Oleh Sriyanti
Ibu Rumah Tangga
Dalam sambutannya pada Hari Raya Idulfitri, Bupati Kabupaten Bandung Dadang Supriatna menyampaikan agar masyarakat tetap memelihara kualitas ibadah setelah bulan Ramadan. Baik itu ibadah mahdah maupun nilai-nilai kebaikan sosial dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga meminta agar spirit Idulfutri dijadikan sebagai momentum dalam memperkuat persatuan, meningkatkan komitmen dan terus berkontribusi dalam melanjutkan pembangunan daerah. (PikiranRakyat. com 31/03/2025)
Ramadan memang merupakan bulan istimewa, banyak sekali keutamaan yang Allah Swt. berikan di bulan tersebut di antaranya adalah diberikannya pengampunan, dilipatgandakannya pahala, dan dijauhkan dari azab neraka. Untuk itulah Rasulullah saw. mengarahkan kaum muslimin agar mempersiapkan datangnya Ramadan supaya bisa memaksimalkan amalan ibadah di dalamnya, dari dua bulan sebelumnya yaitu Rajab, dan Sya'ban. Kita sudah dianjurkan untuk lebih meningkatkan ibadah sebagai latihan, agar ketika Ramadan tiba sudah siap.
Imbauan yang dilakukan oleh Bupati Bandung sebagaimana fakta di atas, agar seluruh masyarakat tetap menjaga spirit Ramadan di setiap waktu memang patut diapresiasi. Namun hal itu tidak cukup dilakukan sebatas ranah ibadah mahdah dan amal kebaikan saja. Tetapi harus diaplikasikan lebih luas lagi, dalam berbagai aspek yang saling mendukung, terintegrasi dan mewujud pula di tengah masyarakat dan negara. Dengan demikian spirit Ramadan akan menjadi landasan untuk meningkatkan ketaatan dan ketakwaan secara total, baik dalam aspek ibadah, politik, pemerintahan, ekonomi, sosial, budaya dan sebagainya.
Spirit Ramadan di tengah masyarakat akan terjaga jika negara juga bertakwa yaitu, dengan menerapkan aturan Islam secara keseluruhan. Takwa merupakan puncak tertinggi dari rangkaian ibadah shaum Ramadan. Wujud dari takwa secara individu adalah dengan melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya, baik sebelum Ramadan, maupun selama dan setelahnya. Adapun bentuk ketakwaan secara kolektif adalah terwujudnya masyarakat yang tunduk serta terikat secara totalitas pada syariat Islam.
Akan tetapi melihat fakta hari ini, dimana kehidupan kaum mslimin dan juga negara masih mengadopsi kapitalis-sekulerisme, spirit Ramadan akan sangat sulit terjaga. Di bawah pengaturan sistem sekularisme, tampaknya Ramadan belum membawa perubahan bagi kaum muslimin baik di negeri ini ataupun di seluruh dunia. Mereka masih dalam keadaan terdolimi, terhina, terpuruk, dan terjajah oleh kaum kafir. Penguasa di negeri-negeri Islam pun masih lalai dalam mengurusi seluruh kebutuhan rakyatnya.
Korupsi dan berbagai penyimpangan juga makin marak terjadi. Berbagai kemaksiatan seperti perjudian, pornografi, dan pelacuran, masih saja berjalan di tengah masyarakat, meski saat Ramadan sekalipun. Begitu juga dengan kasus kriminalitas seperti pemerkosaan, pembunuhan, pencurian, dan sebagainya. Syariat Islam telah dicampakkan dalam mengatur kehidupan, dan telah digantikan dengan aturan kehidupan sekuler kapitalistik dengan prinsip memisahkan agama dari kehidupan dan menjadikan manfaat dan kebebasan sebagai asasnya.
Saat ini aturan Islam tak ubahnya seperti makanan dalam sajian prasmanan, mana yang disukai maka akan diambil yang tidak suka akan ditinggalkan. Umat muslim sangat bersemangat dalam menjalankan ibadah shalat, zakat, puasa, haji dan ibadah mahdah lainnya. Namun dalam urusan pemerintahan, politik, ekonomi, sosial, dan pidana, mereka tidak menjadikan syariat Islam sebagai pegangan, apalagi seruan jihad mereka mencampakkannya. Padahal sejatinya keterpurukan dan kesengsaraan yang dialami umat Islam saat ini disebabkan karena menjauhnya mereka dari aturan Allah.
Dengan demikian agar spirit Ramadan menghasilkan ketakwaan hakiki dalam masyarakat, diperlukan adanya support sistem yakni negara. Pemerintah akan mengedukasi umat agar Al-Qur'an yang telah dibaca sampai khatam selama bulan Ramadan, diamalkan dan diterapkan oleh individu, masyarakat dan negara. Agar kehidupan ini berjalan sesuai dengan yang Allah Swt. perintahkan.
Ketakwaan individu terwujud ketika ia mengamalkan hukum Allah baik dalam ibadah dan standar dalam tingkah lakunya. Namun ketaatan itu belumlah sempurna, karena masih banyak aturan-aturan Islam yang penerapannya membutuhkan peran negara, seperti dalam aspek hukum, ekonomi dan sebagainya. Maka dari itu Islam memfungsikan negara sebagai pengurus serta pelayan umat dengan penerapan syariat. Negara dan syariat ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.
Pentingnya kekuasaan atau negara, sangat disadari oleh Rasulullah saw. Beliau berdoa seperti yang tercantum dalam QS. al-Isra' ayat 80
"Dan katakanlah (Muhammad), ya Tuhanku, masukkan aku ke tempat masuk yang benar, dan keluarkan (pula) aku ke tempat keluar yang benar dan berikan kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong (ku)". (TQS. Al-Isra :80)
Penerapan syariat yang dilakukan negara hakikatnya adalah melindungi umat dari berbagai kemaksiatan dan mewujudkan keadilan serta ketakwaan. Maka dari itu, harapan penguasa agar ketakwaan masyarakat pasca Ramadan tetap terjaga, hanya akan terwujud jika pemerintahnya pun menjalankan roda pemerintahan berdasarkan arahan Allah dan rasulNya.
Wallahu a'lam bi ash shawab.
No comments:
Post a Comment