Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Stunting di Kota Naik, Apa yang Harus Dilakukan?

Saturday, August 03, 2024 | Saturday, August 03, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:40:57Z

Oleh: Rosyidah Muslimah,S.Kom.I
(Pemerhati Sosial)

Stunting terjadi bukan hanya di desa tetapi juga di kota. Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan mengatakan kasus stunting di Kota Balikpapan meningkat 2 persen. Terdapat 2500 anak di Balikpapan memiliki masalah gizi. Selain itu, terdapat pula lebih dari 680 ibu yang terserang anemia dan mengalami kekurangan energi kronis.

Stunting tidak lagi hanya ditemui di pedalaman daerah tetapi terjadi di kota besar termasuk Balikpapan, padahal akses di kota untuk mendapatkan berbagai jenis makanan sehat mudah di dapat, ilmu tentang kesehatanpun mudah diakses. Namun ternyata perilaku masyarakat yang memicu stunting, seperti sering memakan makanan siap saji dan olahan, makan dengan menu yang kurang dari gizi seimbang. Oleh karenanya, perlu adanya perubahan perilaku masyarakat yang memicu stunting.

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Endang L. Achadi menyatakan, stunting bukan harus diobati, tetapi dicari cara mengatasinya dan mencegahnya. Gizi ibu hamil harus tercukupi, tidak anemia, tidak berada di lingkungan perokok, tidak kurus atau gemuk, dan penambahan berat badan selama kehamilan adekuat (memenuhi syarat).

Persoalan stunting sebenarnya bagian dari persoalan yang lebih mendasar, yaitu pemenuhan kebutuhan dasar rakyat. Selama ini, negara abai akan pemenuhan kebutuhan dasar berupa pangan bagi rakyat. Akibatnya, banyak rakyat yang kekurangan gizi, termasuk ibu hamil, bayi, dan balita. Terjadilah gagal tumbuh atau stunting pada anak.

Langkah-langkah pemerintah untuk menurunkan stunting belum mendasar. Selama ini dalam kegiatan Posyandu, balita hanya mendapatkan biskuit atau susu, bukan makanan sumber protein yang penting bagi pertumbuhan badan. Program penanganan stunting mengindikasikan tidak seriusnya pemerintah dalam menurunkan angka stunting, padahal stunting sangat menentukan masa depan negara.

Negara harus mendayagunakan seluruh sumber daya, aparat, lembaga, dana, fasilitas, dll. untuk menyolusi stunting. Tidak hanya menggelontorkan dana, negara juga harus memberikan edukasi terkait gizi pada masyarakat. Negara juga harus memfasilitasi masyarakat agar bisa mengonsumsi makanan bergizi.

Selain itu, hal-hal yang terkait stunting juga harus dibenahi. Misalnya, kesejahteraan masyarakat dan stabilitas harga bahan pangan. Faktanya, kemiskinan masih menjadi masalah pelik di Indonesia. Angka kemiskinan ekstrem juga masih tinggi. PHK terjadi di mana-mana sehingga berdampak pada tingginya angka pengangguran. Selain itu, harga daging sapi, ayam, telur, dan ikan juga masih tinggi sehingga konsumsi protein hewani masyarakat menjadi rendah.

Politik ekonomi Islam menjamin pemenuhan semua kebutuhan primer tiap orang secara menyeluruh, serta kemungkinan tiap orang untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan tersiernya sesuai kadar kesanggupannya sebagai individu yang hidup dalam sebuah masyarakat yang memiliki gaya hidup tertentu.

Dengan demikian, Khilafah sebagai institusi penerap syariat Islam kafah akan memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan primer (sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan) bagi tiap individu rakyat. Kebutuhan gizi tiap orang akan terpenuhi, termasuk ibu hamil dan balita. Tidak hanya pangan, kebutuhan akan rumah yang sehat, air minum yang layak, sanitasi, edukasi, akses terhadap layanan kesehatan, dsb. semuanya dijamin oleh Khilafah.

Penguasa dalam Khilafah, yaitu khalifah, para muawin (pembantu khalifah), para wali (gubernur), dan para amil (bupati/wali kota) bertanggung jawab memastikan terpenuhinya kebutuhan primer rakyat, termasuk kecukupan pangan bergizi.

Khilafah memiliki struktur administrasi yang akan memastikan setiap program pemerintah tersebut dirasakan oleh rakyat hingga ke pelosok negeri. Khilafah juga menerapkan sistem ekonomi Islam yang mewujudkan kesejahteraan dengan mencegah kekayaan beredar pada segelintir orang saja serta mengembalikan hak milik umum pada rakyat demi terwujudnya kemakmuran yang merata.

Khilafah akan menghasilkan generasi yang kuat, bukan generasi lemah. Ini sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah ‘Azza wa Jalla daripada mukmin yang lemah dan pada keduanya ada kebaikan.” (HR Ahmad, Ibnu Majah, dan Nasa’i). Wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update