Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Mitigasi Bencana Lemah, Negara Semakin Lengah

Friday, January 31, 2025 | Friday, January 31, 2025 WIB


Oleh: Vella (Relawan Opini Konawe Selatan) 


Banjir bandang adalah salah satu bencana alam yang sering terjadi di Indonsia, bencana ini merupakan suatu peristiwa yang mengancam kehidupan masyarakat, baik dari faktor alam, maupun manusia, yang menyebabkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan masih baanyak lagi.


Sebagaimana dilansir dari beritasatu.com, banjir bandang menerjang dusun Peh, desa Gunung Sari, kecamatan Maesan Bondowoso pada kamis (9/1/2025). Kedatangan air bercampur lumpu yang disertaai ranting kayu itu meluap hingga ke ruas jalan raya dan sejumblah pemukiman warga. Selain itu, tampak juga ternak warga terjebak di tengah derasnya terjangan arus banjir.


Menghadapi banjir tahunan perlu langkah responsif dan antisipatif. Pada umumnya kesadaran masyarakat hanya muncul saat terjadi bencana saja, misalnya banjir, setelah bencana berakhir, masyarakat akan kembali melakukan rutinitas dan mengabaikan dampak dari becana banjir tersebut.


Terlepas dari takdir Tuhan, alih fungsi lahan dibungkus kebakaran, penggundulan hutan, sampai mempersempit lahan resapan air menjadi faktor pendukung terjadinya banjir bandang. Berulang kebijakan penguasa negeri ini hanya berpihak atau mementingkan para korporasi atau para oligarki. Namun tidak memikirkan ulang sebelum memutuskan satu kebijakan apakah akan berdampak kepada masyarakat atau tidak. Misalnya saja pemberian izin kepada para pengusaha untuk mengelola berpuluh-puluh hektare lahan atau pembangunan infrastruktur yang menguntungkan pengusaha dan yang menjadi korban adalah rakyat. 


Negara seperti lepas tangan, dengan kata laian mereka tidak bertanggung jawab akibat buruknya untuk masyarakat. Oligarki menjadikan pemimpin negara sebagai alat memperlancar urusanya dalam memperluas lahan perkebunan ataupun mengolah hutan untuk menumpuk cuan.


Dalam sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan sehari-hari, melahirkan para pemimpin yang lalai dalam segala urusan, lemahnya mitigasi atau antisipasi menghadapi musibah dan kecerobohan penguasa dalam menghadapi musiibah, seperti banjir tahunan. Seharusnya sudah dipersiapkan memang solusi antisipasi sebelum terjadi banjir, karena banjir ini bukan perkara yang baru muncul tapi sudah berulang-ulang. Mestinya negara hadir sebagai pelindung dan pelayaan umat di setiap rakyat membutuhkan, namun sayangnya negara hari ini telah lalai melaksanakan tugasnya.


Inilah bukti ketika kita masih menjadikan sistem kapitalisme sekularisme sebagai aturan dalam kehidupan kita. Negara hanya menjadi regulator untuk para pengusaha. Karena siapa yang memiliki uang dan ada manfaat yang didapat, maka itulah yanenjadi perhatian dari penguasa. 


Maka kemudian muncul pertanyaan. Tidakkah kita memikirkan mengapa banjir ini terus menerjang? Siapa dan bagaimana cara menyelesaikannya? Sudah hadirkah negara? Tepatkah mitigasi yang ada?


Tentu untuk menjawab pertanyaan ini akan muncul berbagai persepsi yang berbeda. Tergantung pemahaman dan kacamata apa yang digunakan. 


Namun, jika menggunakan kacamata Islam, pandangannya sangat lugas dan tegas. Dalam Islam negara wajib menghindarkan rakyatnya dari kemudaratan, termasuk bencana. Negara akan memerlukan perencanaan matang dalam membangun kota/desa dan berorientasi pada keselamatan seluruh rakyat. Negara membangun kota berbasis mitigasi bencana. Islam telah mengantur konservasi agar ada larangan berburu binatang dan merusak tanaman demi menjaga ekosistem, Islam juga mengharuskan adanya pemetaan wilayah sesui potensi bencana berdasarkan letak geografisnya sehingga akan membangung tata ruang yang berbasis mitigasi bencana sehingga aman untuk manusia dan alam. 


Semua dilakukan oleh ngara karena Islam menjadikan penguasa sebagai raa’in dan junnah termsuk dalam menghadapi bencana. Juga yang paling penting tidak akan membiarkan para oligarki menguasai lahan seperi hari ini. Negara juga akan menghidupkan tanah mati. Jadi bisa dipastikan bahwa seluruh rakyat akan merasakan hidup dalam lingkungan yang terbebas dari bencana. Kecuali bencana yang memang sudah Sunatullah ditetapkan oleh Allah SWT. Wallahu A'lam

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update