Oleh : Risnawati
(Pegiat Literasi)
#IndonesiaGelap makin menggema seiring dengan aksi para mahasiswa di berbagai daerah hingga menjadi trending topic di media sosial. Bahkan hari Jumat ada aksi massa gabungan yang lebih besar di Jakarta.
Seperti dilansir dalam laman Jakarta, Kompas.com - Massa aksi yang tergabung dalam Indonesia Gelap menggelar demonstrasi di Kawasan Patung Kuda Arjuna Wijaya, Jakarta Pusat, Jumat (21/2/2025).
Dalam aksi tersebut, Koalisi Masyarakat Sipil membacakan 28 tuntutan yang disampaikan oleh para orator secara bergantian di atas mobil komando.
"Saat ini, Indonesia memasuki babak kelam dalam perjalanan sejarahnya, di mana rakyat dipaksa menanggung beban ketidakadilan yang semakin berat," ucap salah satu orator di atas mobil komando.
Telaah Akar Masalah
Dalam aksi massa tersebut, diantara tuntutan Mahasiswa adalah pertama, mendesak pemerintah mencabut Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 mengenai efisiensi anggaran. Kebijakan yang wajib dilaksanakan oleh kementerian/lembaga terkait penghematan dalam penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 itu dianggap tidak berpihak kepada rakyat.
Kedua, Mencabut pasal dalam RUU Minerba yang memungkinkan perguruan tinggi mengelola tambang guna menjaga independensi akademik.
Ketiga, mahasiswa meminta pemerintah mencairkan tunjangan dosen dan tenaga pendidik, tanpa ada pemotongan ataupun hambatan akibat birokrasi. Selain itu, mahasiswa juga mendesak pemerintah mengevaluasi total pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG) dan mengeluarkannya dari anggaran pendidikan.
Dan keempat, berhenti membuat kebijakan publik tanpa basis riset ilmiah dan tidak berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Ya, tagar Indonesia gelap dimaknai sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap kondisi bangsa yang semakin memprihatinka, mengkhawatirkan, menakutkan dan kondisi mencekam terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang lagi-lagi dinilai tidak berpihak kepada rakyat.
Inilah akibat masih diterapkan sistem sekuler kapitalisme yang sesungguhnya menimbulkan berbagai kerusakan, termasuk di dunia pendidikan. Sekularisme telah membuat moral generasi rusak dan minus kepribadian. Sistem sekuler telah mendistorsi Islam sebatas agama ritual. Alhasil, Islam makin jauh dari kehidupan dan tidak lagi menjadi pedoman hidup bagi generasi saat ini.
Disisi lain, Kapitalisasi dunia pendidikan telah membuat rakyat kesulitan mengakses pendidikan hingga perguruan tinggi. Sebagai contoh, mahalnya biaya UKT membuat banyak calon mahasiswa baru mengundurkan diri dari perguruan tinggi negeri. Keluhan biaya UKT tidak hanya dialami calon Maba, melainkan juga mahasiswa lama yang sudah menjalani perkuliahan beberapa semester, serta yang teranyar akan dihapuskan anggaran pendidikan 20%.
Dengan demikian, segala yang terjadi saat ini dengan tagar Indonesia gelap makin menegaskan buruknya penerapan sistem kepemimpinan sekuler kapitalistime sudah terbukti gagal mensejahterakan rakyat secara menyeluruh.
Berharap Hanya Kepada Islam
Sungguh, Islam adalah sebaik-baik role model membangun kepemimpinan berkualitas yang memiliki peradaban maju serta berkarakter hebat. Berikut di antara rahasia Islam mampu bertahan dan menguasai dunia hingga 1300 tahun lamanya.
Islam adalah ideologi, bukan hanya perkara keyakinan, tetapi juga mengatur seluruh urusan kehidupan. Syariat Islam kafah akan menjadi solusi ketika diterapkan secara sempurna oleh negara. Islam memiliki konsep kepemimpinan yang istimewa serta berbeda dengan sistem mana pun yang ada di dunia.
Konsep-konsep Islam diistinbat dari seruan Allah SWT. dan Rasul-Nya (nas syar’i). Asy-Syaari telah membatasi berbagai tanggung jawab umum yang wajib atas penguasa dengan ketentuan dan batasan yang sangat jelas. Batasan tersebut mencakup tanggung jawab penguasa terkait hal-hal yang wajib dipenuhi dalam dirinya sendiri sebagai penguasa, serta tanggung jawab terkait hubungannya dengan rakyat.
Imam Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah Jilid II menggambarkan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh pemimpin Islam, di antaranya kekuatan, ketakwaan, kelemahlembutan terhadap rakyat, dan tidak menimbulkan antipati.
Hadits Muslim meriwayatkan dari Abu Dzar, ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, tidakkah engkau memberikan jabatan kepadaku?’ Beliau menepuk bahuku dengan tangan beliau, lalu berkata, ‘Wahai Abu Dzar, sesungguhnya aku melihatmu seorang yang lemah. Sesungguhnya ia (jabatan) adalah amanah. Sesungguhnya pada Hari Kiamat ia adalah kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajibannya di dalamnya.’”
Rasulullah Saw juga senantiasa mengingatkan bahwa kepemimpinan adalah amanah yang harus diemban oleh orang-orang yang kuat sehingga ia akan mampu menunaikan seluruh amanahnya dengan baik. Sementara itu, orang yang dianggap lemah diingatkan untuk tidak mengambilnya karena berpotensi pada pengabaian amanah yang akan berujung pada kehinaan dan penyesalan.
Seorang pemimpin harus menghiasi dirinya dengan sifat takwa. Ketakwaan harus melekat, baik waktu ia sebagai dirinya sendiri atau ketika menjadi pemimpin rakyatnya. Muslim dan Ahmad meriwayatkan dari Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya, ia berkata,
“Dahulu jika Rasulullah Saw mengangkat seorang pemimpin atas pasukan atau sariyyah (detasemen), beliau berpesan kepadanya dengan ketakwaan kepada Allah dalam dirinya sendiri, dan agar ia memperlakukan kaum muslim yang bersamanya dengan baik.’"
Karena itu, salah satu amanah yang ada di pundak seorang pemimpin adalah menegakkan kedisiplinan, keadilan, dan bersikap tegas. Agar dalam menjalankan amanah tersebut tidak menyusahkan rakyatnya, Asy-Syaari’ memerintahkan pemimpin untuk bersikap lemah lembut.
Alhasil, hubungan penguasa dengan rakyatnya sangat harmonis dilandasi keimanan, Islam memerintahkan seorang pemimpin harus senantiasa memperhatikan rakyatnya dengan memberinya nasihat, memperingatkannya agar tidak menyentuh sedikit pun harta milik umum, dan mewajibkannya agar memerintah rakyat hanya dengan Islam. Maka, Indonesia akan terus gelap jika tak segera menerapkan Islam kaffah sebagai cahaya yang akan menerangi seluruh kehidupan manusia. Wallahu a’lam.

No comments:
Post a Comment