Oleh: Resky Ilmar Rahmadayanti (Mahasiswi UM Buton)
Dilansir KOMPAS.com (26/01/2025) Israel dan Hamas saling menuduh gagal menepati perjanjian gencatan senjata, Diberitakan dari BBC, perselisihan itu terjadi pada Sabtu (25/1/2025), ketika ribuan warga Palestina dicegah di Koridor Netzarim saat hendak kembali ke rumah mereka di Jalur Gaza utara.
Pemerintah Israel memblokir jalan utama dan menuduh Hamas melanggar ketentuan kesepakatan gencatan senjata. Sebelumnya, Hamas telah membebaskan empat tentara perempuan Israel, sedangkan Israel membebaskan 200 tahanan Palestina.
Sementara itu, Ratusan warga Jenin di tepi barat, Palestina, terpaksa meninggalkan rumah mereka setelah pesan peringatan dari drone dengan pengeras suara menyuruh mereka untuk mengungsi.
Hal ini terjadi di tengah operasi militer besar yang memasuki hari ketiga di kota tersebut. Operasi itu mencakup penghancuran sejumlah rumah di kamp pengungsi Jenin.
Operasi ini dilakukan dengan dukungan kendaraan militer dalam jumlah besar, helikopter, dan drone. Operasi tersebut dimulai seminggu setelah gencatan senjata di Gaza, yang menjadi momen pertama pertukaran tawanan Israel dengan tahanan Palestina sejak gencatan singkat pada November 2023.
Kesepakatan gencatan senjata yang terjadi antara Zionis Israel dan Hamas menciptakan euforia di kalangan umat Islam. Secara nyata, gencatan senjata memang memberi jeda bagi muslim Palestina untuk bebas dari kejahatan kejahatan Zionis dan negara pendukungnya AS.
Menyikapi gencatan senjata yang terjadi di Palestina, pengamat politik internasional Budi Mulyana mengatakan, memang patut disyukuri, tetapi itu bukan solusi. “Gencatan senjata itu memang melegakan, tetapi sifatnya sementara.
Memang bisa kita syukuri, tetapi tidak bisa menghentikan kita untuk membebaskan Palestina secara keseluruhan, karena penjajahan masih berlangsung di sana,” ujarnya di kanal One Ummah TV: “Live 2601, Puluhan Ribu Massa di Depan Kedubes AS!”, Ahad (26-1-2025).
Menurutnya, gencatan senjata, dalam kaca mata dunia internasional itu dianggap kemajuan dari sebuah konflik yang demikian keras. “Di satu sisi ada kelegaan dari kondisi yang berat itu, tetapi itu tidak tidak menghilangkan fakta bahwa penjajahan itu masih berlangsung sehingga ini juga tidak boleh menghentikan kita untuk bisa menyelesaikan akar masalahnya,” tegasnya.
Penjajahan yang didukung negara-negara Barat pun menjadi sumber kekuatan untuk zionis. Mereka bersatu padu mendukung serangan Israel dengan alasan pertahanan terhadap rudal Hamas.
Pembelaan atas Palestina hanya dilakukan oleh warga sipil mereka yang tidak memiliki kekuatan politik. Bahkan AS selalu setia menjadi pendukung utama entitas Yahudi. Buktinya, dalam voting rancangan resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) tahun lalu, saat mayoritas anggota kongres menyetujui keanggotaan penuh Palestina dalam organisasi internasional PBB, namun AS menolaknya dengan menggunakan hak vetonya.
Berbanding terbalik dengan umat muslim yang masih sukar untuk meniru negara-negara Barat dalam mendukung genosida yang dilakukan zionis Israel. Umat Muslim yang jumlahnya mencapai 2 miliyar lebih ternyata belum mampu membebaskan Palestina dari kebiadaban zionis karena masih terpenjara dengan paham nasionalisme sehingga hal inilah yang menjadikan umat Islam yang dahulunya menjadi satu kesatuan negara menjadi tersekat-sekat batas teritorial berdasarkan prinsip kebangsaan.
Hal ini tidak bisa lepas dari terjadinya kolonialisme yang dulu dilakukan oleh Barat di dunia Islam. Mereka menanamkan paham nasionalisme yang dibawa Barat. Seperti di Indonesia, dengan alasan jarak antara Indonesia dengan Palestina yang ribuan kilometer itu menjadi pembenaran keterpisahan itu.
Padahal, sebenarnya secara faktual umat Islam ini masih juga bersatu dalam ritualisme, misalnya pada aktivitas haji, yakni seluruh umat Islam sedunia bisa dipersatukan dalam ritualisme. Namun, saat memandang Palestina tidak demikian.
Perampasan rumah dan tanah kaum muslim Palestina yang dilakukan oleh entitas Zionis Yahudi, satu-satunya solusi untuk mengatasinya adalah merebutnya kembali, apalagi dengan membaginya kepada Yahudi sebagaimana konsep solusi dua negara (two state solution).
Ditambah adanya pembantaian dan genosida kepada kaum muslim Palestina, solusinya adalah melawan dengan aktivitas jihad fi sabilillah dalam rangka menegakkan kalimat Allah serta membela darah dan nyawa kaum muslim.
Umat harus sadar bahwa gencatan senjata tidak akan menyelesaikan penjajahan dan genosida di Palestina. Persoalan ini hanya akan tuntas dengan adanya jihad dan tegaknya khilafah.
Jika kesadaran umat terbentuk, maka umat akan ikut berjuang untuk mewujudkannya, sehingga terwujudlah jihad dan tegaknya Khilafah.
Umat membutuhkan adanya kepemimpinan jamaah dakwah ideologis untuk menghantarkan pada tujuan sebenarnya yaitu pembebasan Masjidil Aqsha dari zionis.
Solusi tuntas untuk semua ini adalah tegaknya Khilafah, yakni kepemimpinan umum atas seluruh kaum muslim yang akan berperan sebagai junnah (perisai) untuk membela tanah kaum muslim, juga kemuliaan Islam dan kaum muslim, tidak hanya di Palestina tetapi juga di seluruh dunia. Ini sebagaimana sabda Rasulullah saw.,
“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu junnah (perisai) yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Muttafaqun ’Alayh dll.)
Berdasarkan catatan sejarah ini kita bisa melihat bahwa masuknya Palestina ke pangkuan kaum muslim adalah melalui jihad fi sabilillah di bawah komando seorang khalifah, pemimpin kaum muslim sedunia.
Untuk itu, bulan Rajab dan peristiwa agung Isra Mikraj Nabi Muhammad saw. harus menjadi momentum emas untuk memahamkan umat mengenai akar masalah penjajahan Palestina. Kemuliaan yang Allah berikan pada tanah Palestina akan mendorong terwujudnya kembali kemuliaan umat Islam melalui tegaknya institusi yang menerapkan syariat kafah, pelaksana jihad, dan pemersatu umat, yakni Khilafah.
Bulan Rajab dan peringatan Israk mikraj harus dimanfaatkan untuk memahamkan umat atas akar masalah penjajahan Palestina dan kemuliaan yang Allah berikan pada tanah Palestina, untuk mendorong terwujudnya Kembali kemuliaan umat islam. Wallahu'alam

No comments:
Post a Comment