Oleh : Halida Almanuaz
( Aktivis Dakwah Muslimah Deliserdang )
Dimana akhir - akhir ini banyak masyarakat yang perhatian terhadap masalah kesehatan mental, terutama di tengah generasi muda. Generasi Z atau Gen Z, yang lahir antara tahun 1997 – 2012, kerap menjadi sorotan karena mereka lebih rentan terhadap masalah mental ketimbang generasi sebelumnya.
Melansir dari BTPN, banyak penelitian dan survei menunjukkan bahwa Gen Z mengalami tingkat stres, kecemasan, dan depresi yang lebih tinggi dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Survei tahun 2022 oleh Harmony Healthcare IT menunjukkan bahwa 42% dari generasi Z telah didiagnosa mengalami masalah kesehatan mental.
Dikutip dari BTPN, meskipun teknologi memberikan banyak manfaat seperti akses informasi dan komunikasi yang mudah, penggunaannya yang berlebihan dapat berdampak negatif. Media sosial, khususnya, sering dikaitkan dengan perasaan rendah diri, kecemasan sosial. Gen Z tumbuh di era di mana media sosial menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari, sehingga tekanan untuk terlihat sempurna dan membandingkan diri dengan orang lain menjadi sangat besar.
Gen Z juga menghadapi tekanan yang signifikan dalam hal karier. Dengan persaingan yang semakin ketat, banyak dari mereka merasa harus mencapai prestasi yang tinggi di sekolah dan mendapatkan pekerjaan yang baik untuk masa depan yang lebih stabil. Tekanan ini sering kali menyebabkan stres yang berlebihan dan kecemasan akan masa depan.
Ditambah lagi dengan semakin tingginya biaya pendidikan, banyak dari mereka yang juga terbebani oleh masalah keuangan.
Tidak Stabilnya Politik dan Ekonomi
Generasi Z tumbuh di lingkungan yang penuh dengan ketidakpastian politik dan ekonomi. Ketidakpastian ini dapat menyebabkan perasaan cemas dan stres secara terus-menerus. Gen Z juga sering kali merasa bahwa masa depan mereka tidak seaman atau sebaik yang mereka harapkan.
Perubahan sosial juga berkontribusi pada masalah kesehatan mental Gen Z. Norma-norma sosial yang berubah, inklusi yang lebih besar dari berbagai identitas gender dan seksual, serta meningkatnya kesadaran akan isu-isu sosial seperti kesetaraan ras dan keadilan sosial, semuanya dapat menambah kompleksitas dalam kehidupan mereka.
Ditambah tantangan Generasi Z adalah generasi pertama yang tumbuh dengan kemajuan teknologi yang pesat sejak lahir. Mereka dikenal sebagai generasi yang adaptif, fleksibel, praktis, dan sangat mahir dalam teknologi. Namun di balik itu semua keunggulan ini mereka menghadapi tantangan serius dalam hal kesejahteraan mental.
Dari menurut World Happiness Report 2024, terdapat riset yang menyimpulkan bahwa Generasi Z memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih rendah dibandingkan dengan generasi sebelumnya dan lebih rentan terhadap gangguan kesehatan mental. Salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap masalah ini adalah penggunaan media sosial yang tidak tepat.
Dikutip dari laman Unair (29/04/2024), Prof. Nurul Hartini dari Universitas Airlangga menyatakan bahwa media sosial dapat memudahkan kehidupan Generasi Z jika digunakan dengan bijak. Ia juga menegaskan bahwa media sosial memiliki sisi positif dan negatif, dan dampaknya sangat tergantung pada cara penggunaannya.
Misalnya pada media sosial yang bisa menjadi alat yang sangat berguna untuk berkomunikasi, mendapatkan informasi, dan bahkan untuk belajar. Namun, jika digunakan secara berlebihan atau tanpa kendali, media sosial dapat menjadi sumber stres dan kecemasan bagi Generasi saat ini.
Gangguan mental menjadi marak diidap remaja. Satu dari tiga remaja (10—17 tahun) Indonesia memiliki masalah kesehatan mental, sedangkan satu dari dua puluh remaja Indonesia memiliki gangguan mental dalam 12 bulan terakhir ini. Artinya, sebanyak 15,5 juta remaja mengalami masalah kesehatan mental dan 2,45 juta remaja mengalami gangguan mental.
Kondisi Generasi Z saat ini benar-benar miris, kenakalan dan kejahatan remaja pun tidak luput dari faktor yang memengaruhi kesehatan mental mereka, seperti kecanduan narkoba, seks bebas, perundungan, hingga tawuran, begal, dan geng motor.
Semua itu berawal dari pelarian atas masalah mental yang mereka alami. Tentu problem kenakalan remaja berdampak pada proses belajar serta pembentukan jati dirinya. Padahal, saat usia remaja, seharusnya mereka bisa fokus belajar agar kelak menjadi individu yang bermanfaat bagi umat.
Dimana peran keluarga yang seharusnya menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya dan tempat ternyaman bagi seluruh anggota keluarganya. Nyatanya, fungsi rumah ini sudah sedemikian langka. Ibu yang seharusnya menjadi sosok guru pertama bagi anak-anaknya dan orang yang memberikan limpahan kasih sayang, malah sibuk di luar rumah membantu ekonomi keluarga.
Dan sekolah yang seharusnya menjadi tempat terbaik bagi anak-anak membangun kepribadiannya, malah menjadi tempat perundungan merajalela. Padahal, korban perundungan sangat rentan terkena gangguan mental.
Sistem pendidikan berasaskan sekularisme juga terbukti menjauhkan anak-anak dari agamanya. Sistem sosial yang disetir kapitalisme telah nyata menciptakan kerusakan pada manusia. Kehidupan liberal yang serba bebas menjadikan manusia merasa bisa berbuat semaunya. Tidak peduli perbuatannya menzalimi sekitar atau tidak, atas nama HAM, perbuatan itu akan terus dilakukan selama merasa puas dan bahagia.
Disamping itu peran ayah makin sulit mencari kerja. Kaum perempuan pun dituntut membantu ekonomi keluarga hingga mengabaikan kewajiban utamanya di rumah. Semua itu adalah diterapkannya kapitalisme dalam seluruh kehidupan, termasuk bernegara. Artinya, seluruh faktor yang mendukung terwujudnya gangguan mental di kalangan remaja sejatinya berpangkal dari penerapan sistem kapitalisme.
Dalam pandangan politik Islam, negara yang menerapkan sistem Islam kaffah akan meminimalkan dan menghilangkan segala hal yang bisa menyebabkan rakyatnya mengalami gangguan mental. Upaya-upaya tersebut meliputi berbagai aspek.
Islam sebagai agama yang sempurna, yang diturunkan dari Zat Yang Maha Sempurna memberikan pandangan yang benar tentang kehidupan. Tujuan hidup hakiki dalam Islam bukanlah untuk meraih materi sebagaimana yang diajarkan di sistem sekuler, melainkan meraih rida Allah untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Islam mengajarkan bahwa dunia adalah tempat untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, tidak seperti pandangan sekuler yang menjadikan dunia sebagai tujuan akhir.
Untuk mengatasi stres dan gangguan mental Islam mengajarkan kepada individu untuk sabar, salat, dan berdoa kepada Allah Swt. Karena dengan kedekatan manusia kepada Allah Swt. akan memberikan rasa tenteram di dalam jiwa manusia sehingga dapat mengatasi stres dan gangguan mental.
Islam dalam mencegah dan mengatasi masalah mental pemuda muslim hingga akhirnya lahirlah generasi tangguh kepribadian islam dan bertakwa dilandasi kecintaan pemimpin kepada rakyatnya untuk menjalankan fungsi negara sebagai pelindung atas rakyatnya.
Kesempurnaan sistem Islam yang diterapkan oleh negara dan dijalankan individu dan generasi akan terbebas dari stres dan ganguan mental yang berkepanjangan karena sumber penyebabnya adalah sistem kapitalisme yang berjalan saat ini di seluruh dunia, maka harus dicabut dari akarnya, lalu menggantinya dengan sistem Islam. Disini perlu usaha dan peran seluruh kaum muslimin untuk mewujudkan tegaknya Khilafah Islamiyah. Wallahu'alam

No comments:
Post a Comment