Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

TAMPA JUNNAH UMAT ISLAM SENATIASA TERANIAYA

Thursday, August 15, 2024 | Thursday, August 15, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:39:47Z

OLEH: DEWI YULIANI

Belakangan ini sering berseliweran berita tentang saudara kita yang ada di Rohingya dan palestina. Yang dimana meraka adalah saudara kita sesama muslim yang terindas dan teraniaya. Bahkan baru baru ini Muslim Rohingya Kembali diburu dan dianiaya.
Nasib muslim Rohingya memang sangat menyedihkan. Mereka sudah berabad-abad tinggal di Myanmar, terutama di Rakhine, Arakan. Tanah tersebut secara de facto merupakan milik mereka. Hanya saja, pergolakan politik yang panjang atas dasar isu agama, serta makar imperialis kolonial yang diwariskan dari masa ke masa, membuat muslim Rohingya menjadi terjajah di tanahnya sendiri.

Apalagi ketika kelompok ekstrem Buddha dan juga militer Myanmar berkuasa, kondisi mereka makin parah saja. Pada 1982 pemerintah bahkan menerbitkan Undang-Undang Kewarganegaraan yang tidak menyebut etnis Rohingya di dalamnya. Sejak saat itulah, penduduk Rohingya resmi menjadi entitas tanpa negara (stateless).

Pengungsi Rohingya yang baru tiba kembali ke perahu setelah masyarakat setempat memutuskan untuk mengizinkan mereka sementara mendarat untuk mendapatkan air dan makanan di Ulee Madon, provinsi Aceh, Indonesia, pada 16 November 2023.

Sekitar 250 pengungsi Rohingya mencapai Indonesia bagian barat dengan perahu kayu yang penuh sesak pada 16 November 2023, sehingga jumlah pengungsi yang dilaporkan oleh pejabat setempat tiba pada minggu ini menjadi hampir 600 orang.

Serangan pesawat nirawak menewaskan 150 warga Rohingya yang mencoba melarikan diri dari pertempuran di Rakhine, Myanmar dikutip dari (TRIBUNNEWS.COM, MYANMAR ) Setidaknya 150 warga sipil dari minoritas Muslim Rohingya di Myanmar diperkirakan tewas minggu ini dalam serangan artileri dan pesawat tak berawak di negara bagian Rakhine, Myanmar. Tentara Arakan, sayap militer kelompok etnis Rakhine di negara bagian itu, membantah bertanggung jawab atas serangan pada hari Senin.

Serangan pesawat nirawak atau drone terhadap warga Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar menewaskan puluhan orang, termasuk keluarga dengan anak-anak. Beberapa saksi mata mengatakan para korban selamat terpaksa harus mencari di antara tumpukan mayat untuk menemukan dan mengenali kerabat mereka yang tewas atau terluka.

Empat saksi mata, aktivis, dan seorang diplomat menggambarkan serangan pesawat nirawak pada Senin yang menghantam keluarga yang menunggu untuk menyeberangi perbatasan ke negara tetangga Bangladesh.

Seorang perempuan hamil tua dan putrinya yang berusia 2 tahun termasuk di antara korban serangan mematikan terbaru di negara bagian Rakhine itu. Serangan tersebut merupakan yang paling mematikan terhadap warga sipil di wilayah itu dalam beberapa minggu terakhir, di tengah pertempuran antara pasukan junta dan pemberontak.

Tiga saksi mata memberi tahu Reuters pada Jumat bahwa Tentara Arakan adalah pihak yang bertanggung jawab, meskipun kelompok tersebut membantah tuduhan itu. Milisi dan militer Myanmar saling menyalahkan atas insiden tersebut. Reuters belum dapat memverifikasi jumlah korban tewas atau secara independen menentukan siapa yang bertanggung jawab.
Sudah jelas kejahatan dan kebrutalan yang di alami saudara kita di Myanmar

Begtu juga yang dialami saudara kita Muslim palestina masih terus menjadi sasaran penjajah, dan hidup dalam kesulitan yang luar biasa. Mirisnya negara-negara Barat terus membela dan mendukung negara Zionis, menunjukkan standar ganda yang nyata, karena umat tidak mulia dan terhina. Nasib umat akan terus terpuruk selama Tidak ada junnah bagi kaum muslimin di manapun sehingga kaum muslimin akan selalu ditindas di mana saja.

Tak cukup sampai disitu saudarah kita di palestina juga mengalami hal yang sama.
Militer Israel mengatakan pada Jumat bahwa pasukan beroperasi di sekitar Khan Yunis, kota Gaza selatan tempat tentara mundur pada April setelah berbulan-bulan pertempuran sengit dengan Hamas.
Upaya Gencatan Senjata
Selama pertempuran di Gaza berlangsung, baru ada satu kali gencatan senjata, yaitu pada November.

Para mediator dari Amerika Serikat (AS), Qatar dan Mesir selama berbulan-bulan telah mencoba untuk mencapai genjatan senjata yang kedua.
Dalam pernyataan bersama pada Kamis (8/8), para pemimpin ketiga negara mengundang pihak-pihak yang bertikai untuk melanjutkan perundingan pada 15 Agustus di Doha atau Kairo “untuk menutup semua kesenjangan yang ada dan memulai penerapan perjanjian tanpa penundaan lebih lanjut”.

Dari sini kita bisa mengambil pelajaran bahwasannya semua negri muslim khususnya di Rohingya dan palestina membutuhkan Junnah atau perisai untuk membantu menyelamatkan dan membebaskan saudara kita yang hari ini tertindas dan teraniaya..

Oleh karena itu, sudah saatnya umat Islam di seluruh dunia bersama-sama mencampakkan semua sistem, prinsip-prinsip, dan nilai-nilai hidup yang diciptakan oleh para penjajah. Lalu serius mengikhtiarkan terwujudnya satu sistem kepemimpinan Islam global, yakni Khilafah, yang akan menghapus sekat-sekat imajiner bernama negara.

Setelah itu, Khilafah akan memobilisasi seluruh potensi umat dan sumber daya mereka. Dengan cara itulah Khilafah akan mengangkat umat dari segala bentuk penderitaan dan membebaskan mereka dari kezaliman para pemimpin kufur di mana pun mereka berada.

Inilah yang dulu dimiliki umat Islam. Di bawah naungan Khilafah, seluruh warga negara, muslim dan nonmuslim, benar-benar merasakan hidup mulia, sejahtera, dan terjaga. Semua urusan mereka diurus berdasarkan ketetapan-ketetapan syariat, keamanan dan kehormatan mereka pun benar-benar dijaga.

Maka, kita bisa memahami mengapa seorang Khalifah bernama Mu’tashim Billah rela mengerahkan tentaranya yang ada di Baghdad hanya demi menghilangkan derita seorang muslimah yang dilecehkan di Ammuria. Begitu pun yang dilakukan Khalifah Sulaiman AlQanuni di Turki. Beliau rela mengirim tentaranya demi membantu Kesultanan Aceh demi menghadapi aneksasi Portugis.

Kisah-kisah keagungan Khilafah begitu banyak terserak dalam catatan sejarah emas peradaban Islam. Masa-masa kegemilangan itu akan kembali lagi di akhir zaman sebagaimana yang telah Allah Swt. janjikan. Oleh karena itu, kita pantas berharap agar masa itu adalah masa-masa yang dekat, seraya berdoa agar termasuk dalam golongan orang-orang yang memperjuangkannya.

Umat Islam semestinya yakin bahwa masa depan peradaban dunia ada di tangan mereka, sebagaimana musuh yakin bahwa umat Islam adalah ancaman terberat bagi peradaban mereka sekarang. Terlebih, bisyarah (kabar gembira) tentang kedatangan Khilafah dan kejayaannya sudah disampaikan dalam nas syarak sehingga cukup bagi orang mukmin untuk meyakininya.

Adapun kelemahan umat yang tampak pada kasus Palestina dan kekejaman Zionis beserta sekutu-sekutunya hanyalah fatamorgana yang tidak boleh melemahkan energi umat untuk berjuang. Allah sejatinya tengah menguji kita sekaligus memberi kita kesempatan untuk turut dalam proyek besar membangun peradaban Islam yang pahalanya akan mengalir melewati usia hidup dan menjadi warisan terbaik yang kelak kita tinggalkan.

Oleh karenanya, jika muslim Palestina hari ini menjadi martir bagi bangkitnya kembali spirit penegakan khilafah, insyaallah itu akan menjadi kebaikan bagi mereka di dunia dan akhirat. Namun, kita pun harus siap menjadi martir perjuangan dengan bergerak sungguh-sungguh merealisasikan semua prasyarat bagi penegakkan khilafah, yakni munculnya umat berkesadaran dan para pemilik kekuatan yang siap memberikan loyalitas pada Islam.

Upaya ini hanya bisa dilakukan melalui dakwah pemikiran yang masif dan terorganisasi di tengah umat, agar akidah yang sudah ada pada diri mereka menjadi akidah yang mepengaruhi kehidupan. Bukan akidah yang sekadar teori dan konsep yang tidak melahirkan kesiapan untuk hidup di bawah naungan hukum-hukum Islam sebagaimana terjadi sekarang. Bahkan melemahkan ruh jihad dan ukhuwah hakiki sebagaimana diharuskan.

Dakwah seperti ini sejatinya memiliki kesepadanan dengan apa yang pernah dilakukan baginda Rasulullah saw. yang berhasil menegakkan kepemimpinan politik Islam. Menapaki sirahnya adalah sebuah keniscayaan, yang insyaallah nanti akan berakhir pula dengan keberhasilan.

Wallahu’alam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update