Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)
Kebakaran Los Angeles menjadi bencana terbaru bagi industri hiburan Hollywood. Tak hanya aktor, sutradara, produser, atau kru saja, tapi semua sektor ikut terdampak. Pasalnya, rumah atau tempat tinggal mereka hangus terbakar. Bahkan lokasi produksi film dan televisi juga tak luput dari kobaran api. Dikutip dari kantor berita AFP pada Senin (13/1/2025), sektor hiburan Los Angeles yang bernilai 115 miliar dolar AS (Rp 1.876 triliun) bagi ekonomi di kawasan itu kini berada dalam posisi yang sulit (kompas.com, 13-01-2025).
Di Altadena, pinggiran kota Los Angeles yang terletak dekat, deretan bungalow yang dulu rapi kini hanya menyisakan puing-puing yang hangus dan kerangka mobil terbakar di bawah bayang-bayang Pegunungan San Gabriel. Sementara kebakaran yang melanda daerah tempat tinggal selebritas di sekitar Malibu telah menjadi sorotan dunia, kebakaran serupa di Eaton Canyon, utara Los Angeles, telah menghancurkan Altadena, sebuah komunitas yang keragaman ras dan kondisi ekonomi. Altadena telah menjadi rumah bagi keluarga kulit hitam dan Latin selama beberapa generasi, serta menarik seniman dan insinyur muda yang bekerja di laboratorium roket NASA terdekat, yang menyukai suasana kota kecil dan kedekatannya dengan alam. Banyak warga mengungkapkan kekhawatiran kepada Reuters bahwa sumber daya pemerintah akan difokuskan pada daerah-daerah yang lebih sering menjadi perhatian selebriti, sementara perusahaan asuransi berpotensi merugikan rumah tangga yang kurang mampu, yang tidak memiliki dana cukup untuk mengajukan klaim kebakaran (voaindonesia.com, 12-01-2025).
Kedua berita di atas mendapat berbagai komentar. Baik komentar yang menunjukkan persetujuannya atas kejadian tersebut sebagai balasan atas perbuatan penguasanya terhadap Palestina maupun sebagai balasan atas berbagai penghinaan yang dilakukan terhadap keberadaan Tuhan sebagai penciptanya, semua menjadi bukti nyata betapa manusia sungguh tidak berdaya. Baik sebagai penguasanya maupun sebagai rakyatnya. Sistem yang melingkupinya tak mampu menepis bencana apa yang menimpanya. Beragama anggapan akhirnya muncul diikuti kefanaan sebuah digjaya.
Sekulerisme tak Berdaya Menentang Bencana
Beberapa waktu sebelumnya, sebelum kejadian kebakaran hebat tersebut melanda, Nikki Glaser seorang aktris Hollywood yang bertugas sebagai host di Golden Globes 2025, dengan ringannya membuat lelucon soal ‘Globes Leaders’. Dia mengatakan bahwa peringkat pertama ada pada ‘cast and crew’, lalu ‘mom’, dan peringkat terbawah adalah ‘Tuhan’. “Tuhan, pencipta alam semesta, ‘zero mention’. Tidak kaget kalau Tuhan ada di urutan paling bawah,” kata Nikki disambut tawa para tamu undangan. Pernyataannya yang menyatakan bahwa Hollywood ini kota paling tidak bertuhan, begitu tanpa beban sampai berani menantang tuhan.
Sebuah pelajaran berharga, saat manusia hanya dilingkupi kesenangan hawa nafsu, tuhan dinafikan, tidak menjadi tabungan riil saat hidupnya diporanporandakan alam. Besarnya asupan materi dan kesenangan serta senda gurau tak bisa menghalau badai. Kesombongan tak mampu menghalau bencana. Sehari terbahak-bahak penuh tawa, berikutnya dilanda bencana, menepis anggapan bahwa manusia bisa menolak keputusan pemilik dunia.
Sekulerisme yang sarat dengan faham menafikan agama, telah menunjukkan ketidakberdayaannya. Betapa tidak bergunanya sistem ini saat manusia butuh ditolong agar kembali berdaya.
Kapitalisme Sarat Kepentingan Materi
Kebakaran hutan di Los Angeles (LA), California, Amerika Serikat (AS) yang melalap ribuan hektar lahan sampai hangus dan menyebabkan ratusan ribu korban dievakuasi, telah terjadi. Fakta nyata yang tidak bisa ditepis oleh siapa pun juga termasuk para pemangku kebijakan di negara yang dilanda
Sebenarnya, ketiga area yang terkena dampak kebakaran memiliki satu kesamaan. Semuanya berada di tepi wilayah pegunungan, yang menurut para ahli iklim, mungkin lebih rentan terhadap kebakaran daripada bagian lain di Los Angeles County. Dan dari tiga hal penyebab terjadinya kebakaran hebat tersebut seperti dikutip USA Today, Selasa (14/1/2025), yaitu angin Santa Ana; Keberadaannya di pengunungan, ngarai dan lembah; Perencanaan Kota yang Meningkatkan Risiko Kebakaran; maka perencanaan kotalah yang bisa kita telisik lebih dalam sebagai bagian yang mampu memperbesar resiko terjadinya kebakaran.
Wilayah Pacific Palisades sering digambarkan oleh para pialang real estat sebagai tempat yang bersahaja dan elegan. Harga rumah rata-rata di Altadena, menurut Realtor.com, mencapai US$1,3 juta (sekitar Rp 21 miliar) per November.
Menurut para pakar, wilayah ini adalah daerah pertemuan antara alam liar dan perkotaan, atau tempat di mana populasi manusia bertemu dengan habitat alami, di mana seperempat penduduk California tinggal di daerah berbahaya ini. Rumah dan infrastruktur dapat terbakar, menciptakan bara api, dan lingkaran umpan balik yang memperparah pelepasan panas api dan penyebaran bara api. Namun hanya demi keuntungan materi, pembangunan seakan tanpa aral melintang. Kapitalisme sarat kepentingan materi hingga mitigasi pun tidak diperhatikan lagi. Alhasil kebakaran hebat yang terjadi ini telah mengabarkan bukti bahwa aturan manusia yang hanya berbasis cuan tak mampu melawan tuhan.
Islam Menjawab Fananya Sistem Buatan Manusia
Allah Swt. berfirman,
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan-tangan manusia, agar Allah menghendaki mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar Rum: 41).
Tidak bisa dimungkiri salah satu sebab kebakaran yang terjadi di Amerika adalah imbas dari nihilnya mitigasi dibalik keserakahan pencapaian materi. Kesenangan dunia dijadikan ukuran hingga batas bahaya tak lagi diperhatikan. Padahal Allah Swt. telah menetapkan kesetimbangan dalam penciptaan bumi ini,
“Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (setimbang).” (QS Al-Qamar: 49).
Wajarlah saat batas aman tidak terpenuhi, bencana tak bisa dihindari. Kebakaran menjadi fasad karena semua rancangan pembangunan yang dilakukan di wilayah tersebut tidak memerhatikan faktor yang mampu meminimalisir resiko bencana kebakaran yang sudah diprediksi bisa terjadi kapan saja.
Dengan pengembalian hukum pengelolaan yang tidak boleh menyebabkan fasad, negara memiliki kendali serta berkewajiban untuk menerapkan pembangunan wilayah secara aman diawali dengan mitigasi rigid yang dilakukan sebelumnya.
Langkah-langkah ini hanya dapat ditempuh jika negara menerapkan syariat Islam secara kafah dalam naungan Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Hanya Khilafah yang akan menerapkan kebijakan pengelolaan pembangunan secara syar’i sehingga fasad yang akan terjadi dapat dicegah semaksimal mungkin.
Lebih dari 100 tahun lamanya umat Islam hidup tanpa Khilafah. Sejak saat itu kerusakan dan bencana makin menggila dan tidak ada upaya serius untuk mengatasinya.
Sudah waktunya kembali dari meninggalkan kefanaan sistem buatan manusia, karena kepercayaan pada-Nya tidak memberi buah kebaikan. Berbagai fasad yang disebabkan oleh ideologi kapitalisme pun dapat dihentikan dan Islam benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh alam di belahan bumi mana pun.
Wallaahu a’laam bisshawaab.
No comments:
Post a Comment