Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Efek Gurita Kapitalisme, Waspada Virus HMPV

Sunday, January 26, 2025 | Sunday, January 26, 2025 WIB Last Updated 2025-01-26T08:18:29Z

 



Sujilah

Pegiat Literasi


Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bandung, Yuli Irnawati mengimbau masyarakat agar jangan panik atau takut karena virus ini tidak mematikan. Masih ada perbedaan informasi mengenai informasi virus ini, sebab belum mendapat laporan dari orang-orang yang terinfeksi Human Metapneumo Virus (HMPV), dan baru dikonfirmasi melalui telepon. (kompas.com, 07/01/25)


Meski HMPV dinyatakan tidak berbahaya bagi orang dewasa yang sehat, tetapi bagi anak-anak, lansia, dan tubuh dengan sistem kekebalan yang lemah, termasuk individu yang memiliki penyakit kronis seperti diabetes, gangguan pernapasan, atau penyakit jantung, tetap berisiko tinggi. Sayangnya, hingga saat ini belum ada pengobatan khusus atau vaksin untuk HMPV. Padahal virus ini masuk dalam kategori virus dengan penyebaran yang sangat luas dan cepat khususnya di China bagian utara seperti Beijing, Hebei, dan Tianjin. 


Dikutip dari Channel NewAsia, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit China (CDC) merilis pada 2 Januari 2025 kasus HMPV naik 0,1 poin dibandingkan minggu sebelumnya menjadi 6,2 persen. Kasus ini diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan musim dingin yang masih terjadi di China. (cnnndonesia.com, 07/01/25) 


HMPV bukan penyakit  baru di Indonesia


HMPV merupakan infeksi virus yang menyerang saluran pernafasan dengan gejala mirip influenza seperti batuk, demam, dan sakit tenggorokan. Jika tidak ditangani dengan baik gejala akan semakin parah dan berpotensi ke bronkritis atau pneumonia. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi  Sadikin menyampaikan pada masyarakat agar waspada, ini memang bukan virus baru  tapi sudah ada sejak 2001 dan dikenal di dunia medis. Untuk menghadapi merebaknya HMPV kita ambil pelajarannya dari wabah beberapa tahun yang lalu, yaitu menerapkan hidup bersih, kebiasaan mencuci tangan, memakai masker jika sedang sakit, makan dengan asupan yang bergizi dan menciptakan lingkungan yang  sehat.


Namun ternyata, semua ini tidaklah mudah bagi masyarakat saat ini. Terlebih dalam sistem kapitalisme, rakyat dituntut untuk berjuang sendiri. Kondisi ekonomi yang serba mahal, membuat masyarakat kesulitan untuk mendapatkan makanan bergizi bagi diri dan keluarganya. Lapangan kerja yang semakin susah dan sempit, membuat masyarakat cukup sekedar makan, yang penting kenyang, tidak melihat asupan gizinya. 


Pemerintah pun tidak jarang membuat kebijakan yang keliru saat muncul wabah penyakit. Akhirnya semua seolah tambal sulam, negara pun hanya berperan sebagai regulator. Bahkan sayangnya, ada saja kepentingan meraup materi yang terselip bagi para kapitalis di kala masalah datang dan didukung oleh para penguasa.



Cara Islam dalam Pencegahan Virus


Dalam Islam kesehatan adalah hak rakyat yang wajib dipenuhi oleh negara. Sehingga negara akan mengupayakan segala hal demi melindungi rakyatnya. Termasuk saat ada virus/wabah penyakit, negara akan langsung sigap menanganinya. Rasulullah saw. pernah mencontohkan bagaimana cara penanganan wabah secara cepat. 

Upaya yang pertama dengan melakukan isolasi/karantina bagi wilayah yang terkena wabah. Rasullullah saw. bersabda:

“Jika kalian mendengar wabah di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Dan jika terjadi wabah di tempat kalian berada, janganlah kalian keluar dari wilayah itu”. (HR. Al-Bukhari)

Dalam sebuah riwayat diceritakan Khalifah Umar bin Khattab hendak berkunjung ke wilayah Syam. Namun ketika sang khalifah dan rombongan tiba di daerah Syargh, datanglah kabar jika masyarakat Syam tengah menderita wabah Tha'un. Mendengar informasi tersebut, Khalifah Umar bin Khattab pun membatalkan kunjungannya dan kembali ke Madinah bersama rombongan. 

Tindakan isolasi dilakukan agar wabah/virus tidak meluas ke daerah lain. Akan tetapi, meski diisolasi suplai berbagai kebutuhan untuk wilayah tersebut tetap harus dijamin. Hal ini bukanlah sesuatu yang sulit untuk dilakukan di tengah teknologi yang sudah modern seperti saat ini. Diperlukan manajemen pemimpin yang peduli pada keselamatan rakyatnya untuk menjalankan semua ini.

Isolasi cukup dilakukan di daerah yang terjangkit saja. Daerah lain yang tidak terjangkit bisa tetap produktif dan beraktivitas secara normal. Daerah yang tidak terjangkit inilah yang bisa menopang daerah yang terjangkit, baik dalam pemenuhan kebutuhan maupun penanggulangan wabah. Sehingga perekonomian tidak berdampak pada semua wilayah. 

Setelah itu, di daerah yang terjangkit virus akan diterapkan aturan agar memisahkan antara orang yang sakit dengan orang yang sehat.

“Janganlah kalian mencampurkan orang yang sakit dengan yang sehat.” (HR. Al-Bukhari).

Negara di dalam sistem IsIam akan melakukan 3T (test, treatment, tracing) secara cepat dan akurat untuk mengetahui mana warga yang positif terkena virus dan tidak. Selanjutnya warga yang terinfeksi virus akan dipisahkan dan diisolasi, sementara semua kebutuhan akan ditanggung dari kas negara (baitulmal). 

Amru bin ‘Ash tatkala diangkat oleh Khalifah Umar bin Khattab menjadi Gubernur di Syam, pernah menerapkan pemisahan antara orang yang sakit dan sehat dalam menghadapi wabah Tha’un ‘Umwas yang sedang terjadi. Amru bin ‘Ash berkata kepada penduduknya bahwa wabah itu bagaikan api yang menyala-nyala dan akan terus menyambar kayu bakar. Maka Amr memerintahkan penduduk Syam yang sehat untuk berlari mengungsi ke atas bukit demi memutus penularan wabah. Tidak lama wabah pun hilang dari negeri Syam.

Telah terbukti hanya dalam sistem Islam semua  masalah bisa diselesaikan. Dari mulai upaya pencegahan, penanganan dan pengobatan, semua diupayakan dengan sebaik-baiknya dan berorientasi pada keselamatan rakyat. Hal ini semakin membuat kita yakin bahwa sistem Islam memang perlu dan butuh untuk diterapkan. Aturan yang berasal  dari Sang Pencipta pasti tepat untuk menyelesaikan semua persoalan manusia dan akan membawa pada kebaikan dunia dan akhirat.

Wallahu’alam bisshowab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update