Oleh Fajrina Laeli, S.M.
Fatwa keagamaan dikeluarkan oleh ulama terkemuka. Mereka menyerukan semua Muslim dan negara-negara mayoritas Muslim melancarkan jihad melawan Israel (sindonews.com, 5 April 2025). Gagalnya semua ikhtiar umat dalam menolong kaum Muslim Palestina dengan demo, boikot, bantuan logistik, dan sebagainya membuat ulama merespons kepedihan Gaza dengan mengeluarkan fatwa. Namun, sayangnya walau fatwa tersebut telah ditetapkan, hari terus berlalu tanpa ada pergerakan jelas dari berbagai negara. Seluruh penjuru dunia masih saja membisu saat telinga mendengar suara bom besar yang memusnahkan Gaza.
Alhasil, jika hanya berupa fatwa, tentu tidak akan efektif, apalagi fatwa tersebut tidak memiliki kekuatan mengikat. Banyak negara yang masih merasa takut dan enggan untuk mengirim bantuan tantara secara langsung karena berbagai kepentingan politik yang terlibat. Padahal jika seluruh negeri Muslim disatukan sudah pasti memiliki kekuatan militer yang kuat, tetapi masalahnya ada di tangan para penguasa yang selama ini hanya menyeru namun tidak mengirimkan pasukan. Tidak ada bentuk nyata yang dilakukan, hanya sekadar mengirimkan bantuan yang kurang berdampak pada penyerangan.
Memiliki PBB sebagai ikon perdamaian dunia pun seakan sia-sia karena Palestina masih terus terjajah, bahkan saat seluruh umat muslim di dunia merayakan kemenangan, saudara kita di Palestine justru sedang merintih. Saat langit gemerlap akan petasan dan ledakan kembang api, justru di Palestina ledakan bom menakutkan yang dapat menewaskan rakyatnya kapan saja.
Gelap, kemenangan Idulfitri yang kita rayakan ternyata hanya euforia sesaat bukan kemenangan hakiki bagi umat Muslim. Upaya membebaskan Palestina dengan jihad sejatinya butuh komando seorang pemimpin di seluruh dunia, tidak akan bisa terstruktur tanpa adanya pemimpin.
Aksi individu dengan boikot, bantuan logistik dan fatwa ulama sudah bagus dan patut diapresiasi, tetapi masih jauh dari kata cukup. Sudah berbulan-bulan aksi ini digencarkan, Amerika dengan kekuatanya masih terus mengontrol Israel dalam melakukan aksi penyerangan.
Memang, sungguh hanya kepemimpinan Islam yang mampu mengatasi pembebasan Gaza dari tangan penjajah kafir. Kepemimpinan ini niscaya didapatkan dengan penegakan Khilafah. Dengan adanya Daulah Islam yang dapat mempersiapkan bala tentara tanpa takut mati dan bebas dari kepentingan politik. Sistem Islam yang tegak dalam naungan Khilafah ini hanya dapat diterapkan atas dukungan mayoritas umat sebagai buah dari pemikiran bahwas Palestina adalah tanggung jawab seluruh umat.
Alhasil, fatwa yang dikeluarkan ulama internasional sekalipun tidak akan dapat berjalan jika tidak ada roda penggerak, wajib adanya pemimpin terlebih dahulu dalam naungan Islam. Sebagai umat Islam, kita harus memiliki perasaan yang satu saat saudara kita menderita. Tidak hanya berdiam diri dan mencukupkan diri dengan berdoa, tetapi kita harus mewujudkan kepemimpinan yang dapat menjadi komando jihad seutuhnya, yaitu Khilafah Rasyidah 'ala minhajin nubuwwah
Wallahu'Alam bissawab.

No comments:
Post a Comment