Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Moderasi Beragama Menjauhkan Pelajar dari Islam Benarkah?

Wednesday, October 02, 2024 | Wednesday, October 02, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:37:19Z

Penulis Habibah Qolbhi

Beberapa istilah berhubungan dengan kata “moderasi”. “Moderasi” dalam bahasa Inggris berasal dari kata “moderasi”, yang berarti “sedang” atau “tidak berlebihan”. Juga ada kata moderator, yang berarti ketua (untuk pertemuan), pelerai, dan penengah (untuk perselisihan). Kata ini berasal dari kata Latin moderatio, yang berarti ke-sedang-an. “Moderasi” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti menghindari kekerasan atau keekstreman. Kata ini berasal dari kata “moderat”, yang berarti sikap yang selalu menghindari perilaku atau pengungkapan yang ekstrem dan mengarah ke jalan tengah. “Moderator”,

Kata-kata moderasi inilah dianggap biasa saja oleh dikalangan ummat muslim sendiri, bahkan dikalangan pemuka ahli agama atau pendakwah menganggap toleransi agama, seperti ikut serta dalam mengucapkan selamat natal atau sejenis lainnya yang dilarang dalam islam dianggap biasa saja . seperti kemaren viral di media sosial seorang pendakwah bahkan ahli fiqih seorang hafis mencari persamaan isi injil dengan alqur’an di depan jamaah kaum muslimin yang hadir di dalam majlis tersebut.

Di telusri dari web bbc.com. Memang dalam islam ada pelajaran toleransi tetapi toleransi dalam islam tidak menyamakan dengan ajaran islam juga tidak ikut serta dalam kebiasaan non muslim. Bahkan pemerintah sendiri membiarkan dan mendukung pembangunan sekolah Kristen di sebuah desa yang mayoritas muslim. Meski telah menyetujui dan memberikan izin pembangunan Sekolah Kristen Gamaliel, pemerintah daerah Kota Parepare, Sulawesi Selatan, melalui DPRD Parepare justru merekomendasikan penghentian pembangunan sekolah itu setelah mendapat penolakan dari sekelompok demonstran karena sekolah didirikan di tengah masyarakat berpenduduk masyoritas Muslim. Menurut Halili Hasan, Direktur Eksekutif Institut Setara, penolakan sekolah Kristen di Parepare menunjukkan bahwa toleransi terendah sekalipun belum terpenuhi di wilayah itu dan pemerintah setempat tidak boleh membiarkan hal itu terjadi. Pada Jumat, 6 Oktober, ada demonstrasi yang menunjukkan penolakan pembangunan Sekolah Kristen Gamaliel di Kota Parepare. Mereka yang hadir dalam demonstrasi terdiri dari sekelompok warga dan ormas Islam.

Istilah intoleransi terus digaungkan di negeri ini. Seolah-olah negeri dengan penduduk mayoritas muslim ini sedang diancam oleh penyakit intolenransi. Parahnya, sering kali label intoleran ini disematkan pada umat Islam. Sementara di sisi lain perilaku intoleran yang nyata-nyata menghalangi umat Islam melaksanakan ajaran agamanya, para pelakunya tidak disebut intoleran. Pelarangan kerudung di Bali misalnya, atau pengrusakan masjid di Papua. Ini terjaadi karena definisi toleransi mengacu kepada definisi global/ padahal dalam islam jelas ada definisi sendiri, yang sudah dipraktekkan dengan baik ketika Daulah Islamiyyah tegak berdiri, dan dilanjutkan pada kekhilafahn berikutnya.

Lagi-lagi, pemerintah memberikan solusi yang tidak masuk akal untuk kondisi siswa. Faktanya, dekadensi moral para siswa semakin parah. Banyak siswa terlibat dalam perundungan, seks bebas, aborsi, narkoba, pelanggaran hukum, pembunuhan, dan masalah lainnya. Akibat membiarkan karena sikap toleransi mengizinkan pendirian sekolah Kristen di tengah ummat muslim. Menurut dokumen Open Source Rand Corporation (RC) yang berjudul Building Moderate Muslim Networks, salah satu strateginya adalah moderasi beragama. Teori moderasi beragama memungkinkan umat Islam memahami Islam dengan cara yang sesuai dengan kepentingan Barat, seperti demokrasi, kesetaraan gender, pluralisme, dan ide-ide Barat lainnya. Oleh karena itu, moderasi beragama harus dimasifkan untuk mencetak generasi Islam yang memiliki profil moderat dalam beragama sesuai dengan kepentingan Barat, dan bahkan ikhlas dalam menganut ide-ide Barat. Sangat jelas bahwa moderasi beragama menjauhkan profil kepribadian Islam dari siswa Muslim. Bahkan, negara menyebarkan ide moderasi beragama secara massif, menunjukkan bahwa masalah yang menjadi kekhawatiran negara bukanlah kerusakan moral di kalangan siswa, tetapi ancaman kebangkitan Islam. Ini juga menunjukkan bahwa para penguasa menjaga sistem kapitalisme Barat.

Pelajar Muslim seharusnya dididik menjadi duta Islam yang menganut Islam secara murni tanpa menggabungkannya dengan pemikiran Barat, atau ideologi Islam. Dalam Qur’an surah Ali Imran ayat 19, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan bahwa agama Islam adalah satu-satunya agama yang Dia ridhai. Selain itu, Dia mengancam mereka yang mengambil hukum selain hukum Allah, termasuk mereka yang kafir, zalim, dan fasik, dalam Al Maidah ayat 44, 45, dan 47. Berdasarkan surah An-Nahl ayat 89, Islam berasal sebagai sistem kehidupan yang menjelaskan semua hal.

Ummat Islam, termasuk pelajar Muslim, tidak boleh merendahkan dirinya dengan mengadopsi gagasan Barat, termasuk moderasi agama. Ridhaa dan murka Allah harus menjadi standar untuk tindakan kita, bukan kebebasan tanpa batas. Pelajar Islam harus bertahan untuk kemuliaan agama Islam dan kaum muslimin. Mereka harus selalu ingat bahwa setiap tindakan yang mereka lakukan di dunia akan memiliki konsekuensi di akhirat.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update