Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Toleransi Tanpa Mengorbankan Aqidah Islam

Monday, September 23, 2024 | Monday, September 23, 2024 WIB

Oleh : Sri Nawangsih
(Ibu Rumah Tangga)

Kedatangan Paus Fransiskus ke Indonesia pada September 2024 menjadi peristiwa penting, setelah kunjungan Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1989. Paus mengadakan misa agung di Gelora Bung Karno, yang dihadiri oleh ribuan umat Kristiani. Namun, prosesi penyambutan tersebut memicu polemik di kalangan umat Islam karena dinilai melampaui batas akidah Islam.

Kontroversi dimulai dari surat permohonan dukungan kepada Kementerian Agama untuk menyiarkan misa Paus di televisi nasional, dengan mengubah format penanda waktu maghrib. Selain itu, ada agenda pembacaan Injil dan Al-Qur’an di Masjid Istiqlal serta penandatanganan dokumen toleransi. Prosesi ini dianggap mendorong sinkretisme, pluralisme, dan humanisme yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Sinkritisme/ mencampuradukkan ajaran agama jelas mencampur adukkan yang haq dengan yang batil, yang jelas-jelas Allah larang dalam Qs Al-Baqarah: 42. Lalu Prulalisme/ ajaran bahwa semua agama sama bertentangan secara total dengan Aqidah Islam. Majelis Ulama Indonesia telah mengharamkan pluralisme dalam Munas MUI 2005. Humanisme menekankan kemanusiaan sebagai pusat, tanpa melibatkan peran agama, juga bertentangan dengan ajaran Islam yang menempatkan Allah sebagai pusat kehidupan.

Toleransi dalam Islam Islam menekankan toleransi dengan menghormati keyakinan agama lain, tanpa mencampurkan ajaran. Rasulullah saw. sering menampakkan syiar Islam kepada pemimpin non-Muslim. Praktik toleransi beragama yang indah terwujud dalam sejarah peradaban Islam, di mana umat Islam hidup berdampingan dengan umat lain di bawah naungan Khilafah.

Toleransi sejati menurut Islam tidak mengorbankan akidah dan hanya dapat terwujud dengan penegakan syariat Islam yang kaffah.

Wallahu a’lam bi ash-shawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update