Oleh : Indah Hapsari
Vice Presiden MetLife, Todd Katz yang dikutip dari New York Post (18-1-2025), mengatakan bahwa Gen Z tengah menghadapi krisis paruh baya (midlife crisis) lebih awal dari yang seharusnya. MetLife adalah sebuah perusahaan asal AS yang bergerak di bidang penyedia program asuransi, anuitas, dan manfaat pegawai terbesar didunia.
Krisis paruh baya adalah periode peralihan dalam hidup seseorang yang biasa terjadi antara usia 40-60 tahun. MetLife mengatakan bahwa sebanyak 38% dari Gen Z (kelompok usia 13-28 tahun) mengalami krisis paruh baya akibat tekanan finansial yang luar biasa. Krisis ini ditandai dengan adanya kesehatan yang menurun, merasa kehilangan arah dan tujuan, serta sering mengambil keputusan yang impulsif.
Indonesia National Adolescent Mental Health Survey pada 2022 juga menemukan 5,5% remaja didiagnosis memiliki gangguan mental dalam 12 bulan terakhir, biasa disebut Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Lalu Sekitar 34,9% memiliki masalah kejiwaan (ODMK).
Raymond Chin, CEO platform Ternak Uang yang memiliki pengalaman mengelola perusahaan dengan 99% karyawannya dari kalangan Gen Z menyebut empat kelemahan Gen Z yang fatal, yakni sikap terlalu sensitif, sering curhat di medsos, sikap naif yang terbentuk dari paparan medsos, dan selalu ingin instan.
BPS pada tahun 2023 mengungkapkan bahwa pengangguran tertinggi di negeri ini berasal dari kalangan Gen Z, yakni 19,40% dari total pengangguran 7,86 juta orang. Artinya, ada sekitar 1,5 juta Gen Z menganggur padahal usianya produktif. Gen Z lebih memilih tidak bekerja daripada bekerja di tempat yang tidak membuatnya bahagia.
--
Hasil dari Kapitalisme
--
Sistem sosial yang liberal dan materialistis menjadikan Gen Z hidup tanpa arah. Media sosial memperburuk perilaku Gen Z yang sering merasa FOMO (takut tertinggal) terhadap sesuatu yang sedang trending. Hal ini membuat kesehatan mental mereka sering terganggu.
Sistem ekonomi kapitalisme membuat Gen Z dan masyarakat pada umumnya mudah merasa frustrasi, karena kehidupan mereka tidak bisa dikatakan sejahtera. Sistem saat ini tidak menjadikan negara sebagai pihak yang menjamin kebutuhan hidup rakyatnya.
Sistem pendidikan yang sekuler menjadikan Gen Z tumbuh tanpa bimbingan agama Islam. Pemahaman liberal dan materialistis menguasai pola pikir. Inilah yang menjadikan Gen Z lemah dan berdampak pada kesehatan mental.
Sistem politik demokrasi menjadikan beban hidup masyarakat termasuk Gen Z semakin berat. Kebijakan zalim seperti pungutan pajak yang jumlahnya makin besar dan beragam serta subsidi yang semakin berkurang.
--
Gen Z Harus Sadar dan Berjuang
--
Krisis paruh baya di kalangan Gen Z terjadi karena telah dirusak oleh kehidupan kapitalisme. Kehidupan ini sangat bertolak belakang dengan kehidupan Islam yang berlandaskan akidah Islam. Gen Z harus menyadari bahwa segala sesuatu yang menimpa mereka dan masyarakat merupakan buah dari penerapan sistem kehidupan sekuler kapitalisme.
Apabila mereka memahami akidah Islam dengan baik dan benar, mereka akan memahami tujuan penciptaan semata hanyalah untuk beribadah kepada Allah. Mereka akan berlomba menjadi sebaik-baiknya manusia, yakni yang paling bermanfaat untuk sesamanya. Dengan ini, kemampuan Gen Z dalam menggunakan teknologi akan mereka persembahkan untuk kemaslahatan umat. Sebagaimana sabda Rasulullah saw., "Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia." (HR Ahmad, Ath-Thabrani, Ad-Daruquthni).
Maka dari itu, harus dibangun kesadaran pada mereka akan pentingnya kewajiban mengembalikan kehidupan Islam dengan menerapkan aturan Allah secara kaffah (menyeluruh). Apabila aturan Islam yang diterapkan secara kaffah akan membawa keberkahan dan kemuliaan bagi peradaban umat. Allah Ta'ala berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu." (QS. Al-Baqarah [2]: 208).
Gen Z harus berjuang meningkatkan landasan iman dan takwa agar arah perjuangannya jelas, hanya menuju ridho Allah Taala. Gen Z juga harus berjuang bersama barisan dakwah Islam yang fokus mengembalikan kehidupan Islam.
Allah Taala telah menegaskan keutamaan dan kemuliaan orang-orang yang berjuang menerapkan kewajiban tersebut dalam banyak ayat, diantaranya dalam ayat, "Demi masa. sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran." (QS. Al-'Ashr [103]: 1-3).

No comments:
Post a Comment