Oleh : Annisa Al Maghfirah
(Relawan Opini)
Warga Palestina bersukacita. Gencatan senjata memberi mereka sedikit napas lega. Yang berarti menangguhkan perang genosida Israel yang telah menewaskan lebih dari 47.000 warga Palestina, sebagian besar wanita dan anak-anak, sejak 7 Oktober 2023.
Ceasefire untuk Palestina
Dilansir oleh Voa Indonesia.com (17/1/2025) pada Rabu malam 15 Januari 2025, gencatan senjata disepakati oleh Zionis Yahudi dan pejuang Palestina. Dan menurut tim mediator dari pihak Qatar, Mesir dan Amerika, gencatan senjata mulai berlaku pada hari Minggu, 19 Januari 2025.
Gencatan senjata dimulai dengan pemancaran sandera oleh Hamas dan Israel. Tiga orang sandera warga Israel telah dibebaskan oleh kelompok Hamas ke Palang Merah di Kota Gaza. Dan dari Israel menjanjikan pembebasan 90 orang sandera Palestina sebagai gantinya (bbc.com, 21/1/2025).
Zionis Si Paling Redflag
Angin segar gencatan senjata tidak bertahan lama. Warga Gaza yang sempat merasakan kebahagiaan mulai dihantui rasa takut. Pasalnya, meskipun kesepakatan gencatan senjata diumumkan, serangan-serangan dari zionis masih terus berlangsung.
Pasukan Israel dilaporkan kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan membunuh dua orang di Jalur Gaza, Senin (27/1/2025) malam waktu setempat. Sejumlah warga juga terluka akibat serangan Israel di sekitar kamp pengungsi Nuseirat di bagian tengah Gaza (kompas.com,29/1/2025)
Konstelasi Politik Dibalik Ceasefire
Adanya serangan Israel ini menjelaskan bahwa gencatan senjata bukanlah solusi tuntas atas derita Palestina. Zionis israel tidak bisa dipercaya begitu saja. Gencatan senjata inipun terjadi bukanlah karena tekanan Donald Trump kepada Netanyahu, tetapi karena Zionis tidak sanggup lagi mematahkan semangat rakyat Gaza dengan keimanannya yang sangat luar biasa.
Penyebab zionis sepakat untuk gencatan senjata pun salah satunya dampak kebakaran yang terjadi di Amerika Serikat. Kerugian yang sangat besar yang dialami Amerika mempengaruhi pendanaan terhadap Israel untuk memerangi Gaza.
Namun setidaknya masa genjatan senjata adalah masa membangun kembali semangat-semangat dan segenap kekuatan yang ada pada warga Palestina, untuk terus menyiapkan serangan, membangun kembali pemukiman yang layak, berkumpul bersama keluarga. Maka Palestina butuh solusi tuntas yang bisa menyelesaikan penjajahan ini bukan sekedar solusi sementara (baca : ceasefire).
Tidak kenal lelahnya muslim Palestina untuk terus bertahan membela Al Quds dan Palestina. Menjadi sebuah tamparan bagi setiap muslim untuk tidak sekedar mengetahui apa yang sedang terjadi tetapi mampu melihat akar masalah Palestina ini. Sampai menemukan solusi yang terbaik mengusir penjajah zionis Israel.
Solusi dua negara (two-nation state) yang digaungkan dunia bahkan para pemimpin muslim seakan-akan solusi benar dan tepat. Padahal, nyatanya ini bukanlah solusi. Sebab, ini artinya penjajah tetap dilegalkan untuk tinggal di tanah umat Islam.
Adapula anggapan bahwa Yahudi Zionis hanya membela diri. Barat bahkan mendukung klaim ini. Jelas itu klaim dusta karena hadirnya Yahudi di Palestina adalah hasil konspirasi Inggris melalui Deklarasi Balfour (1917) dan pengakuan internasional pada 1948. Padahal, ini adalah peristiwa pencaplokan tanah umat Islam setelah runtuhnya sistem pemerintahan islam (kekhilafahan Ustmani). Sangat penting bagi umat Islam untuk sadar akan kondisi ini.
Solusi Hakiki untuk Palestina
Zionis sangat bengis, bukan sekedar mencaplok wilayah namun membunuh siapapun bahkan yang seharusnya terlindungi secara internasional misalnya dokter,anak-anak hingga jurnalis. Tapi, apakah dunia menghukum kekejaman zionis ini? Sama sekali, tidak! Para pemimpin negeri muslim pun tidak menurunkan para militernya untuk melindungi nyawa rakyat Palestina. Padahal Rasulullah saw. bersabda: "Jika seorang Muslim dibunuh, maka semua Muslim wajib membantunya." (HR. Abu Dawud)
Tak cukup hanya sekedar membantu dengan mengecam, mengirim makanan, pakaian, obat-obatan dan doa. Sungguh tidak sebanding dengan bantuan yang diberi oleh sekutu zionis (AS) yang mengirimkan persenjataan. Rakyat Palestina butuh pasukan militer yang membela kehormatan mereka dan tanah Palestina yang diberkahi dari zionis.
Gencatan senjata baik sementara maupun permanen, tidak diizinkan oleh Islam. Sesungguhnya yang wajib dilakukan oleh kaum muslim adalah berjihad melawan zionis.
Solusi yang akan menuntaskan masalah penjajahan di Palestina adalah Khilafah, yakni kepemimpinan umum atas seluruh kaum muslim yang akan berperan sebagai junnah (perisai) untuk membela tanah kaum muslim, juga kemuliaan Islam dan kaum muslim. Bukan hanya di Palestina tetapi juga di seluruh dunia dengan berjihad.
Sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu junnah (perisai) yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Muttafaqun ’Alayh)
Wallahu a'lam bishowwab

No comments:
Post a Comment