Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tawuran Bagai Dinasti. Pewarisan yang Harus Berhenti

Tuesday, October 01, 2024 | Tuesday, October 01, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:37:24Z

Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Syahdan di negeri Konoha tawuran seakan menjadi bewara yang biasa. Saking seringnya pemberitaan, tawuran membuat tangan tak henti mengelus dada.

Berita tentang empat pelajar tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat di Kulon Progo yang diciduk polisi karena diduga terlibat tawuran. Dan akhirnya diamankan ke Polsek Wates (detik.com, 30-09-2024).  Juga berita adanya  sekelompok remaja yang hendak melakukan tawuran perang sarung di Banjarmasin yang berhasil digagalkan Kepolisian Sektor (Polsek) Banjarmasin Tengah pada Sabtu (28/9) malam (beritasatu.com, 30-09-2024). Serta tertangkapnya 13 remaja yang hendak tawuran di daerah Grogol, Centkareng (tribratanews.metro.polri.go.id, 30-09-2024) menambah panjang catatan kelam yang mengisi buku perjalanan generasi.

Potrem Buram Generasi

Di Konoha, tawuran berulang kali terjadi. Tentunya fenomena tersebut bukanlah peristiwa kebetulan. Ada proses yang salah dalam membangun karakter generasi.

Jika catatan KPAI terisi kasus kekerasan melibatkan peserta didik dan pendidik dan kasus  terbanyak adalah tawuran antarpelajar, maka kesalahan bukan lagi antarindividu. Kesalahan sudah bersifat sistemis.

Sekalipun dua aturan yang memberi panduan pencegahan dan penanganan tindakan kekerasan di lingkungan pendidikan, yaitu Permendikbud 82/2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Satuan Pendidikan; serta Permendikbudristek 30/2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi, diluncurkan di negeri ini, ternyata keduanya belum mampu mengatasi kenakalan remaja di bumi pertiwi.

Suka-suka gua” menuntun kebrutalan mereka hingga tega membuat orang lain terluka bahkan meregang nyawa. Syahwat kebebasan merasuk dalam pemikiran, perasaan, dan tingkah laku sehingga mereka bablas melakukan apa saja. “Nikmatin hidup lo” menjadi slogan pelancar jiwa muda mereka. Hidup mati tak lagi menghalangi aksi-aksi.

Bagai seorang jagoan, mereka sangar membabi buta. Hal sepele menjadi melebar sampai berkilah “Hidup lo kelar” untuk siapa-siapa yang dianggap musuh baginya, menghalangi keinginannya, menghambat tujuannya.

Buku putih generasi terpenuhi coretan hitam tak berarti. Pemahaman hidup dan mati tak dijadikan renungan sebagai bentuk pertanggungjawaban pada Ilahi’ Rabbul Izzati Pemilik Bumi. Potret mereka terlalu buram. Hidup mereka kian suram dengan polah mereka yang kian gahar.

Sesungguhnya, apa yang  terjadi pada generasi saat ini? Mengapa dari tahun ke tahun kekerasan yang melibatkan generasi muda selalu saja terjadi?

Sekularisme Biang Keladi, Kapitalisme Penyebab Pasti

Jika kita perhatikan, begitu banyaknya kasus tawuran bukan semata karena sifat mendasar pemuda yang kasar, bengis dan gahar. Nyatanya, sekejam-kejamnya mereka ketika menebaskan berbagai senjata untuk menghadapi siapa yang dianggap lawannya, saat  polisi menangkapnya, teriakan “Ampun” dan tersedunya tangisan mereka saat dipertemukan dengan orang tuanya,  menunjukkan betapa mereka begitu lemah. Ternyata sifat kekanak-kanakan begitu kontras dengan keganasan mereka ketika berada di jalanan, atau saat mereka tawuran.

Bisa jadi mereka hanya sekadar ikut-ikutan dan ingin eksis lantas narsis dengan melakukan hal yang membahayakan nyawanya dan nyawa orang lain. Perbuatan dosa atas terluka dan hilangnya nyawa seakan menjadi Hal biasa. Tahu atau tidak atas dosa, mereka melukai orang lain, bahkan sampai membunuh mereka lakukan seakan tiada pertanggungjawaban yang harus mereka hadapi. Baik di hadapan manusia, maupun, terutama, di hadapan Allah Ta’ala.

Semua itu berpangkal dari sekularisme yang telah mengakar di negeri ini. Sekularisme meracuni para pemuda, sampai visi hidup mulia di dunia dan akhirat tiada dslam dirinya. Konsep pahala-dosa tidak mendarah daging  dalam aliean darah  mereka, tidak mengakar dalam benaknya sehingga  tingkah laku urakan terus menghiasi hidup mereka.

Sekularisme liberal telah menuntun hidup generasi. Penerapan sistem kapitalisme dalam kehidupan masyarakat dan negara  telah menjadikan pendidikan untuk generasi hanya berfokus pada pencapaian nilai-nilai akademik di atas kertas, namun abai pada pembinaan dan pembangunan generasi yang berkarakter mulia, kepribadian agung cemerlang. Bagaimana tidak, dalam pendidikan di negeri ini pelajaran agama pun sudah tak diporsikan maksimal lagi. Padahal agama adalah pondasi mendasar yang bisa menyelamatkan dunia-akhirat.

Ditambah lagi terkait kesuksesan. Saat ini Konsep kesuksesan makin dijauhkan dari Islam. Saat ini meraih banyak cuan menjadi incaran. Menjadi kaya tanpa butuh waktu lama, tanpa upaya keras, happy dan suka-suka, menjadi tujuan anak muda hingga apa pun dilakukan demi cuan tanpa  melihat lagi benar-salah, dosa-tidak dosa, berbahaya atau tida. Mereka sibuk ,membuat berbagai konten, menjadi  pemain gim,  menjadi artis medsos, dll. Mereka menganggap semua itu lebih menjanjikan kesuksesan daripada bersekolah yang belum tentu memberikan keberuntungan materi untuknya.

Sungguh menyedihkan, paham sekuler telah sukses menjadikan generasi tidak memahami agamanya. Seluruh perbuatannya bersandar pada akal semata. Asas manfaat juga menjadi tolok ukur perbuatan dan materi menjadi standar kebahagiaannya. Inilah yang menjadikan kehidupan generasi Kian rusak.

Konten tawuran dianggap sebagai sesuatu yang sah-sah saja dalam sistem kehidupan sekuler. Para pelaku  tidak peduli andai kontennya mencelakai orang atau dirinya sendiri. Selama kepuasan didapat, puas atas kenakalan yang dibuatnya  itulah yang menjadi sumber kebahagiaan mereka.

Sayangnya, terkadang  alih-alih melaporkan ke pihak yang berwenang untuk mencegah tawuran, yang lainnya  malah menikmati adegan tawuran, bahkan memviralkan sebagai bahan konten bercuan.  Miris. Sebegitu rusaknya nurani para remaja hari ini. Mereka tak merasa  iba saat banyak yang terluka  bahkan meregang nyawa.

Sungguh, sekularisme yang melahirkan liberalisme telah menjadikan manusia bebas melakukan segala sesuatu yang ia senangi hingga puas. Halal-haram tak menjadi ukuran. Dosa tak dihiraukan. Bahkan menolak surga pun mereka katakan.

Sistem Islam Anti Tawuran

Kegalauan umat dan ganasnya perilaku remaja hanya mendapat jawaban mengambang. Kegamangan dalam menyelesaikan kasus tawuran nampak dari penanganan yang dilakukan. Dengan keberingasan para pelaku tawuran saat mereka beraksi, hanya pembinaan yang diberikan lantas mereka dilepaskan kembali. Pantas kemudian para pelaku kembali lagi melakukan hal yang sama, bahkan bisa jadi merekrut para pelaku lainnya.

Dalam sistem kapitalisme sekuler seperti saat ini, sstem hukum pun ternyata tidak menjerakan para pelaku. Hukum tidak bisa tegas sekalipun mereka telah berbuat kriminal. Para pelaku masih dianggap anak-anak, padahal dari ukuran usia mereka sudah baligh dan cukup usia.

Sistem kapitalisme sekuler telah gagal dalam menyelesaikan masalah tawuran para pelajar maupun remaja. Dan kasus ini akan terus berulang dan terulang lagi. Korbannya bukanlah hanya pelaku tawuran, namun tidak jarang orang-orang tak bersalah pun menjadi korban.

Seharusnya kita tidak perlu berpikir ulang lagi  terkait rusaknya sistem kapitalisme sekuler dalam menyelesaikan persoalan kehidupan. Sistem rusak dan merusak ini telah sangat cacat dan gagal total dalam menyelesaikan seluruh masalah. Sistem ini telah secara nyata menjadi biang kerok atas seluruh permasalahan yang ada di dunia.

Berbeda dengan Islam. Sistem Islam  memiliki konsep rigid dalam menyelesaikan seluruh permasalahan di dunia termasuk masalah tawuran pelajar. Dalam Islam tawuran tak akan pernah diwariskan.

Dalam sistem Islam hal yang sangat mendasar  (akidah Islam)  senantiasa dijadikan landasan hidup bernegara sehingga seluruh aturan kehidupan tegak berdasarkan asas iman dan taqwa. Hal inilah yang menjadikan setiap perilaku warga negaranya,  termasuk pemuda, selalu terikat dengan pemahaman Islam. Setiap individu dipahamkan Islam sampai pada keyakinan yang kuat bahwa Allah Ta’ala akan menghisab setiap amal perbuatan manusia sekecil atau sebesar apa pun yang mereka lakukan.

Dalam sistem Islam, negara akan selalu berupaya membentuk kepribadian warga negaranya dengan sistem pendidikan yang sangat memperhatikan terbangunnya kepribadian yang agung dan mulia, bukan asal kaya mapan harta.

Dalam sistem ini, agama Islam tidak hanya sekadar diajarkan,  namun dijadikan sebagai  spirit dalam sistem pendidikan yang dibangunnya. Dari sistem pendidikan yang dijalankan,  lahirnya para pemuda bervisi akhirat sukses mulia  dunia-akhirat dan sekaligus cakap dalam ilmu pengetahuan diproses di dalamnya. Tsk ada waktu yang disia-siakan selalu seluruh konten yang dibangun berisi teguhnya keimanan.

Dalam sistem Islam, para pelajar paham betul jalan mana yang harus dilalui. Keta’atan total pada Rabb-nya selalu mengisi hari-harinya. Mereka pun pahami  visi dakwah dan jihad, yaitu bahwa mereka harus menjadi generasi pembebas, bukan generasi cemas, bukan generasi malas, bukan generasi tak waras. Mereka menghabiskan waktunya  di jalan Allah Ta’ala. Mereka berjuang menjadi ulama, ilmuwan, mujahid, penguasa yang menerapkan syariat kafah, dan menjadi apa saja, serta posisi apa pun  yang menjadikan mereka sangat berkontribusi terhadap kejayaan Islam.

Dalam sistem Islam, sistem pendidikan yang berjalan  mampu mewujudkan generasi yang berani maju ke medan jihad. Generasi yang senantiasa mengangkat panji Islam. Menggaungkan kalimah Allah. Memperjuangkan yang haq menebas yang bathil.

Sungguh dalam sistem Islam hati generasi senantiasa terikat keimanan dan ketakwaan yang mumpuni. Panjangnya langkah-langkah mereka begitu lapang menyebrangi samudera kehidupan benua kenyataan, menyebarkan Islam, menegakkan kebenaran dan meruntuhkan kekufuran, kelaliman, dan kezaliman yang nyata.

Sabda Rasulullah Muhammad Saw.,

Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan, kecuali naungan-Nya, yakni imam yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah, ….” (HR Bukhari).

Dalam sistem Islam pun, sistem sanksi dijalankan secara efektif. Setiap orang yang sudah baligh harus selalu mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan Allah. Jika terbukti melakukan tindakan kriminal, ia harus dihukum sesuai jenis pelanggarannya. Jika saat ini tawuran dilakukan oleh generasi yang sudah baligh, mereka melukai bahkan membuat orang lain meregang nyawa, maka haruslah diterapkan sanksi yang tegas untuknya sesuai syarak.

Demikianlah dengan menerapkan sistem Islam secara sempurna, tentunya tawuran tisak lagi diwariskan Dari generasi ke generasi bagai dinasti. Tawuran pelajar/remaja/pemuda akan tertangani secara sempurna. Selesai secara paripurna. Tidak lagi menjadi peristiwa berulang yang membuat gundah gulana umat bil khusus para orang tua.  Walhasil  generasi yang ada akan  menjadi generasi cemerlang yang mampu mewujudkan kemuliaan kehidupan sesuai syariat-Nya hingga rahmatan lil ‘aalamiin bukan hanya slogan tanpa bukti, namun menjadi realiti.

Wallaahu a’laam bisshawaab.

 

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update