Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Islam Pasti, Menjaga Mental Generasi

Thursday, February 06, 2025 | Thursday, February 06, 2025 WIB



Oleh: Astina


Generasi Z atau Gen Z, yang lahir antara tahun 1997 – 2012, kerap menjadi sorotan karena mereka lebih rentan terhadap masalah mental ketimbang generasi sebelumnya. Melansir dari BTPN, banyak penelitian dan survei menunjukkan bahwa Gen Z mengalami tingkat stres, kecemasan, dan depresi yang lebih tinggi dibandingkan dengan generasi sebelumnya.


Survei tahun 2022 oleh Harmony Healthcare IT menunjukkan bahwa 42% dari generasi Z telah didiagnosa mengalami masalah kesehatan mental. Laporan lain dari American Psychological Association (APA) juga memaparkan bahwa hampir 90% dari Gen Z di Amerika Serikat setidaknya mengalami satu gejala stres, seperti merasa kewalahan atau cemas berlebihan.


Kesehatan mental kerap terjadi saat ini khususnya pada remaja. Kesehatan mental merupakan hal yang penting untuk menunjang kehidupan selain itu jika seseorang sakit mental akan lebih sulit untuk disembuhkan dibandingkan dengan sakit fisik. Remaja saat ini memiliki mental yang lemah, gampang tersakiti hatinya, mudah tersinggung, mudah merasa rendah diri dan mudah untuk menyerah akan masalah yang dihadapi. 

Penyebab masalah kesehatan mental sangat kompleks, multifaktor. Ada faktor internal individu dan faktor eksternal, dari luar individu. Faktor internal seperti genetik, cedera kepala yang cukup parah, hingga gangguan pada otak, pengaruh hormon, dan lain-lain. Faktor eksternal bisa dari keluarga seperti pola asuh dan “luka pengasuhan”.


Faktor sosiokultural seperti ekonomi, budaya, dan media sosial juga bisa menjadi salah satu sebab. Kebijakan yang ditetapkan oleh negara dalam hal pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lain-lain yang menyebabkan banyak masalah, seperti kenaikan bahan pokok, hilang dan sulitnya pekerjaan, biaya pendidikan yang tinggi, pengangguran, dan lain-lain.


Faktor sistem kehidupan yang mengatur kehidupan saat ini juga tidak bisa diabaikan, yaitu sistem sekuler kapitalisme yang gagal mengatur kehidupan. Alhasil, lahir manusia-manusia bermental rapuh. Sistem ini membuat banyak orang—termasuk kaum muslim—tidak memahami tujuan hidupnya.


Sistem kapitalisme berasas sekuler juga berhasil menggiring kaum muda khususnya untuk jauh dari pemahaman agama. Mereka cenderung berperilaku mengikuti hawa nafsunya, ingin bebas bersikap tanpa aturan. Akibat sistem rusak inilah, tidak heran jika produk yang dihasilkan pun rusak, salah satunya hadirnya generasi terganggu kesehatan mentalnya, berpenyakit mental.


Dalam masyarakat sekuler merasa bahwasanya tujuan hidup mereka hanyalah untuk mencari kesenangan dunia yang berstandar pada materi. Oleh karenanya, ketika materi yang berupa harta, jabatan, dan prestise tidak mampu mereka gapai, mereka akan merasa gagal dan akan disingkirkan dari hiruk pikuk kehidupan. 


Oleh sebab itu, cepat atau lambat, banyak orang yang akan mengalami depresi dan putus asa. Begitu pula ketika mereka ditimpa ujian atau kesulitan hidup, mereka tidak mampu menanganinya dengan cara yang benar. Justru memilih jalan pintas, yaitu bunuh diri. Tidak heran, meski berpuluh-puluh tahun Hari Kesehatan Mental diperingati, isu kesehatan mental justru makin masif.


Sebagai agama yang sempurna, Islam memiliki aturan yang dapat menyelesaikan permasalahan generasi, termasuk gangguan mental. Penyakit ini sebetulnya lahir dari peradaban Barat yang memiliki pandangan sekuler kapitalisme. 

Akan tetapi, berbeda dengan kapitalisme, Islam memiliki gambaran ideal mengenai karakter pemuda. Dalam Islam, pemuda tidak akan mengalami gangguan mental sebab sedari buaian ia kenyang akan kasih sayang orang tuanya. Sang ibu akan benar-benar menjalankan fungsinya sebagai ummun warabbatul bait. Ia akan serius mengurus anak-anaknya dan menjadikan rumah seolah baiti jannati. Artinya, dari rumahlah kebahagiaan dan ketakwaan akan disemai oleh seluruh anggota keluarga.


Anak yang kenyang akan kasih sayang dan dididik dari ibu yang bersungguh-sungguh dalam pengasuhan, tentu akan menjadi kuat, stabil, dan bermental baja. Ini karena ia akan fokus pada tujuan dari hidupnya, yaitu beribadah kepada Allah Taala.


Pendidikan di sekolah pun berbasiskan akidah Islam yang akan melahirkan pemuda cerdas bersyahsiah Islam. Sedari dini, ia menimba ilmu tanpa direcoki dengan “gangguan mental”. Ia akan fokus belajar dan mendalami ajaran agamanya sebagai bekal hidup dan menjadi sebaik-sebaiknya manusia, yaitu yang paling bermanfaat bagi sesamanya.


Sistem sosial budaya Islam yang khas, yaitu budaya amar makruf, akan menjadikan setiap individu saling memperhatikan sesamanya. Perundungan tidak akan marak sebab semua anak paham bahwa menyakiti sesamanya adalah dosa besar. 

Begitu pun sistem informasi yang berkembang, dikontrol penuh oleh negara sebab fungsi media adalah wasilah siar Islam yang akan makin menumbuhkan suasana keimanan di tengah masyarakat.


Negara sebagai pengurus dan pelindung rakyatnya juga akan sigap terhadap seluruh permasalahan. Ia akan mengkaji secara bersungguh-sungguh atas problem rakyatnya, kemudian menetapkan kebijakan yang fokus pada penyelesaian masalah dan merujuk pada Al-Qur’an dan Sunah. Wallahu'alam

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update