Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Anak- anak Gaza Kelak akan Menuntut Tanggungjawab Kita

Saturday, April 12, 2025 | Saturday, April 12, 2025 WIB

 



Oleh: Resky Ilmar Rahmadayanti

Mahasiswa (UM Buton)


Dilansir dari Media Indonesia sekitar 39.384 anak Palestina telah kehilangan satu atau kedua orang tua mereka akibat lebih dari 500 hari pengeboman brutal angka ini dirilis menjelang Hari Anak Palestina pada 5 April 2025. Genosida Zion*s Israel di Gaza telah menciptakan krisis anak yatim terbesar dalam sejarah modern.


Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan sedikitnya 100 anak telah terbunuh atau terluka setiap hari di Gaza sejak serangan dimulai kembali pada 18 Maret, bahkan saat Amerika Serikat menggarisbawahi dukungan berkelanjutan bagi Zion*s Israel.


Adapun badan-badan Palestina dan PBB memperingati Hari Anak Palestina dengan kisah-kisah yang 'mengerikan' tentang korban jiwa anak-anak akibat serangan Zion*s Israel di Gaza.


"Tidak ada yang membenarkan pembunuhan anak-anak," tulis Philippe Lazzarini, kepala badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA), di X pada hari Sabtu (5/4/2025) dikutip dari Arab News.


Ia mengatakan Israel mengubah wilayah yang dikepung menjadi "tanah terlarang" bagi anak-anak dan menyesalkan bahwa "nyawa anak-anak" "dipotong dalam perang yang bukan disebabkan oleh anak-anak". Ini adalah noda pada kemanusiaan kita bersama," kata Lazzarini.


“Anak-anak ini hidup dalam kondisi yang memilukan berlindung di tenda-tenda robek atau reruntuhan rumah, tanpa akses pada perawatan sosial maupun dukungan psikologis,” ungkap Biro Pusat Statistik Palestina, dikutip _Al Jazeera._ 



Penderitaan mereka mengeiris nurani. Hampir 18.000 anak tewas termasuk ratusan bayi. Perang ini tidak hanya merenggut orang tua mereka, tapi juga masa kecil, rasa aman, dan masa depan mereka.

Miris, pada momen hari anak, justru anak-anak Palestina kehilangan orang tua, keluarga, bahkan nyawa mereka. Hal ini terjadi di tengah narasi barat yang membual tentang hak asasi manusia (HAM) serta berbagai aturan internasional dan perangkat hukum soal perlindungan dan pemenuhan hak anak.



Konvensi PBB tentang Hak Anak (United Nations Convention on the Rights of the Child/UNCRC) menyatakan bahwa setiap anak berhak untuk memperoleh:

-Kehidupan, kelangsungan hidup, dan perkembangan, Perlindungan dari kekerasan, pelecehan, atau pengabaian

-Pendidikan yang memungkinkan anak-anak untuk memenuhi potensinya

-Dibesarkan oleh orang tua atau memiliki hubungan dengan mereka

-Mengungkapkan pendapat mereka dan didengarkan pendapatnya.


Sebaliknya perlindungan terhadap anak Palestina hanyalah omong kosong karena hak-hak tersebut tidak mereka dapatkan, seakan anak-anak di Palestina dianggap tidak hidup di bumi yang sama. Mereka tidak bisa dibesarkan oleh orang tuanya karena Zion*s Yahudi telah menghabisi orang tua dan kerabatnya. Mereka tidak bisa memperoleh pendidikan karena Zion*s Yahudi membombardir sekolah hingga luluh lantak. Ketika sakit, mereka tidak bisa mendapatkan perawatan medis yang memadai karena penjajah telah menghancurkan rumah sakit yang ada. Mereka bahkan kehilangan hak hidup karena penjajah merenggut nyawa mereka bahkan sejak masih berusia beberapa hari.



Kebiadaban zionis tiada tara, puluhan ribu anak-anak menjadi korban genosida juga meninggalkan kepedihan berupa anak-anak yang menjadi yatim karena kehilangan orangtua. Rumah mereka hancur, keluarga tercerai-berai, dan kini mereka bertahan hidup di tengah reruntuhan, tanpa kepastian akan perlindungan, makanan, atau kehangatan.


Apa salah anak-anak Palestina? Mereka masih berusia kanak-kanak sehingga belum berbuat dosa, tetapi ambisi Zion*s yang didukung tuannya (AS dkk.) untuk menguasai tanah Palestina telah merenggut kebahagiaan mereka. Hal mendasar seperti makanan dan minuman saja tidak mereka dapatkan. Anak-anak ini tidak memiliki sesuatu pun untuk dimakan hingga mereka terpaksa memakan rumput dan tanah, juga meminum air kotor. Anak-anak ini setiap hari melihat kematian orang-orang yang disayanginya. Bagaimana kita berharap jiwa mereka baik-baik saja? Tidak hanya fisik mereka yang berdarah, jiwa mereka pun terluka.


Lantas, apa yang dunia (kapitalisme) lakukan untuk melindungi anak-anak Palestina? Nyaris tidak ada. Sumber masalahnya, yaitu penjajah Zion*s Yahudi, masih dibiarkan eksis dan terus bebas melakukan genosida terhadap anak Palestina. Tidak ada upaya serius dari PBB maupun organisasi negeri-negeri Islam seperti OKI dan Liga Arab untuk menghentikan langkah Zion*s.



Selama entitas penjajah itu masih ada dan bercokol di bumi Palestina, anak-anak Palestina tidak akan pernah merasakan keamanan, kesejahteraan, dan kebahagiaan. Hidup mereka akan selalu terancam. Apalagi para penjajah itu adalah kumpulan orang-orang pengecut yang bahkan terhadap anak-anak saja mereka menggunakan senjata mematikan, tidak ada belas kasihan. Apakah saat menembaki anak-anak Palestina mereka memperhatikan HAM? Tentu tidak.


Semua fakta ini terjadi di tengah narasi soal HAM dan tetek bengek aturan internasional dan perangkat hukum soal perlindungan dan pemenuhan hak anak, nyatanya aturan-aturan tersebut tak mampu menghentikan apalagi mencegah penderitaan anak-anak Palestina.



Semua ini semestinya menyadarkan umat bahwa tidak ada yang bisa mereka harapkan dari lembaga-lembaga internasional dan semua aturan yang dilahirkannya. Masa depan Gaza/Palestina ada pada tangan mereka sendiri, yakni pada kepemimpinan politik Islam atau khilafah yang semestinya sungguh-sungguh mereka perjuangkan. 


Khilafah berfungsi sebagai rain (pengurus) dan junnah (perisai pelindung) terhadap umat Islam, sehingga tidak akan pernah membiarkan kezaliman menimpa rakyatnya. 


Sebagaimana sabda Rasullulah Saw. ”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Muttafaqun ’alayh dll).


Khilafah tidak akan pernah membiarkan kezaliman menimpa rakyat Palestina. Khilafah akan melawan Zion*s Yahudi dengan jihad fi sabilillah. Ini sebagaimana perintah Allah Taala, “Perangilah mereka di mana saja kalian menjumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian.” (QS Al-Baqarah [2]: 191).


Khilafah terbukti selama belasan abad berhasil menjadi benteng pelindung yang aman bagi Palestina. Khalifah Umar bin Khaththab ra. telah membebaskan Palestina dari penjajahan Romawi dan memimpinnya dengan adil. Para khalifah berikutnya senantiasa melindungi Palestina dari serangan musuh.


Khilafah juga terbukti berhasil memberikan support sistem terbaik bagi tumbuh kembang anak sehingga mereka bisa menjadi generasi cemerlang pembangun peradaban emas dari masa ke masa. Khilafah membangun Palestina hingga menjadi wilayah yang makmur dengan infrastruktur yang modern. Kota-kota di Palestina tertata rapi dan indah. Penduduknya sejahtera dan terpelajar.



Ketika pasukan Salib menyerang Palestina, Khilafah berhasil membebaskannya. Melalui pasukan Shalahuddin al-Ayyubi, Palestina kembali berada dalam perlindungan Khilafah Islamiah. Setelahnya, Khilafah senantiasa melindungi Palestina, bahkan ketika Khilafah dalam posisi lemah sekalipun. Pada masa akhir Khilafah Utsmaniyah, Khalifah Abdul Hamid II bersikeras tidak mengizinkan Yahudi untuk memiliki wilayah di Palestina.


Barulah ketika Khilafah runtuh, perisai pelindung Palestina dan umat Islam secara keseluruhan sirna. Palestina kemudian dikuasai Zion*s Yahudi dan mencabik-cabik hingga hari ini. Tanpa Khilafah, umat Islam tidak punya pemimpin yang mengomando mereka untuk jihad fi sabilillah membebaskan Palestina, meski mereka sangat ingin jihad ke sana. Sedangkan penegakan Khilafah dan jihad fi sabilillah adalah solusi hakiki Palestina dan harus menjadi agenda utama perjuangan umat Islam sedunia.


Setiap muslim wajib terlibat dalam memperjuangkan kembalinya khilafah agar mereka punya hujjah bahwa mereka tidak diam berpangku tangan melihat anak-anak Gaza dan orang tua mereka dibantai oleh zionis dan sekutu-sekutunya. Persoalan anak-anak Gaza akan selesai ketika persoalan Palestina juga terselesaikan secara tuntas. Dan solusi tuntas hanya dapat terwujud dengan jihad dan khilafah.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update