Oleh Intan A.L
(Pegiat Literasi)
“Waktu adalah hadiah dari alam. Namun usia adalah karya seni.” (Anonim)
Sepotong kalimat di atas menggambarkan bahwa apa yang kita lalui selama ini bagian dari perjalanan waktu yang sudah pasti. Namun, bagaimana waktu itu membentuk kita adalah pilihan hidup yang menjadikan siapa kita hari ini. Sebagaimana setiap orang memiliki masa awal kelahirannya, sebuah tempat pun kadang memiliki hari mulanya. Seperti perayaan di bulan ini tatkala kota Bandung akan merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-214. Rencananya, Pemerintah Kota Bandung akan menggelar Bandung Great Sale 2024 dengan tema “Affordable Shopping with Love”. Ini merupakan acara kolaborasi Pemkot Bandung dengan swasta yang bertujuan memberikan pengalaman berbelanja istimewa dengan diskon besar-besaran hingga 80%. (Bandung.go.id, 06/09/2024)
Pada dasarnya berbelanja merupakan aktivitas umum yang dilakukan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan. Namun, hari ini semangat hidup kapitalis secara sistematis telah menjadi bagian dari bermasyarakat. Sehingga berbelanja tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan, tapi mengarah pada konsumerisme yang mempengaruhi nilai dan batasan normatif. Akibatnya konsumen tidak sekedar menilai suatu barang dan jasa sebagai kebutuhan tapi mengutamakan kepuasan yang mempengaruhi naluri dan gengsi.
Konsumerisme ini berbalut nilai materialisme dan hedonisme yang mengakibatkan aktivitas konsumsi berkembang menjadi ajang flexing atau pamer. Pandangan bangga menjadi konsumen pesawat berkelas, jasa hotel berbintang dan akomodasi bergengsi semacamnya yang potensial menjadi tekanan sosial. Lebih jauh, gaya hidup konsumerisme menjadi stressor mental yang mengubah muslim menjadi gila harta dan cinta dunia. Dampaknya akan terinternalisasi sebuah nilai konsumtif berbahaya di tengah masyarakat yang mengubah standar qana’ah. Alhasil, batasan normatif Islam tentang halal dan haram pun diabaikan.
Sistem kapitalisme sekuler menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu sumber perekonomian negara. Memanfaatkan keragaman budaya, keunikan tradisi serta potensi dan keindahan alam sebagai barang konsumsi yang menghasilkan materi. Hal ini berbeda dengan Islam yang menetapkan potensi keindahan alam dan semisalnya sebagai sarana amar makruf nahi mungkar.
Islam menjadikan aqidah sebagai asas kehidupan tak terkecuali dalam bernegara yang menetapkan bahwa negara memiliki fungsi untuk menyebarluaskan Islam. Maka segala potensi alam sebagai objek wisata seperti air terjun, pegunungan, pantai dan semacamnya adalah sarana menanamkan pemahaman Islam. Allah Swt. berfirman,
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia, Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (TQS. Ali Imran[4]: 190-191)
Keindahan alam yang diberikan Allah Swt. menjadi sarana mempertebal keyakinan dan keagungan Islam yang memelihara keseimbangan tersebut. Ia tidak ditujukan sebagai alat mengeruk materi apalagi sampai menyebabkan tumbuhnya kebiasaan flexing di masyarakat. Maka persoalan perekonomian tidak diselesaikan dengan dibukanya sektor pariwisata dan pasar berbelanja yang dapat merusak nilai dan pandangan hidup bermasyarakat ke arah konsumerisme dan hedonisme. Tetapi, secara sistematis perekonomian dalam Islam diatur dalam pos-pos terukur seperti hasil pengelolaan mandiri sumber daya alam, baik barang tambang maupun hasil pertanian dan laut, serta kharaj, fai, jizyah, ganimah, usyur dan sebagainya.
Perubahan seperti itu tidak bisa dilakukan kecuali dengan mengubah pandangan kapitalis itu sendiri yakni dengan mencampakkan sistem kapitalisme yang masih mencengkeram masyarakat hingga kini. Lalu mengembalikan Islam sebagai pengatur urusan rakyat secara menyeluruh dan sistematis. Dengan penerapan Islam kafah oleh negara, bahaya konsumerisme akan terhindarkan dan masyarakat akan tetap terjaga dengan baik.
Wallahu a’lam bishshawwab

No comments:
Post a Comment