Aktivis Dakwah
Salah satu aspek utama yang menjadi fokus pemerintah dalam pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dibeberapa kawasan daerah sekitar IKN salah satunya ialah terkait dengan ketahanan pangan. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Penajam Paser Utara Raup Muin menekankan pentingnya pembangunan Bendung Gerak Sungai Telake. Hal ini karena pembangunan bendung tersebut diharapkan dapat mewujudkan kedaulatan pangan di Kalimantan Timur, khususnya di Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Paser (PPU), serta menunjang kebutuhan pangan untuk kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) nantinya.
Pembangunan bendungan Talake ini seyogyanya telah lama direncanakan hingga saat ini kondisi lingkungan bendungan dan pembiayaan yang sangat tinggi masih menjadi permasalahan. Maka untuk mewujudkan wilayah dengan ketahanan pangan yang optimal akan terhambat. Apalagi di tengah kondisi ekonomi yang mengalami efisiensi anggaran dalam berbagai bidang. Termasuk bidang pertanian atau pangan tak luput dari efisiensi tersebut. Dengan Biaya operasional yang tidak sedikit maka wajar Pembangunan bendungan tersebut akan semakin terhambat dengan adanya efisiensi anggaran saat ini.
Bendungan memang merupakan salah satu komponen penting dalam sektor pertanian , Adanya bendungan Telake merupakan langkah yang baik tetapi belum menyentuh akar persoalan dari permasalahan yang lebih kompleks ini. Jika ditelisik pengairan dalam peningkatan produksi pangan adalah hal teknis yang penting, selain faktor-faktor lain. Misalnya minimnya ketersediaan benih unggul, penyerapan pupuk subsidi ditingkat petani dan keterbatasan SDM petani. Termasuk kebijakan terkait bidang pertanian yang hanya berfokus pada sebagian bidang tanpa surport sistem lain.
Mustahil wujudkan kedaulatan pangan dalam sistem saat ini selama politik pertanian yang diadopsi adalah sekulerisme. Pengaturan di bidang pertanian seolah hanya sebagai sebuah program dan terpisah dari sistem lainnya, termasuk pertanggungjawaban akhirat. Paradigma pemimpin sebagai pelayan masyarakat belum sepenuhnya terwujud karena negara hanya sebagai regulator. Pemerintah bahkan tak jarang abai terhadap persoalan tersebut, terlebih jika tidak ada keuntungan material yang akan mereka dapat. Semua hal dalam system kapitalisme sekulerisme yang hanya mengandalkan asa manfaat jelas akan mustahil mensejahterkan masyarakat.
Sejatinya, permasalahan pengelolaan pertanian pangan bersifat paradigmatis, bukan hanya teknis. Paradigma pengelolaan pangan saat ini berpijak pada cara pandang yang kapitalistik yang mana pertanian dan pangan hanya dilihat sebagai komoditas ekonomi dan tujuan pengelolaannya sebatas untuk mengejar pertumbuhan ekonomi. Paradigma batil inilah yang menyebabkan kapitalisasi pertanian dari hulu ke hilir untuk mengejar keuntungan yang sebesar-besarnya, sedangkan pemenuhan kemaslahatan rakyat tidaklah menjadi orientasi.
Sangat berbeda dengan Islam yang menetapkan paradigma dasar yang unik terkait pangan dan kewajiban pemenuhannya. Dalam Islam, pangan bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan kebutuhan pokok yang menjadi hak bagi seluruh rakyat. Oleh karena itu, pemenuhannya pada seluruh individu rakyat merupakan tanggung jawab yang harus ditunaikan. Berdasarkan paradigma ini, maka tanggung jawab pengurusan pangan berada di pundak pemerintah dan tidak boleh diserahkan kepada pihak lain, apalagi korporasi. Ini karena negara/pemerintahlah yang bertanggung jawab mengurusi semua kebutuhan rakyat.
Pada periode keemasannya, ilmuwan Muslim sudah mahir dalam pembangunan bendungan. Selain untuk mengatasi banjir, pada masa itu bendungan dibangun untuk mengairi area persawahan dan perkebunan. Keberadaan sejumlah bendungan membuat masya rakat Muslim pada masa itu tak mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan air bersih.
Salah satu bukti untuk menunjukkan keberhasilanperadaban Islam dalam pembangunan bendungan bisa dilihat di Tunisia. Di negara itu terdapat waduk irigasi penting yang terletak sekitar 100 kilometer dari gerbang utara Kota Qayrawan.
Oleh karena itu, sewajarnya jika umat Islam merindukan kehidupan Islam di tengah mereka. Sebabnya, kembalinya kehidupan Islam tidak hanya akan menyelesaikan masalah ketahanan pangan, melainkan juga akan menyelesaikan masalah-masalah yang lain.
Wallahu’alam bissawab

No comments:
Post a Comment