Oleh : Ummu Azzura
Fenomena FOMO (Fear Of Missing Out), FOPO (Fear of Other Peoples Opinion), dan YOLO (You Only Live Once) semakin mempengaruhi pola konsumsi masyarakat diera digital. Jika dulu transaksi dilakukan secara tatap muka, kini semuanya telah beralih ke arah digital. Transaksi dan interaksi dilakukan secara virtual melalui platform media sesial seperti e-commerce, Facebook dan Instagram. Perubahan ini terjadi karena perubahan zaman yang membuat konsumen dan pelaku bisnis harus beradaptasi. Namun, perubahan ini tidak hanya memberikan kemudahan, tetapi juga menimbulkan fenomena perilaku konsumsi yang tidak rasional. KENDARIPOS.FAJAR.CO.ID (21/01/25)
FOMO (Fear Of Missing Out) mengacu pada rasa takut yang dialami seseorang akan ketinggalan pada sesuatu yang viral dan populer. Hal ini menimbulkan perilaku impulsive buying, dimana konsumen membeli sesuatu tanpa perencanaan yang matang atau hanya karena ikut-ikutan tren. Misalnya seperti berbondong-bondong membeli tiket konser Blackpink meskipun tidak fans pada girl group tersebut. Atau seperti boneka labubu yang viral setelah Lisa Blackpink mengunggah fotonya dengan boneka tersebut, sehingga masyarakat berlomba-lomba membeli boneka labubu meskipun dibandrol dengan harga yang sangat mahal.
Kemudian ada FOPO (Fear of Other Peoples Opinion), salah satu faktor yang mempengaruhi pola konsumsi masyarakat. Dimana, FOPO berarti rasa takut atas penilaian orang lain terhadap dirinya, yang membuat seseorang membeli suatu produk hanya demi pencitraan. Misalnya, seseorang membeli suatu produk agar diterima disuatu komunitas tertentu.
Selain itu ada YOLO (You Only Live Once) atau "hidup hanya sekali" mendorong seseorang untuk menjalani hidupnya sesukanya dan menikmati hidupnya tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang.
Melihat fenomena-fenomena yang terjadi seperti penjelasan diatas, telah menggambarkan bagaimana saat ini seseorang tidak memiliki tujuan hidup yang jelas, sehingga mudah terbawa arus. Penerapan sistem sekuler dimana manusia berpaling dari aturan agama, membuat mereka menjalani hidupnya sesuka hati mereka, meskipun hidup yang mereka jalani tanpa tujuan dan telah kehilangan arah. Liberalisme yang telah menancap kuat pada benak masyarakat juga semakin membuat mereka menjalani hidup sebebas-bebasnya tanpa memikirkan resiko yang akan dihadapi dan tanpa memikirkan aturan Tuhan. Fenomena-fenomena diatas tentu akan membawa dampak buruk dalam hidup seseorang, dan ini bukan sesuatu yang patut untuk ditiru. Gaya hidup orang kafir yang sangat tidak pantas untuk dilakukan oleh seorang muslim.
Dalam Islam, seorang muslim harus memiliki aqidah Islam yang kuat. Sehingga seorang muslim akan memiliki tujuan hidup yang jelas, yaitu beribadah kepada Allah dan semata-mata hanya untuk mencari ridho Allah. Sehingga, dengan keyakinannya kepada Allah mendorong muslim untuk taat kepada aturan Allah dalam menjalani hidupnya. Seorang muslim tidak akan mudah tercemari dengan fenomena batil seperti FOMO, FOPO dan YOLO. Seorang muslim tidak akan ikut-ikutan tren atau mengikuti sesuatu hanya karena telah viral. Namun, seorang muslim akan melihat apakah sesuatu yang viral ini baik atau tidak, dibutuhkan atau tidak sehingga tidak akan terjadi perilaku konsumtif atau perilaku boros yang mendorong seseorang membeli sesuatu yang tidak berguna. Apalagi, perilaku ini adalah perbuatan yang dilarang oleh Allah, sebagaimana firmannya "Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya." (QS. Al Isra: 27).
Seorang muslim juga tidak akan menjalani hidupnya sesuai dengan pendapat orang lain seperti fenomena FOPO (Fear of Other Peoples) yang sangat memikirkan pendapat orang lain. Namun, seorang muslim dalam beraktivitas, senantiasa menjaga agar apa yang dia lakukan sesuai dengan hukum syara'. Karena sesungguhnya manusia tidak butuh validasi manusia yang lain. Akan tetapi, manusia itu butuh akan validasi dari Allah. Apa yang Allah halalkan dilakukan dan apa yang Allah haramkan ditinggalkan. Maka, seorang muslim sulit untuk disetir oleh manusia-manusia liberal yang hanya mengikuti hawa nafsunya. Tidak memaksakan keadaan untuk terlihat keren dan stylish di mata manusia, tidak harus memakai barang-barang branded yang memiliki harga yang fantastis. Karena seorang muslim senantiasa mengedepankan sikap qonaah yaitu merasa cukup dengan apa yang ia punya.
Selain itu, seorang muslim juga tidak akan meniru fenomena YOLO (You Only Live Once) dimana seseorang menjalai hidup sesuka hatinya tanpa memikirkan konsekuensi yang akan dia hadapi. Seorang muslim akan selalu mempertimbangkan apapun aktivitasnya, apakah apa yang akan dia lakukan bertengangan dengan syariat Islam atau tidak. Hidup hanya sekali, maka hidup lah sesuai aturan Allah. Karena seorang muslim paham betul bahwa ia akan mempertanggung jawabkan apa yang ia perbuat selama di dunia. Sehingga seorang muslim selalu berhati-hati dalam berbuat. Apalagi hanya membeli sesuatu yang sia-sia dan mubazir. Justru karena hidup hanya sekali, maka seorang muslim tidak akan menyia-nyiakan waktunya selama di dunia.
Wallahu'alam.

No comments:
Post a Comment