Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Guru Ngonten: Tak Pantas atau Tak Apa?

Wednesday, February 12, 2025 | Wednesday, February 12, 2025 WIB Last Updated 2025-02-12T15:09:22Z

Oleh Rohaedah

Di era digital saat ini, penggunaan media sosial sudah sangat masif penggunaanya. Baik hanya sekedar _scroll_ baca berita hingga membuat sebuah konten. Demi mengaktualisasikan diri ataupun untuk menghasilkan cuan.

Pada era digital ini juga, media sosial telah menjadi panggung baru bagi banyak profesi, termasuk guru. Tidak hanya sebagai pendidik di ruang kelas, guru kini juga hadir sebagai konten kreator di platform seperti Youtube, Facebook, Instagram dan Tiktok. Fenomena ini membawa dampak yang signifikan, baik dalam membangun citra profesi guru maupun dalam mengubah cara masyarakat melihat dunia pendidikan. 

Namun, dari kehadiran para guru yang berkonten ria di berbagai platform medsos saat ini, ada beberapa hal yang mendatangkan perhatian dan reaksi dari beragam pihak, terkait keterlibatan dan isi konten yang disajikan para guru ini. Seperti berita dari salah satu guru di SMAN 1 Mempawah, Kalimantan Barat yang viral belum lama ini. Sang guru disebutkan lebih senang _ngonten_ TikTok daripada melaksanakan tugasnya menjadi guru. Apalagi karena kesibukan _ngontennya_ yang tidak ada hubungannya dengan peran edukasinya sebagai guru, guru tersebut sampai lalai mengisi Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS), hingga mengakibatkan para siswanya terancam tidak bisa mengikuti Seleksi Nasional 2025 berdasarkan prestasi (SNBP) (Kaltimpost.id, 05/02/2025).

Namun ada fakta lain juga dari guru yang justru membuat konten edukasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan menjangkau lebih banyak siswa. Konten edukasi yang dibuat yaitu berupa video pembelajaran, modul online, atau sumber daya pembelajaran digital lainnya. Seperti yang dilakukan oleh dua guru dari dua sekolah yang berbeda, yaitu Adelia Nurhaliza dan Benny Gigih. 

Dilansir dari laman liputan6.com (21/05/2023), Benny yang merupakan guru kesenian di sebuah sekolah dasar di Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, jadi viral di media sosial dengan konten menari, yang salah satunya disebut "ala pertunjukan musik Korea Selatan". Benny bersama murid-muridnya tampil  menarikan lagu "Flower" dari Jisoo Blackpink hingga menjadi sensasi online. Benny mengatakan bahwa ia berusaha melakukan pendekatan melalui apa yang disukai oleh siswa-siswinya, termasuk hobi mereka, agar kelak mereka menjadikan hobinya jadi berguna untuk orang lain.

Sementara Adelia, guru di Sekolah Dasar Negeri 4 Pakemitan, Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat berhasil mengubah jam pelajaran matematika yang biasanya menegangkan, jadi menyenangkan.

Adelia menggunakan pendekatan personal yang ia anggap relevan dengan gaya anak-anak di generasi saat ini, salah satunya dengan metode bernyanyi. Hingga akhirnya Adelia terkenal lewat lagu "Satuan Berat" di TikTok.

Dari fenomena guru-guru dengan sepak terjang mereka di media sosial, mengingatkan kita pada satu filosofi Jawa, bahwa guru adalah sebuah kata yang mempunyai makna digugu dan ditiru. _"Digugu"_ artinya perkataannya harus bisa dipertanggungjawabkan, sedangkan _"ditiru"_ memiliki makna sikap dan perbuatannya dapat menjadi teladan bagi siswanya. Pemberian julukan dan makna istilah guru tersebut menyiratkan bahwa seorang guru memiliki peran yang sangat besar dalam dunia pendidikan. Keteladanan guru adalah sebagai kunci. 

Seperti halnya guru di masa lalu, sering menjadi figur moral di tengah masyarakat. Mereka dikenal sebagai pribadi yang jujur, bijaksana dan adil. Peran ini tidak hanya berlaku di dalam kelas, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat. Kata-kata guru menjadi "titah" yang dihormati dan tindakannya dianggap sebagai standar kebaikan. Bahkan saat guru sudah pensiun pun, masyarakat tetap menganggapnya sebagai guru. Hal tersebut terlihat dari sapaannya yang tetap menggunakan sapaan "Pak Guru" atau "Mbah Guru". 

Pada masa lalu, pengaruh guru dalam kehidupan siswa sangat kuat. Dalam ekosistem pendidikan yang sederhana, guru adalah sumber ilmu utama. Tidak ada internet, video tutorial, atau media sosial yang mengalihkan perhatian siswa. Hubungan antara guru dan siswa dibangun di atas kepercayaan dan penghormatan. Guru mengenal siswanya secara personal, sehingga proses belajar menjadi lebih bermakna.

Lalu di masa sekarang, dengan kemajuan teknologi dan media sosial yang telah ada, yang turut menarik para guru untuk menggunakannya, baik untuk personal maupun untuk kepentingan perannya sebagai guru, bagaimana sahabat muslimah menilai fenomena guru yang turut berkonten ria ini? Apakah pantas dan tak apa-apa, atau lebih baik tidak usah berkonten ria dan fokus pada perannya sebagai guru saja, karena berkonten ria justru bisa memunculkan celah yang membuat guru dapat melalaikan peran dan tugasnya sebagai guru? Lalu bagaimana dampaknya nanti bagi siswa-siswi, dunia pendidikan dan hakikat pendidikan itu sendiri.

Wallaahu a'laam bisshawaab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update