Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Marak Kriminalisasi Terhadap Guru, Bagaimana Negara Bisa Maju?

Sunday, November 10, 2024 | Sunday, November 10, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:35:06Z

Oleh: Lilik Solekah, SHI. ( Ibu Peduli Generasi)

Ironis, Guru pendidik putra putri bangsa yang seharusnya dijunjung tinggi justru kini tengah menghadapi berbagai problematika. Selain ketidakpastian nasib terkait kesejahteraan guru mereka kini terpaksa menghadapi permasalahan yang lebih pelik yaitu kriminalisasi guru. Sehingga menjadi dilematik. Guru dalam sistem hari ini menghadapi dilema dalam mendidik siswa.

Pasalnya beberapa upaya dalam mendidik siswa sering disalah artikan sebagai tindak kekerasan terhadap anak. Hal ini terjadi karena ada UU perlindungan anak, sehingga guru rentan dikriminalisasi. Sebut saja sebagai contoh ada beberapa guru yang dipenjara akibat mendidik. Seperti guru di SMPN 1 Bantaeng yang dijebloskan ke penjara akibat menertibkan siswanya yang baku siram sisa air pel-pelan. Yang juga mengenai guru tersebut. Siswa tersebut dibawa ke BK dan dicubit. Tak terima siswa melapor pada orang tuanya yang merupakan anggota kepolisian. Hingga sang guru diproses ke meja hijau.

Ada lagi pak Sambudi guru SMP Raden Rahmat Balongbendo sidoarjo, yang menertibkan siswanya yang tidak ikut sholat berjamaah dengan mencubitnya. Akibatnya sang guru dijebloskan ke polsek oleh wali murid tersebut yang merupakan anggota TNI.

Selain itu ada pak zaharman, guru SMAN 7 Rejang Lebong yang mengalami kebutaan setelah diketapel orang tua murid pada 1 agustus 2023 kemarin. Bermula dari beliau yang menegur dan memberi hukuman pada muridnya yang merokok di Sekolah.

Dan masih banyak lagi kasus guru yang diperkarakan seperti ibu khusnul khotimah guru SD yang dianggap lalai mengawasi muridnya saat jam kosong. Sehingga menyebabkan muridnya terluka. Yang berujung pelaporan ke polisi. Hingga kasus baru yang menimpa guru Supriyani yang dipenjara, hingga berbuntut pencopotan camat Baito yang membantu kasusnya. Inilah potret pendidikan dalam sistem kapitalisme. Dimana yang merasa kuat akan menindas yang lemah, merasa kekuasaan nya lebih tinggi padahal bagai kacang yang lupa dengan kulitnya. Bagaimana dia bisa menjadi TNI, bagaimana dia bisa menjadi polisi dan bagaimana dia bisa menjadi orang besar berkuasa tanpa ada jasa seorang guru.

Di sisi lain, ada kesenjangan makna dan tujuan pendidikan antara orang tua, guru dan masyarakat serta negara karena masing-masing memiliki persepsi terhadap pendidikan anak. Akibatnya muncul gesekan antara berbagai pihak termasuk langkah guru dalam mendidik anak tersebut. Guru pun akhirnya ragu dalam menjalankan peran guru khususnya dalam menasihati siswa. Bisa Dibayangkan bagaimana nasib generasi yang akan datang jika dalam pendidikan orang tua sudah dimanja, sama sekali tak tersentuh dan semua maunya dituruti. Sedang dari segi pendidikan di sekolah tidak boleh adanya nasehat. Mau dibawa kemana arah masa depan Bangsa? Bagaimana bisa maju dengan generasi se lembek itu? Sedikit-sedikit mengadu, sembunyi di ketiak orangtua, tidak mandiri dan tidak terdidik. Bagaimana jika orang tua tidak bisa membersamainya hingga dewasa? Mau jadi apa anak-anak bangsa? Sedang guru harus tutup mata karena takut dipenjara.

Sangat jauh berbalik dengan sistem Islam. Dalam sistem Islam sangat memuliakan guru, dan memberikan perlakuan yang baik terhadap guru. Selain itu, negara Islam juga menjamin guru dengan sistem penggajian yang terbaik, sehingga guru dapat menjalankan amanahnya dengan baik.

Negara memahamkan semua pihak akan sistem pendidikan Islam. Pendidikan Islam memiliki tujuan yang jelas, dan meniscayakan adanya sinergi semua pihak, sehingga menguatkan tercapainya tujuan pendidikan dalam Islam.

Tunggu apalagi saatnya mencampakkan sistem kapitalisme dan menerapkan sistem Islam secara kaffah. Selain untuk kesejahteraan guru juga untuk generasi masa depan bangsa yang maju. (Wallahu A’lam bishowab)

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update