Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Banjir Lagi dan Lagi, Hanya Islam Solusi Hakiki

Friday, February 14, 2025 | Friday, February 14, 2025 WIB

 


Oleh Ummu Nasywa


Member AMK dan Pegiat Dakwah


Jalur lintas darat kawasan Sapan, Bojongsoang yakni jalan penghubung dari arah Kabupaten ke Kota Bandung rute Derwati, Gedebage beberapa waktu lalu sempat tergenang banjir. Warga berharap agar pemerintah secepatnya bisa mengatasi permasalahan ini. Pada hari selasa pagi (28/1/2025) sekitar pukul 08.30 WIB, genangan air  nampak masih cukup tinggi. Meski demikian beberapa pengendara sepeda motor masih tetap mencoba melewatinya. Kondisi ini kerap kali terjadi bahkan sampai berhari-hari menunggu surut, akibatnya para pengendara banyak yang mengeluh.


Menurut salah satu warga Ciparay, Ichwan (3), banjir di Jalan Sapan lama surutnya bisa hitungan hari. Sementara  di titik lain yang cepat surutnya hanya hitungan jam saja. Hal ini mengakibatkan ketidaknyamanan bagi para pengguna jalan yang rutin melintas setiap harinya. Warga pun menuntut adanya perbaikan, kalau perlu bangun sebanyak-banyaknya kolam retensi karena di kawasan ini pun seringkali menimbulkan bau yang kurang sedap, pembuangan limbah pabrik-pabrik diduga menjadi penyebabnya. (www.detik.com, 28/01/2025)


Rakyat sebenarnya sudah sangat lelah harus berhadapan dengan banjir yang terus terjadi berulang kali setiap musim penghujan tiba. Namun alih-alih disolusikan, musibah ini terus terjadi hingga sekarang. Bahkan ada beberapa kawasan tertentu yang seolah menjadi daerah langganan  karena setiap tahunnya selalu kebanjiran.


Meskipun ada kebijakan membangun kolam retensi tapi kenyataannya belum juga menampakkan hasil. Entah sampai berapa lama lagi rakyat diminta selalu bersabar menerima kondisi tersebut. Setiap tahun harus menjadi sasaran, yang terkadang memakan korban jiwa. Rumah-rumah terendam, penduduk harus mengungsi ke tempat aman. Muncul juga kekhawatiran setelah banjir, akan marak bermunculan wabah penyakit seperti diare dan gatal-gatal pada kulit.


Berulangnya masalah banjir yang melanda tidak bisa dilepaskan dari maraknya pembangunan wilayah yang tidak direncanakan secara komprehensif dan mendalam. Wilayah pegunungan yang mestinya menjadi daerah serapan, ternyata sudah dipenuhi permukiman. Pembangunan properti telah mengubah bentang alam di daerah hulu sehingga terjadi degradasi atau deforestasi kawasan hutan. Begitu juga dengan pengembangan fasilitas umum, seperti jalan, sekolah, dan rumah sakit.


Berbagai kemajuan tersebut dilakukan tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan. Demi mengejar cuan, pengembangan dilakukan secara serampangan. Inilah model pembangunan ala kapitalisme yang hanya mengutamakan keuntungan dan abai atas dampak terhadap lingkungan dan tata kota secara keseluruhan.


Wajar jika kemudian timbul pertanyaan, "Sudahkah pemerintah sungguh-sungguh memahami akar persoalan sehingga mampu memberikan solusi tuntas?" Karena seringkali jalan keluar yang ditawarkan hanya tambal sulam saja, bahkan menimbulkan kasus baru. Suara rakyat yang mengeluhkan dampak terjadinya banjir justru diabaikan begitu saja tanpa menemukan jalan keluar. Masyarakat seolah dituntut untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, sungguh miris.


Berbeda sekali dengan pemerintahan Islam yang begitu khawatir akan ada pengaduan dari rakyatnya yang terzalimi oleh kebijakan penguasa. Para pemimpin Islam memahami betul bahwa hakikat jabatan yang diembannya adalah amanah yang harus dijalankan untuk kemaslahatan umat dan akan dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Sang Khalik.


Dalam sistem Islam pembangunan dilaksanakan untuk kepentingan umat dan memudahkan kehidupan mereka. Penguasa adalah ujung tombak kemajuan di segala bidang. Oleh karena itu, sebagai pemimpin tertinggi yang mengurus (raa’in) rakyat harus menjalankan semua kebijakan berdasarkan aturan Allah dan Rasul-Nya, bukan berdasarkan kemauan para investor.


Paradigma pembangunan Islam yang berdasarkan syariat dan berorientasi pada kemaslahatan rakyat ini telah diterapkan selama berabad-abad lamanya oleh Khilafah. Tidak hanya tertata dengan baik hingga menghasilkan kenyamanan bagi warga, tata kotanya bahkan menjadi simbol peradaban Islam yang gemilang. Sebagian kota menjelma menjadi pusat politik dan pemerintahan, ekonomi, ilmu pengetahuan, bahkan sebagai pusat studi agama.


Khilafah menerapkan konsep hima, yaitu kawasan yang dilindungi. Di mana ada daerah  yang tidak dibolehkan untuk diambil hasilnya, apa pun itu, demi menjaga kelestarian lingkungan. Dalam konteks hari ini disebut dengan hutan lindung. Dengan demikian, tidak hanya pesat, pembangunannya pun akan senantiasa memperhatikan kelestarian lingkungan. Khalifah atau pemimpin harus memastikan penerapan syariat Islam di seluruh aspek kehidupan. Dengan demikian, terwujudlah keamanan, kenyamanan serta kemakmuran bagi seluruh warga dan dirasakan oleh makhluk lainya. Hingga tercipta Rahmatan Lil 'Alamin, rahmat bagi seluruh alam.


Wallahu a'lam bi ash shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update