Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menyiapkan Gen Z Sebagai Generasi Pelopor Perubahan

Monday, January 27, 2025 | Monday, January 27, 2025 WIB Last Updated 2025-01-27T14:36:12Z


Oleh: Isheriwati, SPdi


Gen Z merupakan generasi yang penuh dengan semangat, generasi penerus dan generasi yang sangat identik dengan perubahan. Namun disisi lain hari ini  justru potensi Generasi Z (Gen Z) malah justru  mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). 


Hal ini disampaikan oleh Staf Ahli Bidang Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan Bappenas Pungkas Bahjuri Ali pada Kamis (19-12-2024). Dengan jumlah yang mencapai 71,51 juta jiwa atau 26,7% dari total penduduk, Gen Z menjadi kelompok populasi terbesar di Indonesia. Partisipasi aktif Gen Z menjadi kunci keberhasilan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.


Pungkas menjelaskan, selama ini Gen Z telah berkontribusi mendukung SDGs, terutama melalui kampanye di medsos. Mereka mempromosikan gaya hidup ramah lingkungan, kesetaraan gender, hingga edukasi tentang SDGs. Gen Z sangat inovatif dalam memanfaatkan teknologi untuk perubahan sosial yang positif.


Pungkas menegaskan, potensi besar Gen Z harus didukung dengan kebijakan yang memungkinkan mereka untuk berkembang, seperti akses pendidikan berkualitas, pelatihan keterampilan, dan penciptaan lapangan kerja yang layak. Perlu adanya ekosistem yang kondusif agar Gen Z dapat menjadi motor penggerak pembangunan berkelanjutan.

Hal senada disampaikan oleh Wakil Ketua MPR RI Abcandra Muhammad Akbar Supratman. Pada peluncuran Kaukus Kebangsaan dan Pembangunan Berkelanjutan (KKPB) pada Selasa (26-11-2024), ia menyampaikan harapan agar tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) menjadi agenda kekinian generasi Z hingga Alpha di Tanah Air. Akbar menegaskan, SDGs bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif dari masyarakat, swasta, akademisi, dan generasi muda.


 Perhatian Gen Z terfokus pada program global SDGs yang diinisiasi oleh PBB. Program SDGs bertujuan mencapai 17 tujuan pembangunan berkelanjutan, termasuk di antaranya pengentasan kemiskinan, kesetaraan gender, lapangan pekerjaan, pertumbuhan ekonomi, dan kelestarian lingkungan.

Keberadaan 17 tujuan ini pada hakikatnya berpangkal pada persoalan-persoalan krusial yang dihadapi dunia saat ini.

Gen Z diarahkan untuk ikut menyelesaikan persoalan tersebut dengan mendayagunakan potensi digital mereka.


 Sekilas, langkah ini seolah-olah bertujuan mulia. Namun, jika kita mengkritisi pada aspek hilir, akan muncul pertanyaan mengenai pihak-pihak yang menyebabkan berbagai persoalan hingga lantas mendasari tujuan SDGs tersebut. Faktanya, kapitalisme global merupakan penyebab berbagai persoalan dunia, seperti kemiskinan, krisis ekonomi, kerusakan lingkungan, pengangguran, dan terpuruknya nasib perempuan.


Tata kelola dunia ala kapitalisme yang diaruskan negara-negara maju dan dipaksakan pada negara dunia ketiga telah mengonsentrasikan kekayaan dunia di tangan segelintir kapitalis pemilik perusahaan multinasional yang berpusat di negara-negara maju. Mereka mengisap kekayaan negara-negara dunia ketiga (termasuk Indonesia) dan menumpuknya untuk kemakmuran negara-negara maju. Hal ini tentu berdampak kemiskinan bagi negara-negara dunia ketiga.

Tidak hanya kemiskinan, perampokan SDA negara-negara dunia ketiga berdampak pada kerusakan lingkungan parah yang harus ditanggung warga lokal.


 Kekayaan alam mereka dikuasai para kapitalis, sedangkan penguasa dunia ketiga menerapkan kebijakan zalim kepada rakyatnya, di antaranya penetapan sumber pendapatan negara yang mayoritas berbasis pajak dari rakyat. Sebagai contohnya di Indonesia, pajak menyumbang lebih dari 82% pendapatan negara. Sedangkan, hal ini memperparah kemiskinan yang ada.

Kapitalisme juga memformat lahirnya penguasa yang abai terhadap rakyat, termasuk dalam penyediaan lapangan kerja. 


Jumlah pengangguran makin pesat ketika negara membuka keran impor lebar-lebar demi keuntungan para kapitalis, padahal dampaknya adalah bergugurannya industri manufaktur dalam negeri yang berujung PHK massal.

Pihak yang paling terdampak dari semua kerusakan tersebut adalah perempuan dan anak-anak. Alih-alih menyejahterakan mereka, negara justru menjadikan ketaksetaraan gender sebagai penyebab masalah perempuan. Ini demi menutupi fakta bahwa negara gagal melindungi perempuan.


Dengan sederet persoalan yang disebabkan kapitalisme ini, Gen Z diposisikan untuk ikut menyelesaikan. Ibarat para kapitalis yang berpesta, Gen Z yang mencuci piringnya. Di sektor ekonomi, Gen Z diarahkan untuk mengoptimalkan ekonomi kreatif melalui platform digital. 

Miris, pada saat Gen Z disuruh proaktif dalam bisnis kreatif, negara malah terus membuka lebar investasi asing untuk mengeruk SDA, padahal nilai ekonomi tambang berkali-kali lipat dibandingkan ekonomi kreatif.

Pada saat yang sama, negara juga melakukan relaksasi impor yang menyebabkan meningkatnya pengangguran.


*Gen Z dan Orientasi Ekonomi*


Demikianlah, pemerintah mengarahkan pemberdayaan Gen Z ke arah ekonomi untuk mendukung pencapaian tujuan SDGs. Berbagai kebijakan digulirkan di bidang pendidikan, ekonomi, perdagangan, pariwisata, seni, serta informasi dan komunikasi. Pemerintah membuka program vokasi di sekolah menengah maupun perguruan tinggi, mengadakan pelatihan, memberikan pendanaan, mengadakan pameran, dan menganugerahkan penghargaan bagi pelaku ekonomi kreatif.

Semua ini demi menggiring Gen Z berkecimpung aktif mendukung perekonomian.


Hal ini berdampak pada pembentukan karakter Gen Z. Para pemuda ini menjadi berorientasi materi dalam hidupnya. Mereka menjadikan kebebasan finansial sebagai capaian mutlak dalam hidup. Berbagai peluang mereka optimalkan demi menghasilkan cuan.

Akibatnya, nilai materi menjadi aspek dominan dalam hidup Gen Z saat ini. Segala sesuatu, termasuk kesuksesan hidup dan standar baik buruk, dinilai dengan materi. Nilai ruhiyah terpinggirkan. Hal ini selaras dengan agenda moderasi yang diaruskan penguasa untuk menjauhkan pemuda muslim dari Islam kafah.


Para pemuda muslim pun terjebak gaya hidup sekuler. Tren pergaulan bebas, throning (kencan untuk menaikkan status sosial), kohabitasi (kumpul kebo), zina, waithood (sengaja menunda-nunda menikah demi menikmati kebebasan), dan childfree (pasangan resmi yang tidak mau punya anak) marak di kalangan pemuda muslim. Hal ini merupakan gambaran kerusakan generasi yang sangat parah.

Demikianlah, kapitalisme membajak potensi Gen Z untuk menjadi agen program global yang berorientasi ekonomi demi menyelesaikan masalah yang dibuat kapitalisme.


 Pada saat yang sama, Gen Z dirusak hingga kehilangan jati dirinya sebagai muslim dan menjadi manusia yang berorientasi ekonomi semata.


*Gen Z, Sebagai Pelopor Perubahan*


Gen Z memiliki potensi besar yang penting bagi perubahan dunia dari karut-marut persoalan yang diakibatkan kapitalisme. Sebagai penduduk asli dunia digital, mereka terbiasa melakukan interaksi lintas negara sehingga memiliki perspektif dan jangkauan global. Mereka piawai menggunakan teknologi digital dan memanfaatkannya untuk mengaruskan perubahan di tengah masyarakat dunia.


 Potensi ini mendukung Gen Z untuk menjadi calon pemimpin peradaban global.

Potensi Gen Z ini harus diarahkan untuk mewujudkan perubahan hakiki menuju solusi sahih, yaitu Islam ideologis. Caranya adalah membekali para pemuda dengan akidah Islam dan ilmu pengetahuan yang penting untuk mengoptimalkan potensi mereka. Hal ini hanya mungkin terwujud dalam sistem Islam kafah.


Rasulullah saw. bersabda, “Aku wasiatkan kepada kalian, ‘Perlakukanlah para pemuda dengan baik, sesungguhnya mereka tulus dan mudah disentuh (perasaannya), (lihatlah) mereka yang mau berkumpul denganku adalah para pemuda, sedangkan para orang tua menentangku.’.” (Imam Asy-Sya’rani, Tanbihul Mughtariin).

Sistem Islam (Khilafah) akan membekali para pemuda melalui sistem pendidikan dengan ilmu-ilmu yang produktif untuk menguatkan kepribadian mereka pada pendidikan dasar.


Pada pendidikan tinggi, pendidikan diarahkan untuk meraih dua tujuan utama, yaitu,

Pertama, memperdalam kepribadian Islam, untuk menjadi pemimpin yang menjaga dan melayani problem vital umat, yakni Khilafah; memperjuangkan penegakannya ketika belum ada; melestarikan dan mempertahankannya sebagai institusi politik yang menerapkan Islam ke tengah-tengah umat, mendakwahkan Islam ke seluruh penjuru dunia, serta menghadapi ancaman persatuan umat.


Kedua, menghasilkan gugus tugas yang mampu melayani kepentingan vital umat dan membuat gambaran rencana strategis jangka pendek dan jangka panjang.

Untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut, pendidikan tinggi dalam Khilafah terdiri dari dua tipe utama, yaitu,

– Study by teaching (mengajar lebih banyak dibandingkan dengan penelitian). Pengajaran diorganisasikan oleh fakultas dan universitas melalui mata kuliah, dosen, dan jadwal pendidikan.

– Study by research. Pendidikan ini adalah pendidikan yang riset lebih banyak daripada mengajar. Murid belajar untuk berinovasi riset saintifik dan terspesialisasi sains yang spesifik.


Untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan tinggi tersebut, Khilafah menyelenggarakan institut teknik, institut layanan sipil, universitas, pusat riset dan pengembangan, serta pusat riset dan akademi militer 

Sebagai hasilnya, lahirlah para pemuda yang menghasilkan karya bermanfaat untuk umat. Salah satu contohnya adalah Abu Yusuf yang menyusun kitab Al-Kharaaj ketika Khilafah berkepentingan menata sistem keuangan negara yang lebih baik dalam mengatur distribusi harta di tengah masyarakat. Juga Abu Ubaid yang menyusun kitab Al-Amwal tentang keuangan publik. Kedua karya tersebut tetap menjadi rujukan keilmuan hingga masa kin


Untuk mencetak para pemuda menjadi motor perubahan hakiki dan penegakan Khilafah, dibutuhkan pembentukan kepribadian Islam dan kesadaran politik Islam melalui penanaman tsaqafah Islam yang bersifat siyasiyah (politis). Hal ini bisa dilakukan melalui proses halaqah Islam oleh jemaah Islam ideologis. Oleh karenanya, penting untuk melibatkan pemuda Gen Z dalam aktivitas dakwah Islam ideologis, baik sebagai objek maupun subjek dakwah. Mereka akan mengopinikan Islam kafah secara global sehingga menjadi kesadaran umum umat. Wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update