Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Lonjakan Kasus PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) di Kabupaten Bandung

Sunday, January 26, 2025 | Sunday, January 26, 2025 WIB Last Updated 2025-01-26T06:47:12Z





Oleh : Seni Rosdiana

(Kontributor Pena Cemerlang)


 Dalam kurun waktu satu tahun terakhir ini jumlah kasus hewan ternak yang terinfeksi PMK (Penyakit mulut dan kuku) mengalami peningkatan berkali-kali lipat dibanding tahun 2023. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung Ningning Hendasah, mengatakan terdapat 1.050 ekor dari 24 kecamatan yang terinfeksi PMK pada 2024. Padahal pada 2023 hewan yang terinfeksi hanya 342 ekor. Beliau juga menuturkan hewan ternak yang terinfeksi tersebut diduga bukan berasal dari Kabupaten Bandung. Melainkan sudah terinfeksi sebelum masuk Kabupaten Bandung. (Tribunjabar, 15/01/2025) 


Wabah PMK Perlu Penanganan Serius

Hewan ternak di daerah Kabupaten Bandung sebagian berasal dari Bali, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mobilisasi ini lah yang menjadi salah satu penyebab munculnya infeksi PMK pada hewan di mana setiap hewan seharusnya sudah mempunyai SKKH (Surat Keterangan Kesehatan Hewan) yang valid. Namun diduga hewan yang masuk sudah terindikasi dari daerah asalnya, sementara SKKH yang ada tidak sesuai dengan daerah asal hewan.  Kurangnya pengawasan pada beberapa hewan yang masuk mungkin tidak melalui pemeriksaan kesehatan sehingga penularan virus dari luar menjadi lebih mudah dan cepat.  Lonjakan kasus PMK di Kabupaten Bandung selain karena adanya mobilisasi hewan dari luar Kabupaten Bandung  kasus ini juga disebabkan oleh beberapa faktor, baik dari aspek biologis, lingkungan, maupun pengelolaan peternakan. 


Perlu diupayakan langkah pencegahan untuk mengatasi peningkatan  PMK di Kabupaten Bandung. Saat ini upaya yang baru dilakukan hanya kasussebatas menyebarkan surat edaran (SE) dari Dinas Kesehatan kepada para camat, kepala desa maupun lurah untuk terus melakukan upaya suportif, preventif serta kuratif. Sedangkan upaya yang seharusnya dilakukan bukan hanya itu. Pemerintah seharusnya melakukan langkah-langkah nyata seperti melakukan vaksinasi massal yang lebih luas dan merata, peningkatan edukasi kepada para peternak tentang bagaimana cara pencegahan dan penanganan PMK, melakukan pengawasan yang ketat terhadap mobilisasi hewan antar wilayah, serta meningkatkan kebersihan lingkungan peternakan. Selain dari upaya di atas, peran para peternak sangatlah diperlukan. Misalnya para peternak tidak terburu-buru menjual hewan ternak mereka yang terinfeksi sebelum hewan ternak tersebut benar-benar sehat. Karena jika peternak menjual hewan ternak yang terinfeksi PMK kepada masyarakat tanpa pengendalian yang tepat akan berdampak sangat serius, baik itu dari segi kesehatan karena daging atau susu yang terkontaminasi dari hewan yang terinfeksi dapat mengandung residu yang berbahaya. Berdampak  pula pada ekonomi peternak lain karena penyebaran virus ke peternak lain menyebabkan kematian hewan serta penurunan pada produktifitas serta adanya biaya tambahan untuk pengobatan hewan yang terinfeksi virus PMK. Dan dampak lainnya yaitu penurunan kepercayaan konsumen. Karena jika konsumen mengetahui ada produk hewani atau produk olahan lainnya yang dijual  dengan harga lebih murah akan menurunkan harga pasar sehingga tingkat daya beli konsumen menurun dan jelas ini sangat merugikan peternak lain yang hewannya sehat. 


Penerapan sistem kapitalis sekuler sangat mempengaruhi berbagai aspek dalam kasus lonjakan PMK pada hewan baik dalam hal penyebab, penanganan maupun dampak. Sebagai contoh yang terjadi saat ini yaitu peternak dengan skala besar berfokus pada keuntungan ekonomi saja dimana mereka memprioritaskan efisiensi dan produksi massal untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya, namun kurangnya investasi dalam biosekuriti untuk menekan penyebaran penyakit seperti PMK. Peternak yang tertekan oleh tuntutan pasar maupun biaya produksi, mungkin akan menjual hewan yang terinfeksi PMK untuk menghindari kerugian tanpa memedulikan dampak bagi masyarakat atau peternak lain. Sistem kapitalis sekuler terlalu berfokus pada manfaat atau keuntungan semata tanpa memperhatikan nilai-nilai etika, lingkungan atau kesejahteraan masyarakat secara holistik.


Penanganan Wabah dalam sistem Islam 


Namun jika kita bandingkan dengan sistem Islam, penanganan wabah penyakit seperti PMK harus didasarkan pada prinsip menjaga maslahat (kebaikan) dan mencegah mafsadat (kerusakan). Dalam pandangan Islam ada beberapa hal terkait penanganan kasus PMK pada hewan, diantaranya : Pertama Konsep amanah dalam pengelolaan hewan artinya pemilik hewan berkewajiban memberikan perawatan, termasuk menjaga kesehatan hewan dari penyakit. Kedua Larangan menyakiti dan kewajiban merawat hewan artinya Islam melarang menyakiti makhluk hidup tanpa alasan yang dibenarkan. Ketiga Isolasi dan Pencegahan penyebaran penyakit,  konsep karantina sudah ada sejak zaman Rasulullah saw. untuk mencegah penyebaran penyakit menular, baik pada manusia atau hewan. Rasulullah saw bersabda : “Jika kalian mendengar wabah disuatu tempat, maka janganlah kalian memasukinya. Dan jika wabah itu terjadi ditempat kalian berada, maka janganlah kalian keluar darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim) 


Maka prinsip isolasi ini dapat diterapkan pada penanganan PMK, yaitu dengan mengisolasi hewan yang terinfeksi dan mencegah penyebaran penyakit ke wilayah lain. Dalam islam penanganan kasus PMK menggunakan prinsip kasih sayang, tanggungjawab dan mencegah mudarat. Maka daripada itu hanya dengan penerapan syariat Islam secara kafah, penanganan kasus PMK pada hewan bisa diselesaikan dengan berpegang teguh pada syariat dan nilai-nilai Islam .


Wallahu a’lam bish-shawwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update