Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Sambut Bulan Suci Ramadhan dengan Meningkatkan Ketakwaan dan Persatuan Umat

Monday, February 24, 2025 | Monday, February 24, 2025 WIB
Meningkatkan Ketakwaan dan Persatuan Umat


Oleh : Reni Renia Devi. S.Kp., M.Kep

 

​Beberapa hari ke depan, kaum muslim di seluruh dunia akan bersuka cita dengan datangnya bulan suci Ramadhan. Demikian juga suasana menyambut hadirnya Ramadhan sudah mulai terasa di tengah-tengah masyarakat di sekitar kita sebagai refleksi bentuk keimanan. Ramadhan disebut dengan bulan penuh ampunan dikarenakan Allah SWT membuka pintu taubat bagi umat islam yang ingin memperbaiki diri dan sudah selayaknya kita, kaum muslimim, bersegera untuk meraih ampunan Allah SWT dengan memperbaiki dan meningkatkan ibadah-ibadah pada bulan tersebut.


​Demikian juga masyarakat di Kota Banjar Jawa Barat sangat antusias dalam menyambut kehadiran Ramadhan. Ribuan warga masyarakat Kota Banjar, Ahad (23/02/2025), kemarin, serentak berkumpul di Alun-alun Kota Banjar untuk melaksanakan Tarhib Ramadhan 1446 H. Sejak pagi, masyarakat sudah mulai berdatangan dan menempati tempat sesuai dengan arahan dari panitia.

​Tarhib Ramadhan 1446 H kali ini mengangkat tema:


“Bersama Umat, Sambut Ramadhan dengan Takwa dan Penuh Suka Cita.”


Kegiatan ini menghadirkan para ulama dan tokoh Kota Banjar yang akan memberikan motivasi, nasihat dan tausyiahnya di hadapan peserta tarhib yang memadati lokasi acara. Dan dibuka dengan penampilan rombongan marawis anak-anak muda untuk semakin menyemangati masyarakat dalam mengikuti acara.


​Kegiatan dibuka dengan penuh antusias dan semangat oleh pemangku acara, Ustadz Ibnu Aziz Fathoni, M.Pd.I. Beliau menyampaikan ajakan bagi kaum muslimin untuk dengan semangat dan suka cita menyambut kedatangan tamu istimewa yaitu Bulan Ramadhan ini dengan cara yang istimewa juga. Apalagi tamu yang akan datang ini datang dengan membawa banyak keberkahan dan oleh-oleh berupa pahala yang berlipat ganda atas ibadah yang dilakukan sepanjang bulan. Meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT merupakan hal istimewa yang harus dilakukan oleh kaum muslimin.

​Kemudian juga beliau menyampaikan bahwa tongkat yang beliau bawa, bukan menunjukkan kondisi menua, karena banyak para ulama yang hadir berusia lebih tua tetapi masih berdiri tanpa menggunakan tongkat. Makna tongkat pemandu jalan itu adalah sebagai symbol syariat Islam, dan kaum muslim wajib berpegang teguh kepadanya. Karena kondisi saat ini, kaum muslim sedang berada dalam masa Ruwaibidah yaitu orang-orang bodoh yang menjadi penguasa, sedang dalam kondisi tahun-tahun penuh dusta, yang benar dianggap salah, yang salah dianggap benar, yang amanah dianggap pengkhianat dan pengkhianat dianggap orang yang amanah. Maka tongkat yang disimbolkan syariat islam ini, wajib dipegang teguh agar kaum muslim tidak terpeleset ke jalan yang salah.

Pembicara selanjutnya, Drs. KH. Undang Munawar, M.Pd, menyampaikan kata-kata puitis penuh makna yang mampu membuat masyarakat yang hadir merenung dan memaknai kalimat demi kalimat puisi yang dibacakan. Beliau menyampaikan seandainya kaum muslim mengetahui bahwa Ramadhan yang akan datang ini adalah Ramadhan terakhir yang Allah SWT anugerahkan, tentu kaum muslim tidak akan mau menyia-nyiakan kesempatan terakhir ini. Tentu kita tidak akan melewatkan setiap kesempatan untuk beribadah meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT.


Hal ini juga dikuatkan dengan motivasi menggugah dari KH. Natsir Ghazali tentang pentingnya bulan Ramadhan. Beliau menyampaikan Ramadhan adalah penghulunya segala bulan, sehingga wajib kita sambut dengan cara istimewa.


Kemudian pembicara lainnya yaitu Ust. Endang Ruhiyat, S.Ag., menyampaikan melalui momen Ramadhan seharusnya kaum muslim menyadari pentingnya persatuan umat Islam, karena apabila umat Islam terpecah belah maka akan kalah oleh kebathilan.


 “Kebenaran yang terorganisir akan dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir,” ungkapnya.


Ust. Aan Alamsyah, S.T., M.Pd., memberikan motivasi yang penuh semangat. Walau dalam kondisi berpuasa, kaum muslimin tidak boleh menghabiskannya dengan hanya tidur dan bermalas-malasan. Beliau mengingatkan bahwa peperangan yang pernah terjadi di masa Rasulullah SAW dan para sahabat terdahulu terjadi di bulan Ramadhan. 


“Perang Badar, salah satu peperangan besar antara kaum muslimin dengan kaum kafir, terjadi pada bulan Ramadhan, dan Allah memberikan kemenangan bagi kaum muslimin."


Untuk kaum muslimin saat ini, jangan lupakan untuk senantiasa berdoa bagi kaum muslim seluruh dunia. Karena doa adalah senjata.


Sementara itu KH. Ujer Jamaludin menegaskan bahwa kewajiban ibadah puasa Ramadhan tidak bisa dilepaskan dari peran kekuasaan untuk menerapkannya. Saat ini masyarakat baru di atur dengan boleh berpuasa di Bulan Ramadhan. Karena saat ini masyarakat kaum muslim kondisinya mau berpuasa silakan, tidak berpuasa juga silakan. Kaum muslimin mau melaksanakan sholat silakan tidak melaksanakan sholat juga silakan. Tidak ada peran negara yang betul-betul mewajibkan dan memberikan sanksi tegas bagi masyarakat yang tidak melaksanakan puasa di bulan Ramadhan. Hal ini menunjukkan bahwa kekuasaanlah yang akan menegakan dan mewajibkan pelaksanaan kewajiban tersebut sehingga seluruh kaum muslim dapat melaksanakan nya dengan maksimal.


Kegiatan Tarhib Ramadhan berjalan dengan tertib dan semangat walau matahari semakin terik menyinari peserta. Tapi tidak menyurutkan peserta untuk tetap bertahan sampai tausyiah terakhir yang disampaikan oleh Drs. H. Dadang Hendra Utama. Beliau mengingatkan jika Ramadhan adalah momentum meningkatkan kualitas iman dan takwa kepada Allah SWT melalui ibadah. Selain itu beliau mengingatkan jangan sampai kaum muslim hanya terlibat dalam euphoria kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan di bulan Ramadhan. Mengadakan buka puasa bersama, padahal tidak berpuasa, melalaikan sholat magrib bahkan sampai melalaikan sholat isya.  Beliau mengingatkan jangan sampai kita menjadi orang-orang munafik yang tampak beriman tapi sebenarnya tidak.

Acara ditutup dengan pembacaan doa yang khusyu memohon kepada Allah SWT, agar bulan Ramadhan kali ini dapat diisi dengan ibadah yang semakin membawa kita kepada derajat keimanan dan ketakwaan dengan sebenar-benar takwa. Peserta kemudian membubarkan diri dengan tertib sesuai arahan panitia dan tidak meninggalkan sampah sehingga kebersihan tempat acara tetap terjaga.

Ketakwaan adalah derajat paling mulia di sisi-Nya. Allah Swt. berfirman, 


“Sungguh orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” 

(QS Al-Hujurat [49]: 13).

 

Wallahu a’lam bishawab.


No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update