Oleh: Siti Zaitun.
Sungguh miris sejak mengingkari kesepakatan gencatan senjata, Israel menewaskan warga Palestina lebih dari 1200 orang, termasuk ratusan anak-anak. Lebih dari 50.000 warga Palestina telah tewas sejak perang di Gaza dimulai pada Oktober 2023.
Pada hari jumat, pasukan Israel terus menggempur daerah kantong itu, sehingga menewaskan sedikitnya 30 orang sejak fajar. Bahkan gelombang pengeboman terbaru menargetkan sekolah, tempat penampungan, rumah sakit, pusat makanan, zona aman yang ditetapkan Israel, dan pabrik desalinasi air.
Sekretaris Jenderal Persatuan Cendikiawan Muslim Internasional ( IUMS), organisasi yang sebelumnya dipimipin oleh Yusuf Al- Qaradawi, Ali Al-Qarsdaghi, menyerukan kepada semua negara Muslim pada jumat ( 4/4), untuk segera campur tangan secara meliter, ekonomi, dan politik untuk menghentikan genosida dan penghancuran menyeluruh sesuai dengan mandat mereka.
Pernyataannya, yang juga didukung oleh 14 ulama Muslim terkemuka lain, menyerukan kepada semua negara Muslim untuk meninjau perjanjian damai mereka dengan Israel dan bagi umat Muslim di Amerika Serikat untuk menekan Presiden Donald Trump agar memenuhi janji kampanyenya untuk menghentikan agresi membangun perdamaian. ( mediaindonesia. com, 6/4/2025).
Seruan, kecaman dan bahkan fatwa ulama level dunia sekalipun, tidak akan membuahkan hasil apapun. Serangan yang dilakukan oleh zionis Israel terhadap fasilitas umum, seperti pusat makanan, tempat penampungan, sekolah, pabrik desalinasi air dan rumah sakit menegaskan bahwa mereka bukan hanya membidik Hamas, tetapi sengaja menargetkan pembantaian warga sipil yang korban terbesarnya justru dari kalangan perempuan dan anak-anak. Alasan serangan kepada Hamas hanya sekedar tameng agar bisa terus melakukan pembantaian kepada warga sipil Palestina. Walaupun sangat jelas dalam peraturan perang bahwa nakes, jurnalis dan warga sipil tidak boleh diserang, namun zionis Israel secara terang- terangan melanggarnya.
Kondisi Gaza maupun Palestina seluruhnya yang semakin mengenaskan, umat muslim tidak bisa mengharapkan solusi dari dunia internasional. Umat juga harus mengingat PBB adalah lembaga internasional yang mengeluarkan Resolusi Majelis Umum PBB 181/1947 dimana aturan tersebut semakin menambah bercokolnya penjajahan zionis atas Palestina.
Jika hanya menyerukan kecaman terhadap zionis, bukankah tindakan itu hanya hipokrit? Tak hanya itu, umat juga harus tahu bahwa Amerika Serikat memiliki hak veto di PBB sekalipun beberapa perwakilan negara menyuarakan dukungan kepada Palestina, menyuarakan penghentian genosida disana, menyuarakan penangkapan Benjamin Netanyahu, semua itu akan sirna dengan hak veto Amerika Serikat yang menolak itu semua. Sejak awal kemunculannya, PBB bukan lembaga netral, namun dia hadir untuk menjaga kepentingan ideologi kapitalisme.
Kaum Muslim seharusnya memiliki agenda sendiri, yaitu dengan menyatukan pemikiran dan perasaan seluruh dunia Islam. Serta berusaha membangkitkan pemikiran dan kebutuhan mereka akan penerapan syariat Islam kaffah melalui cita - cita tegaknya Daulah Khilafah.
Jihad melawan Israel harus dengan kekuatan negara, tidak bisa oleh individu atau kelompok. Tentara harus dilawan dengan tentara. Senjata canggih. Artinya, harus ada kekuatan negara yang sepadan dengan kekuatan Amerika Serikat dan Eropa yang menjadi pelindung Israel dan negara tersebut adalah negara Daulah khilafah.
Khalifah sebagai pemimpinnya akan menggerakkan pemuda- pemuda terkhusus di Timur Tengah untuk bangkit melawan rezim di negeri mereka masing-masing agar bergerak mengirimkan tentara ke Palestina untuk membebaskan wilayah tersebut dari pendudukan zionis Israel.
Khalifah akan mengatur pergerakan dari pasukan kaum Muslim yang terhimpun di berbagai negeri Islam, seperti Turki, Iran, Arab Saudi, Yordania dan negeri Muslim lainnya. Dibawah bendera ar-rayah para tentara akan dikerahkan khalifah untuk berjihad membebaskan Palestina dari penjajahan zionis Israel beserta Amerika Serikat dan para sekutunya.
Solusi syar'i untuk Palestina, yakni kehadiran khalifah dibawah institusi negara Daulah khilafah. Di mana kehadiran khilafah akan menjadi kekuatan politik sekaligus junnah, atau pelindung bagi kaum Muslim selayaknya ibu melindungi anaknya. Sehingga, tidak hanya anak-anak Palestina yang bisa dibebaskan dari konflik dan penjajahan di negeri- negeri Muslim lain seperti Sudan, Lebanon, Myanmar, Suriah, dan Yaman.
Puluhan tahun Palestina telah memanggil para pemimpin dan tentara Muslim di berbagai negara termasuk Indonesia untuk bergabung dan berangkat jihad fi sabilillah. Ratusan ribu bahkan jutaan nyawa telah syahid dan darah rakyat Palestina yang tertumpah sejak negara zionis dengan restu AS berdiri. Mereka akan menuntut atas sikap diam dan tidak acuh mereka.
Seharusnya dengan keimanan yang ada pada dada mereka patut membuat mereka takut kepada Allah Ta'ala.
Allah SWT memerintahkan umat muslim untuk membela saudaranya yang teraniaya, sebagaimana firman - nya dalam Al- Quran surah Al- Anfal ayat 72
" Dan jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam agama, maka kamu wajib menolongnya, kecuali atas kaum yang terdapat perjanjian antara kamu dan mereka. Sedangkan Allah melihat apa yang kamu kerjakan.
Juga sebagaimana sabda Rasulullah SAW,
" Apabila orang -orang melihat seorang yang zalim tapi mereka tidak mencegahnya dikhawatirkan Allah akan menimpakan hukuman terhadap mereka semua. " ( HR Abu Dawud).
Solusi yang akan membawa keberkahan bagi alam semesta. Dan sudah seharusnya umat islam berdakwah bersama-sama memperjuangkan membebaskan Palestina dengan kemenangan hakiki melalui tegaknya Negara Islam demi keberlangsungan peradapan kehidupan Islam yang di ridhoi Allah SWT.
Wallahua'lam bishowab.

No comments:
Post a Comment