Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

AKAR MASALAH PREMANISME DAN SOLUSINYA

Friday, May 16, 2025 | Friday, May 16, 2025 WIB Last Updated 2025-05-16T06:40:35Z
AKAR MASALAH PREMANISME DAN SOLUSINYA

Penulis; Miratul Hasanah 

(Pemerhati masalah kebijakan publik)


Keadilan dan kesejahteraan merupakan impian bagi semua orang, yang dari situlah akan melahirkan rasa aman dan tentram dalam sebuah masyarakat dan bernegara. Pemerataan kemakmuran juga menjadi esensi penting untuk membangun institusi negara yang maju dan berperadaban. Hal inilah yang saat ini sangat sulit ditemui di negri ini ,bahkan catatan Bank Dunia lebih dari separuh orang Indonesia masuk kategori miskin,bahkan miskin akut. Tingkat kemiskinan Indonesia termasuk tinggi jika dibandingkan dengan beberapa negara ASEAN. Berdasarkan jumlahnya, penduduk miskin di Indonesia bertambah dari 171,4 juta pada 2023 menjadi 171,8 juta orang pada 2024.

Sungguh miris kondisi rakyat Indonesia.Dengan sumber daya alam yang melimpah, ternyata tidak berkorelasi dengan kesejahteraan yang diberikan. Justru sebaliknya, angka PHK semakin tinggi. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mencatat ada 73.992 pekerja yang terdampak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepanjang 1 Januari 2025 sampai 10 Maret 2025.Hal tersebut  berimplikasi pada meningkatnya jumlah pengangguran yang signifikan serta menimbulkan dampak yang mengkhawatirkan, yakni semakin banyaknya premanisme berkedok Ormas yang telah banyak menimbulkan keresahan dan ketakutan ditengah masyarakat. 

Dilansir dari TEMPO.CO, Jakarta - Pedagang kaki lima di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, menceritakan praktik premanisme berkedok organisasi kemasyarakatan (ormas) yang sudah terjadi puluhan tahun. Anggota ormas ini diduga memaksa pedagang menyetor uang sebagai biaya sewa lapak dan jaminan tidak ditertibkan pihak berwenang. Bahkan,saat menjelang Idul Fitri, praktik pemalakan tunjangan hari raya (THR) oleh oknum Ormas kembali marak dan meresahkan masyarakat. Dengan berbagai dalih, seperti meminta sumbangan sukarela atau tradisi tahunan, juga meminta THR secara paksa, baik kepada pelaku usaha maupun warga biasa. 


Premanisme bertaut erat dengan sekulerisme liberal


Tidak dipungkiri, bahwasannya setiap amal perbuatan tergantung pada mafhum yang terbentuk dari suatu sistem kehidupan yang melingkupinya. Hari ini, tatanan kehidupan sekuler, yakni memisahkan agama dari kehidupan telah merenggut naluri beragama yang sejatinya memerintahkan manusia terutama umat muslim untuk tidak hanya mencukupkan diri  untuk taat dan patuh dalam perkara ibadah ritual semata, akan tetapi mengambil seluruh apa-apa yang menjadi kewajiban beban syari'at dan meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh-Nya.Sekulerisme juga telah melahirkan gaya hidup bebas/liberal dan sudah mendarah daging menghinggapi kehidupan masyarakat milenial maupun zilenial,sehingga terbentuk cara pandang pragmatis. Yaitu ketika mereka menginginkan sesuatu, sementara beban ekonomi kian menghimpit,maka segala cara akan diterjang,dengan dilakukan dengan kekerasan bahkan penganiayaan. Alhasil, dengan banyaknya faktor juga sistem kehidupan yang serba materialistik individualistik,masyarakat yang acuh terhadap kemungkaran,penguasa yang abai terhadap urusan rakyat, telah melahirkan sebuah fenomena gunung es yang sulit untuk diurai permasalahannya. 


Solusi Islam mengatasi masalah premanisme


Dalam sistem Islam, ada tiga pilar yang menopang tegaknya suatu peradaban agung yakni peradaban Islam yang kalau dilihat dari fakta empiris maupun historis telah terbukti mampu mewujudkan masyarakat yang berkeadilan dan mensejahterakan. Sehingga meminimalisir adanya tindakan yang menyimpang dan bahkan sampai meresahkan masyarakat. 

Tiga pilar itu diantaranya adalah; 


Pertama. Individu yang bertaqwa. Sesungguhnya syari'ah Islam mengajarkan kepada individu untuk takut kepada pencipta-Nya dalam seluruh aspek kehidupan termasuk diantaranya keberadaan individu yang memberikan rasa aman kepada manusia lain. 

Rasulullah SAW bersabda;“Orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya”… (Atsar riwayat Ibnu Nashr Al Marwazi dalam Ta'zhiim Qadrish Shalaah no.639; Shahih)


Kedua. Kontrol masyarakat. Melaksanakan aktivitas amar makruf nahi mungkar merupakan kewajiban setiap muslim. Dengan aktivitas itulah, masyarakat tidak akan diam terhadap setiap pelaku kemaksiatan. Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Barang siapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman’.”


Ketiga. Peran strategis negara sebagai pengurus kemaslahatan rakyat. Suasana keimanan, iklim ekonomi yang kondusif,interaksi muamalah yang ideal,yang diterapkan oleh negara akan mampu menjadi perisai terhadap penyimpangan yang terjadi. Negara dengan kurikulum pendidikan yang berbasis pada aqidah Islam, akan melahirkan sosok-sosok manusia yang memiliki etika tinggi dan empati yang mendalam. Adapun ketika memang terjadi penyimpangan yang terjadi, negara dalam sistem Islam juga menerapkan sanksi yang menjerakan pelakunya. 


Kesimpulan


Demikianlah, dengan penerapan Islam secara totalitas, premanisme akan dapat dicegah secara efektif dan efisien. Dan yang terpenting adalah bahwasannya ketika diterapkan hukum Allah SWT, maka ketenangan yang sempurna akan dapat diraih dengan izin Allah SWT. 


WaAllahu'alam bi ash-Showwab. 

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update