Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kapabilitas Penguasa

Tuesday, April 15, 2025 | Tuesday, April 15, 2025 WIB Last Updated 2025-04-15T09:36:09Z
Kapabilitas Penguasa

Oleh. Ummu Fahma-Faqiha 


Warganet heboh dengan  kabar penunjukan Permadi Arya alias Abu Janda sebagai Komisaris PT Jasamarga Tollroad. Meski kabar itu dinyatakan hoax tetap saja menjadikan netizen heboh dan menuai pro kontra. (rmol.id, 7-4-2025)


Bahkan ada salah satu saluran whatsup yang mengomentari berita ini dengan menyebutnya sebagai kabar duka di hari lebaran bagi muslim Indonesia, Gaza dibombardir, pendukung Zionis Yahudi diangkat jadi komisaris. 


Banyak pihak mempertanyakan kemampuan Permadi Arya untuk menjadi seorang komisaris. Latar belakang pendidikan dan prestasi apa yang telah di torehkan Permadi hingga layak mendapat jabatan komisaris hatta itu hanya isu semata. Setelah sebelumnya banyak ditunjuk pejabat dan staf khusus yang tidak memiliki latar belakang yang relevan dengan jabatan yang di emban, praktek balas jasa yang kental, serta bagi-bagi kue kekuasaan pada pihak-pihak yang mendukung penguasa hari ini. Bahkan bola panas terus bergulir pada pembahasan “jasa” apa yang telah dilakukan Permadi untuk penguasa hari ini? Bukankah dia banyak “berjasa” pada pemerintahan sebelumnya? Hal ini mengindikasikan masih adanya campur tangan penguasa sebeumnya pada penguasa hari ini. 


Terlepas dari isu pro kontra dan respon negatif netizen, yang perlu digarisbawahi di sini adalah kemampuan seseorang untuk menjadi penguasa atau pengurus urusan rakyat. Siapa pun memang berhak menduduki sebuah jabatan. Dari kalangan mana pun. Apakah dia orang dekat penguasa atau bukan, apakah ada praktek balas jasa atau tidak. Hanya yang perlu diperhatikan adalah kapabiltas seseorang untuk menempati jabatan tersebut. 


Karena jabatan dalam Islam bukan sekadar status sosial, tetapi akan diminta pertanggungjawaban. Penguasa dalam Islam memiliki tanggung jawab besar. Itulah mengapa ketika Abu Dzar Al-Ghifari datang kepada Rasuullah meminta jabatan, Rasulullah menjawab, “Engkau orang yang lemah”. Sekaliber Abu Dzar yang berasal dari bani terkuat, yang rela hijrah menempuh perjalanan jauh untuk memeluk Islam, membersamai Rasulullah selama hidupnya, Rasul masih menyebutnya lemah. Lalu bagaimana dengan Permadi Arya atau pejabat lain yang masih diragukan kemampuan dan pendidikannya? 


Di dalam Islam memang pendiidkan tidak menentukan segalanya. Apakah lulusan S1, S2 dalam negeri atau luar negeri. Lulusan universitas terbaik atau biasa-biasa saja. Tetapi yang dilihat dalam Islam adalah kemampuannya. Relevansi kemampuan dengan bidang yanga akan di urus. Untuk penguasa, Islam menetapkan syarat laki-laki, balig, muslim, berakal, merdeka, adil, dan mampu. Kemampuan ini baik secara fisik maupun keahlian dan pengalaman hidup yang sudah dilalui. Selain penguasa, bagi pejabat pemerintahaan atau pegawai negara syarat yang mendasar adalah kemampuan (kafaah) nya. Dan kemampuan ini bisa dilihat dengan kasat mata dalam kesehariannya. Apakah sehari-harinya dia bergelut dengan masalah tersebut? Memperhatikan dan memberikan solusi atas masalah-masalah yang muncul pada persoalan tersebut atau tidak. Jadi bukan sekadar lulusan sekolah mana tetapi dalam kehidupan tidak pernah berkecimpung dalam masalah yang sesuai pendidikannya. Atau hanya sebatas karena keterkenalan dia di lingkungan masyarakat. 


Selain itu Islam juga menekankan pada orang-orang yang menduduki jabatan dan mengurus kemaslahatan umat agar bersungguh-sungguh mengemban amanah, tidak menyalahgunakan jabatan, tidak menggunakan jabatan untuk memperkaya diri sendiri atau hanya untuk sekadar status sosial. Sistem Islam menjadikan pelaksanaan tugas sebagai pengurus rakyat itu semata-mata bentuk ketaatan kepada Rabbnya. Wallahu’alam bi shawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update