan Asia ini, tak ubahnya domba yang linglung yang tidak punya karakter apalagi wibawa baik dalam berpikir juga bersikap. Selalu plintat-plintut presidennya sejak reformasi digaun-gaungkan.
*Pertahankan Gaza-Palestina dengan jihad bukan dengan siasat barat*
"Kami tidak butuh belas kasihan. Kami minta pada kalian semua seluruh pemimpin-pemimpin negeri Islam untuk mengirimkan tentara-tentara terbaik kalian untuk berperang di sini. Melawan dan mengusir para penjajah, musuh-musuh Allah. Kirimkan tentara dan persenjataan terbaik kalian semua untuk berjihad, mempertahankan tanah suci ini, menjaga tempat ibadah para nabi (Baitul Maqdis) hingga nyawa terlepas dari raga. Kami tidak butuh belas kasihan, kami butuh pembelaan kalian untuk ikut berjihad bukan tunduk dalam siasat barat. Setiap jengkal tanah Palestina. Setiap titik debu Gaza adalah milik kami dan kalian semua, umat Islam. Jadi mengapa kami harus pergi dari sini. Kami lahir di sini dan juga akan mati di sini mempertahankan tanah suci ini. Bila kalian tidak mau atau tidak mampu berjuang bersama kami maka jangan sekali-kali berkhianat pada kami dengan tunduk pada semua peraturan-peraturan yang dibuat dunia barat. Kelak kami akan bersaksi di hadapan Allah dan Rasulullah bahwa kalian semua para pemimpin dan orang-orang muslim yang mengabaikan juga mengkhianti kami agar tidak diberikan syafaat di yaumil hisab."
Penggalan-penggalan kalimat di atas kerap berseliweran di beranda-beranda berbagai media sosial. Bukan sekedar kalimat ajakan, permintaan seruan tapi juga peringatan keras kepada seluruh umat Islam. Namun semua itu tak diindahkan. Ketakutan pada kekuasaan kapitalis nyatanya lebih dominan menjerat jiwa-jiwa para pemimpin negeri-negeri Islam. Sikap nasionalisme dan isme-isme lainnya lebih kuat mengikat dan mencengkeram jiwa-jiwa umat Islam saat ini. Daripada kehilangan kepercayaan dan kesempatan juga profit yang dihembuskan para kafir barat dan sekutunya, nyata pemimpin negeri-negeri Islam sanggup menjual keimanan dengan suka rela atas nama bangsa, rakyat dan negara walau harus mengkhianati Allah dan Rasulullah. Dan miris kenyataan, apapun kebijakan pemimpin Indonesia saat ini selalu berujung merepotkan juga menyengsarakan rakyat. Tidak terkecuali pernyataan setuju Prabowo Subiyakto untuk menerima evakuasi seribu warga Gaza yang jelas-jelas tidak akan memberikan dampak kebaikan apapun untuk warga Gaza juga Indonesia sendiri. Menerima evakuasi warga Gaza sama artinya mendukung para penjajah untuk bebas menyingkirkan seluruh warga Gaza dengan cara yang mudah dan praktis. Wilayah yang terkenal paling alot dan kokoh perlawanan dan pertahanannya itu seketika akan sirna bila rencana evakuasi Donald Trump diloloskan. Dan keputusan Presiden Prabowo ini juga sangat bertentangan dengan hukum-hukum internasional tentang pasca perang. Dimana warga tidak boleh dievakuasi secara besar-besaran ke negara lain walau untuk sementara. Apapun keadaan suatu wilayah pasca perang, penduduk aslinya harus tetap ada di tempat. Dan bilapun harus dievakuasi hanya boleh ke negara paling dekat, misalnya Mesir, Yordania yang tercatat sebagai negara tetangga paling dekat dengan Palestina.
Dampak lain yang lebih serius jelas akan muncul bila sampai warga Gaza diterima di Indonesia atau negara lainnya. Hujatan juga hilangnya kepercayaan negara-negara lain untuk menjalin kerjasama dengan Indonesia di ambang mata. Dan yang pasti kepercayaan sebagian besar rakyat Indonsia yang anti penjajahan dan zionis akan hilang kepada Prabowo. Rakyat saat ini sudah jengah dan masih bisa bersabar terhadap setiap kebijakan yang menyunat segala kepentingannya namun jika dukungan kepada Palestina agar tetap mempertahankan dan bertahan di tanah airnya dikoyak-koyak dengan label evakuasi, jelas ini akan mengundang kegaduhan dan protes besar-besaran sebagian besar umat Islam di negara ini. Mulai dari awal terbit ide Trump di berbagai sumber berita duni dan laman-laman sosial media, warga Indonesia dan negara lainnya membuat cuitan yang sama persis; " Seharusnya kaum kera Israel yang direlokasi, kan mereka yang gak punya tempat tinggal. Sekalian si Trump dan konco-konconya dievakuasi ke neraka."
*Jihad dan Khilafah, Satu-satunya Solusi untuk Palestina dan Semua Permasalahan Umat Islam*
Para ulama menyerukan agar seluruh pemimpin negeri-negeri muslim mengirimkan tentara-tentaranya ke Gaza-Palestina. Namun semua seolah lindap tanpa hirau. Para pemimpin negara-negara Islam seolah tuli atas seruan itu. Sebagian dari mereka berpikir Palestina bukanlah sebuah negara sebab tidak tetmaktub di peta dunia saat ini. Gaza hanyalah sebuah kampung atau kota kecil yang cepat atau lambat pasti tergerus dan hilang oleh berputarnya zaman. Mengurusi negara sendiri lebih baik daripada mengurusi negeri orang lain. Bila PBB saja tidak bisa menyelesaikan apalagi negara yang terpeta-peta. Mereka punya Hamas yang berjuang jadi biar saja. Cukuplah kita membantu secukupnya. Itulah pemikiran para pemangku jabatan-jabatan di negara-negara muslim saat ini. Sama sekali tidak ada upaya dan kepedulian yang tulus dari mereka. Padahal solusi untuk Palestina bisa dilaksanakan asalkan pola pikir dan sikap para pemimpin diubah. Tidak mengagung-agungkan nasionalisme, menyingkirkan ego dan sadar kewajiban sebagai umat Islam bisa menjadi langkah awal untuk mencapai kesatuan dan persatuan pemikiran umat untuk membebaskan Palestina. Seharusnya mereka mencontoh Khalifah Umar bin Khattab dan Sultan Salahuddin Al Ayubbi yang mampu membebaskan Tanah Palestina karena pola pikir dan sikap mereka yang tegas terhadap para kafir dan penjajah namun tunduk dan takut pada semua hukum-hukum Allah yang tertulis dalam Al Qur'an. Membela dan memperjuangkan Tanah Palestina adalah kewajiban seluruh umat Islam, sebab itu adalah salah satu perintah Allah yang pernah disabdakan Baginda Nabi Muhammad SAW.
Solusi damai dua negara, gencatan senjata, apapun bentuk upaya perdamaian yang diterbitkan PBB tidak akan pernah memberikan efek apapun justru akan terus memunculkan persengkongkolan-persekongkolan baru yang lebih ganas dan brutal penjajah untuk melenyapkan warga Gaza-Palestina.
Tidak penyelesaian yang valid dan hakiki selain menegakan kembali hukum-hukum syara' Allah dalam sistem kepemimpinan Daulah Islamiyah. Negara harus dilawan dengan negara, begitulah seharusnya hukum yang diterapkan untuk membebaskan Gaza-Palestina. Negara kafir penjajah seperti USA dan sekutunya hanya bisa ditandingi oleh negara Adidaya Khilafah Islamiyah. Dan sejarah sudah mencatat fakta tersebut sejak ratusan abad silam. Tegakan kembali Khilafah niscaya semua permasalahan dan kezaliman terhadap umat Islam di seluruh dunia akan terselesaikan.
#Save_Palestine
#Free_Palestine with Khilafah.
Wallahu bissowa'ab.

No comments:
Post a Comment