Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

MENYOAL PROBLEM ANAK DI HARI PERINGATAN ANAK

Tuesday, August 06, 2024 | Tuesday, August 06, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:40:44Z

Oleh : Zhulia

Tanggal 23 Juli 2024 kemarin peringatan Hari Anak Nasional. Tahun ini merupakan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang ke-40. Melansir dari situs resmi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (KemenPPPA), tema Hari Anak Nasional 2024 ini sama dengan tahun lalu yakni “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”.
Semenjak disahkannya Undang-Undang tentang Kesejahtraan Anak, pemerintah terus berupaya meningkatkan kesejahtraan anak dan terus mengoptimalkannya, salah satunya dengan mendorong kepedulian semua pihak lewat penyelenggaraan Peringatan Hari Anak Nasional.

Kapitalisme-Sekulerisme Biangkerok
Peringatan Hari Anak Nasional ini hanyalah sebatas seremonial belaka, dimana tidak adanya perubahan yang bermakna selama 40 tahun ini. Pada faktanya problematika anak-anak di Negeri ini semakin kompleks, meningkat dan memperihatinkan seperti stunting, menjadi korban maupun pelaku kekerasan dan pelecehan anak, menjadi pelaku judol, putus sekolah/tidak bisa sekolah, akhlak yang buruk dan masalah lainnya.
Sistem sekularisme mengagungkan kebebasan yang membentuk tingkah laku masyarakat buruk, diamana cenderung didorong oleh hawa nafsu dan jauh dari ketakwaan. Hal inilah yang memicu manusia tega melakukan kekerasan terhadap anak baik fisik maupun seksual. Sekularisme telah menjadikan asas kurikulum pendidikan, sehingga generasi saat ini terbentuk generasi yang liberal.

Sekularisme-Liberalisme menjauhkan keluarga dari peran dan fungsi utamanya dalam membina anak dan menjalankan fungsinya sebagai tempat aman bagi anaknya.
Saat ini, banyak ibu yang sibuk bekerja di luar rumah, sehingga mengabaikan peran utamanya yaitu sebagai pengasuh dan pendidik anak. Tidak terpenuhinya berbagai kebutuhan anak baik kebutuhan pokok, pendidikan maupun kesehatan adalah akibat dari abainya negara menjalankan negara sebagai pengurus umat. Sistem ekonomi yang diterapkan di negeri ini adalah sistem ekonomi kapitalisme yang menjadikan negara gagal mensejahtrakan rakyatnya, termaksud menyediakan layanan kesehatan, pendidikan gratis dan berkualitas. Selain itu, peran keluarga dalam mendidik anak pun semakin melemah. Inilah buah dari hasil sistem kapitalisme-sekulerisme yang diterapkan dalam kehidupan kita di negara ini.

Islam Menjamin Kebutuhan Anak
Islam memandang keberadaan anak penting sebagai generasi penerus peradaban. Dalam islam mewajibkan negara menjamin pemenuhan kebutuhan anak dalam berbagai aspek, mewujudkan fungsi dan peran keluarga yang optimal dalam mendidik anak. Orang tua wajib mendidik anakya dengan pendidikan agama islam, sehigga menjadi generasi yang berkepribadian islam. Tingkah laku generasi pun tidak didasari oleh pemikiran sekuler tetapi aqidah islam. Sistem pendidikan islam dapat membentuk generasi berkepribadian islam, menjauhkan peserta didik dari pemikiran rusak dan merusak seperti sekularisme, liberalisme dan sebagainya.

Dalam islam hanya imam/khalifah yang disebut sebagai junnah (perisai) karena dialah satu-satunya yang bertanggungjawab sebagai perisai, sehingga khalifah wajib menjadi junnah (pelindung) bagi seluruh rakyatnya dari kalangan anak-anak hingga lansia. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits:
( عَنْ رَعِيَّتِهِمَسْؤُوْلٌوَهُوَ رَاعٍ الإِمَامُ )
“Imam/Khalifah itu laksana penggembala, dan hanya dialah yang bertanggungjawab terhadap gembalanya” (HR. Bukhari dan Muslim).

Selain itu, khilafah menciptakan masyarakat yang memahami syariat dan menjalankan budaya amar ma’ruf nahi munkar, sehingga terciptalah linkungan yang aman dan nyaman bagi anak. Serta khilafah memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan yang melalui kerja para kepala keluarga dan ekonomi islam. Oleh karena itu, pentingnya sistem yang sempurna untuk mengatur semua aspek kehidupan masyarakat di negeri ini yaitu sistem islam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update