Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Misi Kunjungan Paus dan Bahaya Respon Kepemimpinan Sekuler

Saturday, October 19, 2024 | Saturday, October 19, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:36:19Z

 

Oleh. Aurora Ridha

(Aktivis Muslimah Kalsel)

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa Indonesia baru saja dihebohkan dengan kedatangan seseorang di Indonesia yakni seorang Pemimpin Gereja Katolik dunia. Beritanya sangat viral lantaran kedatangannya ke Indonesia disambut bak raja dan bertemu dengan presiden Jokowi secara langsung di istana merdeka.

Sebagaimana diberitakan bahwa seorang pemimpin Gereja Katolik dunia yakni Paus Fransiskus menyampaikan pidato tentang perdamaian saat bertemu dengan presiden Indonesia bapak Presiden Joko Widodo di istana merdeka pada 4 September Rabu lalu. Apapun yang dibahas dari pertemuan antara Paus Fransiskus dengan Pak Jokowi di istana merdeka yaitu terkait sejumlah fenomena dari konflik diberbagai Negara. Paus Fransiskus beranggapan bahwa konflik tersebut disebabkan oleh pihak-pihak intoleran yang berusaha memaksakan visinya ke dalam kehidupan bermasyarakat. (cnnindonesia, 13-9-2024)

Bagaimana tidak heboh karena sebanyak 33 tokoh Muslim Indonesia juga sangat antusias dalam menyambut kedatangan Paus Fransiskus dengan meluncurkan buku yang berjudul “Salve, Peregrinans Spei” yang berarti “Salam Bagimu Sang Peziarah Harapan.” (kompas, 13-9- 2024)

Ditambah lagi media yang asing yang menyoroti pertemuan antara Paus Fransiskus dengan imam besar Masjid Istiqlal yakni Nasruddin Umar di Jakarta. Keduanya mengeluarkan seruan bersama untuk bersahabat antaragama dan melakukan tujuan bersama yang menjadi tujuan utama Paus Fransiskus berkunjung ke Indonesia. (cnbcindonesia, 13-9-2024)

Adapun kedatangan Paus Fransiskus ke Indonesia ini yang disambut meriah bak raja oleh masyarakat Indonesia terutama masyarakat Muslim, ini tentu tidak terlepas dari sistem yang kita emban saat ini yakni sistem kapitalis sekuler. Sekularisme memisahkan antara agama dengan kehidupan. Sehingga memudahkan pemimpin gereja katolik yakni Paus Fransiskus masuk ke Indonesia. Padahal kita ketahui bersama bahwa Indonesia notabennya penduduk Islam yang paling besar di dunia.

Dengan adanya kunjungan seorang pemimpin gereja Katolik ke Indonesia ini sejatinya perlu kewaspadaan dan kehati-hatian. Karena target dari kunjungan tersebut adalah tekanan global terkait toleransi dan moderasi yang ditandai dengan statemen Paus yang menyatakan bahwa definisi politik yang baru adalah bukan perang melainkan kasih sayang dan kekayaan Indonesia bukanlah tambang, emas, akan tetapi sebuah keharmonisasian.

Lebih ironisnya lagi, statemen dari Paus tersebut direspon positif oleh masyarakat Indonesia terutama masyarakat Muslim. Ini ditandai dengan usulan adzan untuk dilakukan secara running text yang kemudian dianggap wajar oleh para kaum muslimin di Indonesia baik itu dari mahasiswa muslim maupun para tokoh-tokoh Muslim. Sejatinya ini merupakan salah satu toleransi yang kebablasan antar sesama agama.

Kalau kita tidak hati-hati dan jeli terhadap amanah atau pesan yang disampaikan oleh Paus Fransiskus tersebut, bisa saja kita terjerumus ke dalam toleransi kebablasan lainnya sehingga bisa menggerus akidah kaum Muslim saat ini. Padahal kita dalam Islam telah diingatkan bahwa agama Islam adalah agama yang paling toleransi di antara semua agama yang ada di dunia ini. Namun lagi-lagi agama Islam memiliki aturan dan tatacara dalam bertoleransi yang bijak yakni kita boleh toleransi antar agama dalam hal apapun asalkan itu tidak berhubungan dengan akidah Islam.

Moderasi beragama adalah hal yang paling ditekankan dalam pertemuan antara Paus Fransiskus dengan presiden di istana merdeka kemarin dan ini sangatlah berbahaya karena umat Muslim bisa saja terjerumus untuk beranggapan bahwa semua agama adalah baik dan benar. Mau beragama apapun kita itu tidak menjadi masalah karena semua agama baik.

Namun nyatanya penggerusan opini ini sangatlah berbahaya, karena sejatinya kita sebagai umat Muslim harus meyakini seyakin-yakinnya bahwa agama yang benar hanyalah Islam agama rahmatan lil’alamin agama dari Sang Pencipta manusia dimuka bumi ini.

 

Dengan demikian kita tidak akan mudah melakukan sesuatu meskipun itu disampaikan oleh seorang pemuka agama Katolik jika memang itu bertentangan dengan ajaran Islam maka tetap harus kita tinggalkan.

Umat Islam harusnya kritis dan memiliki sikap yang benar terkait hal demikian terkait tuntunan syariat terkait bahaya toleransi dan moderasi beragama yang dibawa oleh Paus Fransiskus dalam kunjungannya kemarin.

Wallahu a’lam bishawab.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update