Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Penyelesaian Hakiki Persoalan Anak

Friday, August 02, 2024 | Friday, August 02, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:41:01Z

Oleh : Maria A. Sandra, S.Pd

Setiap tanggal 23 Juli bangsa Indonesia memperingati Hari Anak Nasional. Tahun ini merupakan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang ke-40. Setiap tahun tema yang diusung berbeda-beda. Tema sendiri diperlukan agar peringatan HAN bisa difokuskan ke sejumlah tujuan dan persoalan. Melansir dari situs resmi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (KemenPPPA), tema Hari Anak Nasional 2024 ini sama dengan tahun lalu yakni “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”. Kompas..com 18/7/2024, Tari Oktaviani.

Tema sentral tersebut dibagi menjadi 6 sub tema yang terdiri dari: Anak Cerdas, Berinternet Sehat, Suara Anak Membangun Bangsa Pancasila di Hati Anak Indonesia, Dare to Lead and Speak Up: Anak Pelopor dan Pelapor, Pengasuhan Layak untuk Anak: Digital Parenting, Anak Merdeka dari Kekerasan, Perkawinan Anak, Pekerja Kompas.com 18/7/2024, Tari Oktaviani. Permasalahan anak di Indonesia yang sangat beragam dan kompleks ini jika tidak segera ditangani, dapat berdampak buruk pada pertumbuhan dan perkembangan anak, serta masa depan bangsa. Oleh karena itu, perlu upaya bersama dari pemerintah, masyarakat, keluarga, dan berbagai pihak untuk memberikan perlindungan dan pemenuhan hak-hak anak. Inilah esensi peringatan Hari Anak Nasional yang diperingati setiap tahunnya.

Namun walaupun HAN diperingati seremonial setiap tahun, belum nampak perubahan signifikan terhadap penyelesaian permasalahan yang terjadi pada anak. Bahkan berbagai masalah masih mengancam kehidupan anak Indonesia. Dari pelaku judol, menjadi pelaku dan korban kekerasan sampai masalah stunting. Selain itu kejahatan seksual terhadap anak, kejahatan berbasis siber, pengabaian pemenuhan hak dasar anak akibat perceraian dan konflik orang tua juga masih menimpa anak Indonesia. Sementara solusi yang dilakukan pemerintah untuk menyelesaikan masalah -masalah ini masih belum menunjukkan hasil.

Mengapa permasalahan pada anak tak kunjung usai. Tidak dipungkiri saat ini Indonesia menerapkan sistem kapitalisme dalam pengaturan kehidupan bernegara. Sistem ini telah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap dinamika politik dan ekonomi di Indonesia. Pengaruhnya begitu mendasar sehingga membentuk wajah Indonesia modern seperti yang kita lihat saat ini. Sistem kapitalisme yang mendominasi ekonomi global, termasuk Indonesia, memiliki dampak yang kompleks dan multidimensi terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk permasalahan yang dihadapi anak-anak seperti ketimpangan sosial dan kemiskinan anak, biaya pendidikan yang semakin mahal, gizi buruk, eksploitasi anak serta berkembangnya sifat konsumerisme dan materialisme. Nilai materialistik yang terlahir dari system Kapitalisme telah menggeser nilai-nilai penting seperti kepedulian sosial, keluarga, dan lingkungan. Dari sini berkembang lagi budaya Individualisme yang mengikis nilai-nilai sosial seperti kerjasama, empati, dan solidaritas, yang sangat penting untuk perkembangan sosial dan emosional anak.

Alih-alih dapat menyelesaikan permasalahan pada anak, sitem Kapitalisme sekuler turut menjadi penyebab munculnya permasalahan tersebut. Sistem ini menjadikan kebahagiaan manusia hanya diukur dengan materi semata, sehingga manusia disibukkan mengejar materi dunia yang diyakini dapat menghantarkan pada kebahagiaan. Dalam bidang Pendidikan Kapitalisme telah membentuk generasi sekuler yang mengagungkan kebebasan dan abai terhadap nilai-nilai agama. Dorongan saat melakukan perbuatan adalah hawa nafsu semata bukan ketakwaan. Ini membentuk tingkah laku yang buruk pada individu dan masyarakat, dan berpeluang memunculkan pelaku-pelaku kejahatan termasuk kejahataan yang menimpa anak. Sementara itu keluarga yang diharapkan dapat menjadi benteng dalam mendidik anak-anaknya, perannya semakin lemah. Sistem Kapitalisme menyebabkan orang tua sibuk bekerja mencari uang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, sehingga mengabaikan kewajiban mereka untuk mendidik dan menyiapkan generasi yang berkualitas. Keluarga tidak lagi menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak

Pandangan Islam terkait permasalahan anak dan generasi
Islam menempatkan anak adalah amanah dari Allah SWT yang dititipkan kepada orang tuanya . Untuk itu, anak harus dijaga dan dipelihara dengan baik agar memiliki pondasi keimanan yang kuat serta sehat secara fisik. Dari Abu Hurairah R.A Rasulullah bersabda “Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah (suci). Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.” (HR Bukhari dan Muslim).
“Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi; Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa.” (QS. asy-Syura: 49-50). Dari sini tampak bahwa Islam menjadikan keluarga dalam hal ini orang tua memiliki peran strategis dalam proses pendidikan anak bahkan masyarakat. Sejak awal masa kehidupannya, seorang anak lebih banyak mendapatkan pengaruh dari keluarga. Waktu yang dihabiskan di kehidupan keluarga pun lebih banyak daripada di tempat yang lain. Dan yang sangat berperan dalam Pendidikan di keluarga adalah orang tua. Maka didalam Islam orangtua akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah kelak di akhirat terkait pendidikan dan pembimbingan yang diberikan kepada anak -anaknya.
Keluarga—secara langsung maupun tidak—turut mempengaruhi jati diri sebuah masyarakat. Dari keluargalah muncul generasi manusia yang bermartabat, memiliki rasa kasih sayang, juga saling tolong-menolong di antara mereka. Alhasil, terciptalah tatanan kehidupan masyarakat yang kuat yang didukung keluarga-keluarga yang harmonis dan berkasih sayang. Ini karena keluarga memiliki pemikiran ideologis sebagai fondasinya. Dengan gambaran generasi seperti ini maka permasalahan yang terjadi pada anak akan terselesaikan.
Islam memandang penting keberadaan anak sebagai generasi penerus peradaban, maka negara memiliiki kewajiban menjamin pemenuhan kebutuhan anak, dalam berbagai aspek. Negara dengan aturan yang diterapkannya sangat berpengaruh untuk mewujudkan fungsi dan peran keluarga yang optimal dalam mendidik anak. Misalnya lingkungan yang kondusif, pelayanan kesehatan dan Pendidikan. Dalam hal lingkungan yang kondusif sistem Islam memiliki aturan pergaulan dalam masyarakat (Nidzomul Ijtima’i) yang mengatur interaksi antara laki-laki dan perempuan. Penerapan aturan ini akan meminimalisir terjadinya penyimpangan prilaku pada anak seperti pergaulan bebas dan kejahatan seksual. Pelayanaan Kesehatan yang berkualitas dan dijamin oleh negara menjadikan anak dapat tumbuh sehat jauh dari stunting ataupun gizi buruk. Sedangkan Pendidikan yang berkualitas serta gratis dengan tujuannya untuk membentuk kepribadian Islam akan mencetak anak-anak menjadi generasi yang berilmu dan berakhlaq. Sehingga terlahir para pemimpin dan kepemimpinan yang adil serta amanah yang mengayomi dan menyejahterakan rakyatnya. Pemimpin yang paham bahwa imam adalah raa’in (gembala) dan junnah (perisai). Rasulullah saw. bersabda, “Imam adalah raa’in (penggembala) dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR Bukhari). “Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.” (HR Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud). Dengan demikian, untuk membangun negeri ini hingga kelak menjadi bangsa maju bahkan menjadi adikuasa, hanya akan terwujud jika menjadikan sistem kehidupan Islam sebagai landasan hidup bermasyarakat dan bernegara.
Berbagai permasalahan yang terjadi pada bangsa ini termasuk permasalahan yang menimpa anak akan terselesaikan bila diterapkan aturan yang dibangun dengan landasan pemikiran yang mengaitkan segala aktivitas manusia dengan Allah Swt., yaitu sesuai perintah dan larangan-Nya. Oleh karenanya, upaya yang harus dilakukan adalah dengan menyadarkan kaum muslim tentang pentingnya menerapkan semua aturan Islam dalam kancah kehidupan. Langkah awal yang harus dilakukan adalah mengubah pola pikir umat yang saat ini telah dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran asing—terutama pemikiran kapitalis sekuler dengan tsaqafah islamiah atau pemahaman Islam. Bila masyarakat telah memahami tsaqofah Islam maka pemahaman ini akan membangkitkan kesadaran umat untuk menerapkannya dalam kehidupan bermasyarakat. Sehingga umat pun akan memahami Islam dan menjadikan seluruh hukum Islam sebagai pijakan dalam mengarungi kehidupan. Selanjutnya, muncullah kerinduan di tengah umat agar aturan Allah dan Rasul-Nya tegak di muka bumi. Umat akhirnya yakin bahwa hanya dengan sistem Islamlah mereka dapat menyelesaikan permasalahan dan mampu meraih kemajuan, yaitu sebagai khaira ummah ‘umat terbaik’ di muka bumi ini.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update