Gendang di tabuh agar tak ada keluh
Lirih menelisik tanpa gaduh
Serpihan harapan pun tertumpu dan membasuh
Harap yang hilang perlahan tumbuh
Namun, setiap desersi menjadi pasti
Ekstrapolasi kembali tak tertepati
Alih-alih menjadi solusi hakiki
Pungutan jalur lain makin menjadi
Memberi haruslah dari hati
Tidak mencari peluang kembali
Memberi bukan membebani wahai tuan
Tetapi, meringankan dengan santunan
Rakyat negeri ini tak lagi harmoni
Dengan janji-janji yang hanya imajinasi
Tak perlu mengumbar perhatian semu
Hanya karena ingin senantiasa di jamu
Wahai para pemimpin negeri
Tidakkah engkau mengerti kami
Jika kami kian tak memiliki empati atas setiap solusi basi
Karena solusi yang ditawarkan tidak hakiki
Sejatinya engkau junnah kami
Bukanlah pemalak hakiki
Tanggung jawabmu sudah pasti
Kelak di akhirat akan diadili
Wahai tuan, lihatlah penderitaan kami!
Mengapa engkau patuhi oligarki?
Bukankah engkau muslim sejati?
Lalu di mana tempat hati nurani?
Matikah karena hubbundunya?
Butakah karena jabatan sementara?
Tuhanmu dan Tuhanku sama
Kelak engkau akan tahu ketika vignetmu terpampang di layar kaca
Penyesalan tiada arti
Ketika nyawa tak lagi terpatri
Menanti siksa yang sudah pasti
Negeri akhirat janji Ilahi yang tak pernah diingkari
By Ummu Aisyah
Rancaekek, 21 Februari 2025

No comments:
Post a Comment