Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Matikan Bara Palestina Butuh Gerakan Nyata

Wednesday, October 23, 2024 | Wednesday, October 23, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:36:07Z

Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Sebanyak 87 orang tewas atau hilang di bawah reruntuhan setelah serangan Israel sejak Sabtu (19/10) di Beit Lahiya di Gaza utara. 40 orang lainnya terluka dalam serangan di Kota Beit Lahiya, yang merupakan salah satu target pertama invasi darat Israel hampir setahun yang lalu.

Dikutip dari tempo.co 20-10-2024, utusan perdamaian PBB untuk Timur Tengah pada Ahad mengutuk serangan yang terus berlanjut terhadap warga sipil Palestina. Setelah serangan udara Israel di Beit Lahiya di Gaza yang menewaskan 87 warga pada sejak Sabtu malam,  militer Israel mengatakan pihaknya meningkatkan serangan di Gaza utara pada awal Oktober untuk mencegah militan Hamas berkumpul kembali. Hal ini terjadi setelah berminggu-minggu operasi intensif Israel yang mengakibatkan banyak korban jiwa dari warga sipil dan hampir tidak adanya bantuan kemanusiaan yang menjangkau masyarakat di wilayah utara.  Tor Wennesland, Koordinator PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, telah mengatakan hal tersebut.

Realitas ini menunjukkan betapa PBB hanyalah lembaga dunia yang mandul dalam menyelesaikan masalah Palestina. Apa yang terjadi di Palestina seakan berita tragis yang biasa dan cukup sekadar dikutuk saja. Bahkan, sekadar  niat untuk membebaskan tanah Palestina pun nirempati.

Lebih menyedihkan lagi,  negeri-negeri muslim selalu saja terlihat tidak serius, minim empati. Mengutuk, mengecam, menyerukan upaya perundingan atau sejenisnya, seolah cukup. Langkah nyata yang dilakukan untuk mengusir entitas Y4hudi dari tanah Palestina, seakan tiada.

Bahkan, kebanyakan penguasa muslim bersikap rendah perhatian, hanya sebatas seruan kecaman. Perlawanan terhadap eksistensi entitas Y4hudi baru sampai pada perlawanan individu maupun komunitas. Sikap khianat seakan melekat pada para penguasa muslim saat ini.

Pemikiran Sampah Kian Menjajah

Perampasan tanah Palestina sesungguhnya merupakan hasil kerja serakah kaum kuffar yang sangat lama. Tidak bermula 7 Oktober lalu saja. Sejak kaum muslim disusupi pemikiran asing , pemikiran sampah yang menjajah, kerja keras dan ganasnya musuh Allah ini telah begitu beringas hingga akhirnya institusi kekhalifahan pun porak poranda.

Fakta nyata atas negeri-negeri muslim yang mencukupkan diri dengan hanya mengutuk, mengecam,  maupun usulan resolusi-resolusi yang berujung pada pengkhianatan entitas Y4hudi bukan muncul tiba-tiba tanpa alasan. Terdiamnya  kaum muslim untuk bergerak membebaskan Palestina, merupakan keberhasilan penjajahan menanamkan pemikiran sampah yang terus saja menjelajah dalam ruang hidup kaum muslim, hingga terus menjajah ruang hidup kaum muslim.

Penjajahan pemikiran yang dilakukan kaum kuffar telah mengerat-erat  kaum muslim dalam sekat-sekat geografis dan euforia nasionalisme.  Setiap negara dianggap  memiliki hak dan kebebasannya masing-masing. Nasionalisme membuat batasan, mana yang menjadi urusan dalam dan luar negeri satu negara. Nilai kemanusiaan yang minim empati  menjadi pendorong minimalis tanpa kerangka akidah pembelaan pun menjadi hanya sebatas pembicaraan nihil aktualisasi. Padahal jika aqidah sebagai daaar, tentunya sabda Rasululillah Saw. tentang: “Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR Bukhari dan Muslim). Jelas, tak akan biarkan nasionalisme  menggeser kedudukan ikatan akidah pada tingkatan yang direndahkan.

Demikianlah yang terjadi saat ini. Adanya pernyataan sikap negeri-negeri muslim yang menggelar KTT Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), sekalipun mengatakan bahwa KTT Luar Biasa OKI menghasilkan resolusi berisi 31 keputusan kuat dan keras, tetap saja tawaran solusinya masih mengulang kecaman dan resolusi yang membebek pada solusi Barat. Palestina tetaplah membara hingga detik ini.

Penjajahan pemikiran yang dilakukan kaum kuffar sejak kekhalifahan Islam berkuasa terus saja berlangsung, bahkan  hingga saat ini. Kaum kuffar membelenggu  kaum muslimin dengan kejumudan. Perjanjian demi perjanjian maupun kerja sama bersyarat terus saja melenggang tanpa gerakan nyata dari negara-negara muslim untuk segera membebaskan saudaranya. Palestina tetap bernasib sama. Sekat geografis telah membuat negeri-negeri muslim dengan potensi militer dan demografi tak berkutik seakan sulit bangkit. Bara di Palestina terus memanas hancurkan tanpa rasa iba.

Masalah Palestina Butuh Gerakan Nyata

Setahun berlalu bara Palestina menyala. Sampai kini pun bara itu masih saja menyaka.

Demonstrasi, seremoni, seruan, hujatan dan apapun itu telah deras mengalir tanpa henti. Namun sayang beribu sayang,  para ulama muslim di seluruh penjuru negeri tetap saja samar dan tak punya kejelasan untuk mendukung perjuangan Palestina.

Permohonan dan seruan dukungan masih saja hanya berkutat pada materiel dan moral bagi rakyat Palestina. Pidato mereka pun  hanya sebatas kecaman atas penderitaan yang dialami rakyat Palestina di Gaza selama hampir setahun lamanya. Sebagian dari mereka berani dalam pidatonya untuk fokus pada perlunya melanjutkan perjuangan melawan pendudukan, sebagian lagi menekankan pentingnya memperluas lingkaran dukungan dan perlawanan.

Ulama adalah pewaris para nabi. Umat menaruh kepercayaan mereka. Umat mengharapkan tindakan nyata bukan hanya kata-kata. Umat berharap bahwa ulama dapat membimbing mereka kepada kebenaran dan menghidupkannya dengan apa yang telah Allah berikan  yaitu ilmu dan pemahaman, serta rasa takut dan takwa kepada Allah.

Umat harus melihat nyata bahwa wajibnya ulama  untuk mengatakan kebenaran, bukan karena takut akan celaan orang yang mencela maupun kezaliman orang yang zalim adalah riil. Umat harus semakin yakin dengan perantaraan keberadaan ulama bahwa kewajiban dari Allah untuk berjihad bukan hanya kewajiban bagi penduduk Gaza, Tepi Barat, maupun Lebanon, saja. Namun  kewajiban itu adalah untuk seluruh umat Islam. Umat harus paham bahwa sebelum kewajiban itu terpenuhi, umat Islam seluruhnya berdosa, kecuali mereka yang beramal, dan ulama adalah  yang menanggung beban dan tanggung jawab yang lebih besar.

Oleh sebab itu, jangan jadikan umat  seperti orang yang diberi ayat-ayat Allah, lalu meninggalkannya. Jangan pula seperti orang yang diberi Taurat, tetapi mereka tidak mengamalkannya. Jangan jadikan umat lupa bahwa Allah akan bertanya tentang ilmu yang telah diberikan-Nya, saat membaca firman Allah Swt., “Tahanlah mereka (di tempat perhentian). Sesungguhnya mereka akan ditanya (tentang keyakinan dan perilaku mereka).” (QS Ash-Shaffat: 24).

Butuh gerakan nyata bagi para ulama yang seharusnya tidak lagi menundanya. Hendaknya para pewaris nabi senantiasa melakukan, pertama, menjelaskan siapa pihak yang menjadi penyebab pendudukan Palestina dan pengusiran penduduknya, dan mengungkap adanya kerja sama organisasi internasional dan PBB dalam melanjutkan pendudukan, dan bahwa tidak ada manfaat yang diharapkan dari berbicara kepada mereka untuk mengangkat kezaliman dari penduduk Gaza.

Kedua, bongkar para penguasa kaum muslim dan para konspirator serta kaki tangan lainnya, kemudian menyingkapkan kepada umat pengkhianatan dan kolusi mereka, bahkan kegembiraan mereka atas kemenangan entitas Yahudi dan terbasminya kaum Mujahidin.

Ketiga, jelaskan kepada umat bahwa gerakan yang efektif adalah gerakan yang mampu mengubah situasi politik, menumbangkan para penguasa, dan menyatukan umat dalam kesatuan politik yang mengembalikan kejayaannya, bukan sekadar persatuan dalam upaya mendukung perjuangan Palestina.

Keempat, jadilah pemimpin umat dalam menghadapi para penindas yang mendukung entitas Yahudi dan mereka yang telah membelenggu umat, menyumpal mulutnya, dan mengenakan kerah kehinaan dan ketundukan, sehingga umat bangkit bersama kalian dan memperlihatkan kepada Allah apa yang diridai-Nya, dan umat sangat menginginkannya.

Kelima, deklarasikanlah jihad dan janganlah merasa puas dengan deklarasi itu hingga kalian memulainya dengan pasukan muslim gagah berani. Janganlah merasa puas dengan seruan para pemuda untuk berjihad sebagaimana yang kalian lakukan karena para pemuda itu dipersiapkan, tetapi tidak diperlengkapi. Serukan pada pasukan yang ditempatkan di barak-barak lebih layak untuk lebih siaga karena mereka telah terlatih dan siap, dan tidak diragukan lagi bahwa banyak dari mereka yang secara fisik, spiritual, materi, dan moral, siap untuk berkorban dan menebus dosa.  Batu sandungan  rezim korup yang mereka patuhi, yang menghalangi mereka untuk bergerak, sudah menjadi kewajiban ulama untuk mendahulukan menyeru mereka terhadap tanggung jawab mereka dan teruskan sampai menuntut nusrah (dukungan) mereka.

Firman Allah Swt. dalam QS Ash-Shaff ayat 4,

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam satu barisan, seakan-akan mereka suatu bangunan yang tersusun kokoh.”

Laa haulaa walaa quwwata illaa billaah. Sudah seharusnya kaum muslim  tidak terus dalam belenggu pemikiran sampah yang menyesakkan  kaum. Kaum Muslim harus benar-benar memahami hakikat masalah Palestina. Menyikapi entitas Y4hudi tidak cukup dengan sekadar mengecam. Harus ada langkah konkret dan solutif bagi permasalahan Palestina.

Permasalahan utama dan mendasar atas berbagai problem umat Islam sesungguhnya karena ketiadaan institusi pemersatu yang menjadikan aqidah penyatu utama dan kekuatan utama dalam institusinya.  Institusi yang telah diruntuhkan melalui konspirasi Y4hudi yang  sesungguhnya merupakan kunci bagi kemenangan kaum muslim. Oleh karenanya, negeri-negeri kaum muslim harus segera melepaskan belenggu nasionalisme yang menjerat dan menghalangi mereka untuk bersatu.

Tentunya konsolidasi umat Islam secara global sudah sangat urgen. Perlu adanya solusi jangka pendek untuk melawan entitas Y4hudi di bumi Al-Aqsha. Solusi ini tidak lain adalah jihad.

Sudah seharusnya para penguasa negeri-negeri muslim memobilisasi pasukan militer mereka ke Palestina. Sungguh umat Islam mampu melakukan ini, cukup dengan menghadirkan keberanian yang nyata serta hati nurani penuh kasih sayang terhadap saudara seaqidah.

Palestina adalah kiblat pertama umat Islam. Palestina juga merupakan tempat Rasulullah melakukan Isra Mikraj. Di sisi lain, tanah Palestina adalah tanah yang ditaklukkan pasukan kaum muslim pada masa Khalifah Umar bin Khaththab. Jadi, sangat beralasan bagi kaum muslim untuk membebaskan Palestina. Kesadaran untuk bersatu hingga kaum muslim mampu tampil di pentas politik internasional secara mandiri tanpa intervensi pemikiran Barat harus dikuatkan.

Demikianlah urgensi upaya-upaya strategis yang riil, gerakan yang nyata  untuk mengembalikan institusi pemersatu umat Islam bukan hanya basa basi, karena Institusi inilah yang akan menjadi pelindung, pembebas Palestina juga negeri-negeri muslim lainnya dari berbagai bentuk penjajahan kaum kuffar dari waktu ke waktu. Bara Palestina mati bukan lagi hanya nanti dan nanti.

Wallaahu a’laam bisshawaab.

 

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update