Oleh: Nadia Salsabya
Deputi Pengkajian Strategik dalam Direktorat Pengkajian Ekonomi dan Sumber Kekayaan Alam Lemhannas RI Prof. Dr. Ir. Reni Mayerni, M.P. menyampaikan bahwa ancaman krisis ekonomi global yang diprediksi akan terjadi pada tahun 2024 menjadi aspek yang mengkhawatirkan bagi negara-negara di dunia. Resiko global yang mungkin akan ditanggung masyarakat diantaranya adalah biaya hidup dan cyber attack. [lemhanas 1/7/24]
Mengingat akan bahaya krisis ekonomi, tentu ada banyak hal yang harus disiapkan penguasa. Salah satunya adalah menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat demi memenuhi kebutuhan pokok yang semakin mahal. Namun fakta di lapangan menunjukkan angka pengangguran di Indonesia cukup tinggi.
Dana Moneter Internasional (IMF) melalui World Economic Outlook pada April 2024 mencatat tingkat pengangguran di Indonesia sebesar 5,2 persen tertinggi dibandingkan enam negara lain di Asia Tenggara yang ada di daftar. [CNN 19/7/24]
Dikutip dari databoks, sepanjang tahun 2023 ada sekitar 168 ribu TKA (Tenaga Kerja Asing) dari berbagai negara. Jumlah terbanyak berasal dari Cina yakni sekitar 82 ribu TKA. Bagaimana bisa, pemerintah mempekerjakan TKA ketika rakyatnya sendiri kesulitan mencari pekerjaan?.
Jika sudah demikian, maka tidak sedikit yang memutuskan untuk bekerja menjadi TKI dan berpisah dengan keluarga. Resiko yang mungkin ditanggung pun cukup berat, dari perselingkuhan, perceraian, depresi, anak yang kurang kasih sayang, bahkan bisa jadi membahayakan nyawa.
Buah Sekulerisme
Hal ini terus akan terjadi jika negara masih menggunakan cara pandang yang salah dalam membangun negara, utamanya mengembangkan SDM. Seperti yang nampak dalam kebijakan – kebijakannya, negeri ini menggunakan cara pandang kapitalisme sekuler yang anti dengan inervensi agama. Mengedepankan materi dan keuntungan pribadi sangat lekat dengan cara pandangnya. Padahal Allah ta’ala telah memperingatkan kita dalam surat Thaha ayat 124 ;
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.
Peringatan ini tentu bukan angin lalu. Saat ini masyarakat tengah merasakan sulitnya penghidupan yang sempit, dan itu melahirkan kesengsaraan di berbagai cabang kehidupan. Persoalan pengangguran saja, belum pernah tuntas sehingga menjadi problem tahunan yang melahirkan cabang masalah yang lain. Seperti pencurian, pembunuhan, pelacuran, penipuan dan kriminalitas lainnya.
Semestinya negara yang bertangungjawab memastikan terpenuhinya kebutuhan pokok masyarakat, disamping menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup dan menyiapkan SDM yang berkualitas. Sehingga hasil kerja mereka tidak habis hanya untuk memenuhi sandang, pangan dan papan saja.
Ubah Cara Pandang
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengganti cara pandang kita dengan Islam. Karena cara pandang yang benar akan melahirkan kemaslahatan bagi masyarakat. Allah berfirman dalam surat ibrahim ayat 24 yang artinya, “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit”.
Kalimat yang baik yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah kalimat tauhid. Allah menyerupakannya dengan pohon kurma yang memiliki akar yang menancap kuat dan cabangnya menjulang ke langit, memberikan sejuta manfaat bagi makhluk di sekitarnya. Sebagai seorang yang mengaku dan meyakini islam, maka kita perlu mengaplikasikan keimanan kita dalam bentuk perbuatan yang terikat dengan hukum syara’. Perlu diketahui, Allah telah mengatur semua aspek kehidupan kita dengan aturan yang jelas dan lengkap. Bisa kita dapati dalam Alqur’an dan sunnah seperangkat aturan politik, ekonomi, pendidikan, sosial, kesehatan dan lainnya. Namun keislaman kita tidak akan terasa manfaatnya dalam kehidupan jika tidak diterapkan.
Dari sini, layaknya negara mengondisikan individu rakyatnya agar menjadi hamba yang bertaqwa. Tentu hal ini perlu didukung oleh pendidikan berasaskan islam yang mudah dijangkau semua kalangan, juga terpenuhinya semua kebutuhan asasiyah masyarakat. Dengan begitu akan terlahir banyak SDM berkualitas yang siap menciptakan peradaban cemerlang.
Lebih lanjut, sistem ekonomi dalam Islam mengatur pengelolaan sumber daya alam oleh negara dan menggunakan hasilnya untuk menyejahterakan rakyat, utamanya dalam layanan pendidikan dan kesehatan. Dengan kemandirian negara dalam mengelola sumber daya alam, otomatis akan membuka lapangan kerja di banyak lini. Baik itu tenaga ahli maupun tenaga terampil. Hal ini sekaligus berperan menghapuskan pengangguran di dalam negara.
Negara berasaskan islam akan menjadi pelindung sekaligus pengurus rakyat. Kebijakan yang lahir darinya akan senantiasa berpihak pada kepentingan rakyat. Bahkan negara akan mewujudkan adanya jaminan kesejahteraan melalui berbagai mekanisme, sehingga kehidupan rakyat terjamin. Hanya Islam yang mampu tuntaskan semua problem kehidupan.
Wallahu a’lam bisshowab
No comments:
Post a Comment