Oleh: Lilik Solekah, SHI
(Ibu Peduli Generasi)
Prihatin, was-was dan gemuruh dalam dada saat mendengar, membaca dan melihat berita kriminalitas yang kian marak dan semakin mengganas. Hampir setiap hari bahkan jam ada saja kasus baru kriminalitas, bahkan tidak mengenal waktu dan juga usia. Dari yang terlalu renta hingga usia remaja bisa menjadi pelaku dan juga bisa menjadi korban.
Hilang kemanakah naluri, kelembutan hati pada manusia kini. Sistem kapitalis sekuler yang memisahkan agama dengan kehidupan sungguh menjatuhkan martabat manusia ke ranah yang lebih rendah dari pada hewan. Hewan induk selalu sayang pada anaknya, ngayomi disaat hujan dan mencarikan makan serta melindungi dari serangan musuh. Naluri binatang yang tidak dikaruniai akal ini masih stagnan hingga kini. Namun manusia yang punya akal tergerus oleh sistem yang menjauhkan agama dari kehidupan. Standar hidupnya sekedar materi sehingga nafsulah yang menguasai.
Marah adalah sesuatu naluriah, namun jika marahnya sudah di luar batas kewajaran seperti yang diberitakan kumparan bahwa ada seorang pria kalah berjudi kemudian membanting dan mencekik leher ibunya dimana dia hidup keluar dari rahimnya, selama sembilan bulan dikandungnya disusui hingga dewasa ini diluar nalar. Sudah pasti tidak ada iman dan takwa yang bersemayam di dadanya.
Ada lagi kasus yang banyak terjadi, dalam kumparan juga diberitakan adanya penemuan mayat bayi di Sambas ternyata pelakunya adalah anak dibawah umur. Jika kita cermat dalam melihat, dimana anak dibawah umur yang seharusnya menjadi generasi masa depan bangsa berperilaku demikian maka nyata telah menunjukkan bahwa bangsa ini masa depannya suram. Bukan 2025 emas namun sebaliknya indonesia cemas. Sebab masih ribuan kasus kriminalitas kini yang lebih mengerikan daripada cabikan binatang buas.
Kriminalitas yang semakin marak dengan kadar kekerasan yang juga semakin mengerikan, dan pelaku yang makin muda usianya, ini menunjukan bahwa sistem sekuler kapitalisme makin mandul menjamin keamanan dan gagal menjaga nyawa manusia.
Bahkan semua itu justru seharusnya mampu membuka mata kita, menunjukkan bahwa dampak penerapan sistem hidup yang rusak itu ada pada semua bidang kehidupan, baik ekonomi, sosial/pergaulan, pendidikan, media, dan lain sebagainya.
Selain itu juga menunjukkan betapa lemahnya sistem sanksi di negeri ini yang tidak menjerakan. Alih-alih malah justru membuat kejahatan dan kriminalitas meningkat. Keamanan pun di era kapitalisme saat ini juga tidaklah terjamin. Bahkan di dalam kamar rumah sendiri.
Bagaimana cara menutup pintu kriminalitas secara tuntas? Jawabanya hanya satu yaitu kembali pada sistem Islam. Islam menjadikan negara sebagai pelindung dan penjamin keamanan rakyat. Negara akan menutup pintu kriminalitas dengan menjamin kesejahteraan rakyat, menjamin keamanan rakyat, dan penerapan sistem sanksi ditegakkan dengan adil, serta bersifat jawabir dan jawazir. Yaitu mencegah terjadinya kriminalitas serta sebagai penebus dosa dihadapan Allah ketika pelaku lalai atau khilaf telah melakukan kriminalitas.
Islam juga memiliki sistem Pendidikan Islam yang akan mencetak generasi yang memahami hakekat penciptaan dan memiliki kepribadian Islam, sehingga menjaga dirinya dari perbuatan maksiat dan kriminal tentunya.
Tegaknya tiga pilar, mulai dari ketakwaan individu, kontrol masyarakat dan penerapan sistem sanksi oleh negara akan menjamin terwujudnya keamanan pada masyarakat. Sehingga terciptalah generasi unggul tanpa kriminal. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan? Sehingga enggan untuk mengabaikan aturan darinya dan membuat aturan kehidupan sendiri? Naudzubillah semoga kita tergolong orang-orang yang berserah diri lagi bersyukur. Aamiin.

No comments:
Post a Comment