MasyaAllah, musim haji telah datang. Para jamaah haji berbondong-bondong memenuhi panggilan Allah SWT menuju Baitullah. Betapa haji merupakan aktivitas yang mulia, oleh karena esensi haji adalah Ibadah dalam meraih ketaatan dan ketundukan terhadap seluruh syari'ah-Nya.Tidak hanya itu,esensi dari Ibadah haji adalah untuk menyatukan kaum muslimin dari berbagai belahan dunia,mulai dari suku,ras dan madzhab yang berbeda.Dan esensi yang paling utama adalah untuk meraih persatuan umat demi kebangkitan Islam. Akan tetapi, menjadi sebuah ironi bahwasannya aktivitas tersebut saat ini lebih kepada rutinitas tahunan untuk memenuhi kehausan spiritual.Itu dilihat dari sisi individu. Adapun dari sisi kelompok penyelenggara haji apalagi resmi dari negara,Haji malah dijadikan sebagai ladang bisnis yang menggiurkan,tersebab dalam ruang hidup saat ini yang apapun disandarkan pada materi,setiap apapun yang mendatangkan keuntungan maka dibaca sebagai ladang bisnis.Padahal tidak semua nilai perbuatan harus diukur dengan nilai materi,akan tetapi harus dikembalikan kepada nilai aktivitas yang dilakukan.Jika aktivitas itu kaitannya dengan amal ibadah,maka harus dikembalikan kepada nilai ruhiyah yang padanya tidak boleh dipergunakan untuk mendapatkan manfaat duniawi.Selain itu, urgensi dari pelaksanaan Ibadah haji adalah untuk menyatukan seluruh perbedaan pendapat dari salah satu pengikut madzhab dan untuk mewujudkan jama'atul muslimin, yaitu melaksanakan syari'ah yang satu yakni syari'ah Islam.Mirisnya,tujuan agung tersebut juga seakan menguap ditelan hingar bingar bisnis untuk meraup keuntungan melimpah dari kuota perjalanan haji dan umroh.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pembimbing Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh (KBIHU) Nahdlatul Ulama (NU) Cilacap Ahmed Shoim El Amin yang akrab disapa Gus Shoim menyampaikan kronologi banyaknya jamaah haji tertinggal, terpisah, dan kopernya tertukar. Gus Shoim yang juga jamaah haji di kloter 8 SOC Solo mengatakan, pada 12 Mei 2025, kloter 8 SOC dijadwalkan didorong dari Madinah menuju Makkah. Ada hal yang sangat mengagetkan seluruh jamaah. Yaitu perubahan rombongan berbasis kloter yang sudah ditata dari Indonesia, berubah harus berbasis syarikah. Syarikah adalah penyelenggara ibadah haji dari swasta yang ditunjuk oleh pemerintah Arab Saudi.
Teralihkan dari agenda besar umat
Persatuan umat hari ini merupakan hal yang sangat urgen ditengah kondisi umat yang tercabik-cabik dengan ikatan nasionalisme. Gaza Palestina yang terus membara karena genosida yang dilakukan oleh Israel laknatullah belum bisa menggerakkan umat Islam sedunia untuk memiliki satu suara untuk membela rakyat Palestina dengan jihad fii sabilillah. Pemikiran umat justru teralihkan kepada hal-hal yang bersifat pragmatis, yakni terkait dengan tehnis maupun yang bersifat tauqifi. Pada akhirnya, kaum muslimin teralihkan dari agenda besar yang sesungguhnya, yaitu untuk mempersatukan pemikiran dan perasaan yang tunduk kepada hukum yang berasal dari Sang Pencipta. Dengan demikian, sudah selayaknya semua elemen umat Islam bermuhasabah untuk meluruskan pemahaman tentang esensi Ibadah haji, agar dapat memperoleh gelar haji mabrur/mabruroh.Begitu juga penguasa juga harus melakukan intropeksi diri, apakah selama ini yang mereka lakukan adalah sebagai pelayan umat, atau malah sibuk memperkaya diri dengan hasil korupsi dari dana haji.
Kapitalisme merusak paradigma
Diakui atau tidak, bahwasannya haji saat ini hanya merupakan aktivitas Ibadah ritual semata. Tatanan kehidupan yang dikendalikan oleh pemikiran sekuler telah mengalihkan perhatian penguasa maupun umat yang harusnya menjadikan makna Ibadah haji adalah jalan untuk meraih persatuan, melakukan muhasabah terhadap para penguasa wilayah untuk membahas perkara keumatan. Tidak hanya itu, sistem kapitalisme yang menuhankan materi memiliki andil besar mengalihkan fungsi negara dari menjadi pelayan masyarakat berubah paradigmanya sebagai ladang bisnis semata. Padahal Rasulullah SAW bersabda;
Artinya;"mam/khalifah adalah pemelihara (ra'i) dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya".(HR.Bukhari& Muslim)
Pengaturan Ibadah Haji dalam sistem Islam
Oleh karena Ibadah haji merupakan sebuah aktivitas yang bersifat wajib, maka negara Islam (khilafah) memiliki kewajiban untuk menyediakan seluruh fasilitas yang menunjang kemudahan dalam proses pemberangkatan hingga perpulangan para tamu Allah tersebut. Mengapa demikian? semua itu dikarenakan negara sebagai representasi dari penerapan hukum syari'ah, dan prinsip keberadaan negara khilafah adalah memberikan pelayanan yang cepat, mempermudah setiap urusan administratif dan sederhana dalam setiap aturan yang diberlakukan. Negara maupun kelompok penyelenggara haji juga tidak boleh mencari untung dan menjadikannya sebagai ladang bisnis. Dan hal ini telah terbukti secara historis,pada masa kekhilafahan Islam,yakni Khalifah Al-Mahdi memerintahkan untuk membangun istana-istana di jalur Makkah, kemudian Khalifah Harun ar-Rasyid memerintahkan untuk membangun tempat penyimpanan air, menggali sumur, membangun benteng di sepanjang jalur, menambah fasilitas untuk melayani jamaah haji dan musafir.Juga mengutip dari Ad-Daulah Al-Abbasiyyah karya Syaikh Muhammad al-KhudariBenson Bobrick dalam The Caliph's Splendor: Islam and the West in the Golden Age of Baghdad menuliskan, saat perjalanan haji, dia (Harun Al-Rasyid)) juga memberikan harta dalam jumlah sangat besar kepada penduduk Makkah dan Madinah, dua kota paling suci dalam Islam. Tidak lupa dia juga memberi kepada para jamaah haji yang miskin di sepanjang perjalanan.
Kesimpulan
Demikianlah, sungguh menakjubkan, ketika Islam dengan sistemnya berkuasa di muka bumi, maka esensi Ibadah haji akan kembali pada niat awalnya, yakni untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima, serta menjadi wasilah untuk meraih kemuliaan umat dengan meninggikan kalimat Allah di muka bumi ini.
WaAllahua'lam.
Penulis;Miratul Hasanah (Pemerhati masalah kebijakan publik)

No comments:
Post a Comment