Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Inflasi Terjadi, Back to Islam Jawaban Pasti

Saturday, August 10, 2024 | Saturday, August 10, 2024 WIB

Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty

(Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Penjabat Wali Kota Bekasi, Raden Gani Muhamad, menilai tingginya angka inflasi di Kota Bekasi masih dianggap wajar. Beliau mencatat bahwa wilayah Kota Bekasi bukanlah daerah produsen, melainkan daerah konsumen. Pernyataan ini disampaikan setelah Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mengeluarkan laporan tentang inflasi year on year (y-on-y) di Provinsi Jawa Barat pada Juli 2024 yang mencapai 2,25 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 106,83. Dalam laporan tersebut, Kota Bekasi tercatat memiliki inflasi tertinggi di Jawa Barat sebesar 2,75 persen dengan IHK sebesar 107,47. (rakyatbekasi.com, 05-08-2024).

Jika dilihat dari Inflasi Indonesia per Mei 2024, disebut masih terkendali di bawah 3%. Menkeu Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, hal ini didorong oleh harga pangan yang sebelumnya sempat melonjak kini telah mereda. Menkeu, dalam Konferensi Pers “APBN Kita, Kinerja dan Fakta” Edisi Mei 2024, Kamis (27-6-2024), menyebut tekanan dari harga pangan yang memuncak sejak Desember 2023 hingga April 2024 sudah mulai mereda untuk volatile food atau. Hal ini membuat inflasi RI turun dari 3% ke level 2,84% year-on-year (yoy). Meski begitu, Bank Dunia menilai, inflasi Indonesia akan menghadapi tekanan kenaikan dari harga pangan dan energi global.

Mengamati hal ini jika memang Bekasi adalah daerah konsumen, bukan produsen, namun kemudian tingkat Inflasi meningkat, berarti ada yang tidak beres dalam kehidupan ekonomi masyarakat Bekasi. Tentunya hal ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi perekonomian Indonesia yang juga sedang tidak baik-baik saja.

*Penurunan Daya Beli*

Memang, kondisi ekonomi yang memburuk saat ini tengah menghantam Indonesia. PHK semakin merajalela sementara harga pangan banyak yang melonjak mulai dari beras hingga gula. Demikian pulalah yang terjadi di Bekasi. Kondisi ini ikut menekan permintaan masyarakat.

Berdasarkan data kementerian ketenagakerjaan (kemnaker), pada periode Januari-Juni 2024 terdapat 32.064 orang tenaga kerja yang terkena PHK. Angka tersebut naik 21,4% dari periode yang sama tahun lalu sebanyak 26.400 orang. Sejumlah indikator menunjukkan adanya pelemahan daya beli sehingga masyarakat terpaksa mengurangi belanja.

Data Bank Indonesia menyebut proprosi konsumsi masyarakat Indonesia pada Juni berada di angka 73,9%. Proporsi ini lebih baik dibandingkan Mei tetapi jauh di bawah rata-rata 2023 yang berada di angka 75%. Jadi Bekasi sebagai daerah konsumen dengan kondisi perekonomian rakyatnya yang tidak membaik, wajar jika kemudian mengalami penurunan daya beli.

Menanggapi hal ini Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, tim pengendali inflasi pusat dan daerah memang terus bekerja menjaga tingkat inflasi tahun ini di level 2,5%. “Inflasi kan memang kita ada tim inflasi, TPIP dan TPID, yang memang mau menurunkan inflasi, dan pasca lebaran kan turun ke 2,5%,” kata Airlangga di kantornya, Jakarta. Maka, Airlangga mengatakan, penurunan harga-harga terjadi untuk kelompok bahan pangan. Ia menganggap, tak ada yang salah dengan daya beli masyarakat.

Namun, seringan itu kah menanggapi kondisi seperti ini? Tidakkah ada upaya untuk mencari penyebab dan menyelesaikannya secara paripurna?

*Ada Sebab Ada Akibat*

Dalam kamus ekonomi, Inflasi adalah suatu periode pada masa tertentu, yang terjadi ketika suatu kekuatan dalam membeli terhadap kesatuan moneter menurun. Bisa juga dipahami, inflasi adalah satu keadaan atau periode ketika harga-harga serta upah pada umumnya mengalami peningkatan. Jadi, daya beli masyarakat itu turun sehingga tentu saja ia harus mengeluarkan uang lebih banyak karena harga-harga naik.

Sesungguhnya jika mau menelisik lebih dalam, ada aspek yang sangat berperan sebagai penyebab Inflasi di suatu negeri. Aspek moneternya atau mata uangnya sebetulnya penyebab utama atas apa yang terjadi.

Sebetulnya para ekonom kapitalis pun menyadari bahwa ada problem dalam sistem mata uang yang sekarang dipakai. Problemnya adalah sistem mata uang yang dipakai oleh seluruh negara mengacu kepada negara terbesar saat ini. Negara adi daya Amerika Serikat mendominasi mata uang dunia dengan uang kertas dolar. Inilah yang menjadi problem utama karena mata uang menjadi salah satu alat yang dipergunakan negara-negara besar tersebut untuk mengooptasi atau mendominasi negara lain.

Penciptaan uang dalam sistem moneter hari ini yang tidak berbasis pada kestabilan sebagaimana yang dimiliki emas dan perak, tetapi semata-mata terbuat dari kertas telah menghancurleburkan sistem moneter dunia. Semua yang tersangkut di dalamnya merasakan akibatnya. Berapa pun yang diinginkan oleh negara-negara besar untuk melakukan penciptaan atau pencetakan mata uang, maka bisa saja bisa dilakukan. Kondisi ini dimanfaatkan dengan optimal oleh negara-negara pemegang peradaban, salah satunya AS.

Bayangkan. Jika AS terus-menerus melakukan pencetakan mata uang dan mata uangnya juga masih dipakai oleh semua negara di dunia, maka problem inflasi yang berawal dari negara-negara besar ini akan menjadi efek domino ke negara-negara berkembang. Tidak terkecuali Bekasi sebagai kota yang merupakan bagian dari negara yang berkategori berkembang.

Saat ini, negara berkembang pun menggunakan sistem mata uang yang sama, mata uang kertas yang tidak di-back up dengan emas. Akibatnya, tidak ada kontrol dalam proses pencetakan sehingga saat ini bisa dikatakan jumlah uang beredar yang ada di dunia sudah terlalu besar, jauh melampaui jumlah produktivitas ekonomi di sektor produksi barang dan jasa riil.

Terlebih lagi dalam sistem kapitalistik ini ada riba yang membuat transaksi menggelembung. Tidak ada produksi barang dan jasa yang bertambah, tetapi mata uangnya mengalami kenaikan karena ada mekanisme riba di dalamnya.

Begitulah efek domino dari ketidakwarasan ekonomi kapitalistik, yang pada kenyataannya tidak bisa dilepaskan dari kondisi wilayah manapun di dunia ini. Ketidakmandirian yang nihil dari suatu negara, apalagi jika tingkat konsumerismenya tinggi seperti Bekasi, melumrahkan terjadinya tingkat inflasi yang meninggi.

*Sistem Moneter dalam Paradigma Islam*

Sejatinya saat sistem moneter dengan basis mata uang yang tidak bersandar pada aturan Allah dan Rasul-Nya, yakni tidak berbasis emas dan perak, maka seluruh kondisi perekonomian dunia menjadi sangat tidak baik-baik saja seperti saat ini. Seluruh permasalahan ekonomi penuh dengan karut marut masalah yang tak kelar-kelar.

Berbeda dengan Islam, dalam Islam sistem moneter yang berjalan diiringi dengan paradigma terbaiknya terkait mata uang yang dipakai yaitu dengan sistem emas dan perak. Sehingga batasan yang mengatur seluruh standar nilai yang terkait dengannya. Tentu saja hal ini dikarenakan stabilitas emas dan perak sudah tidak bisa diragukan lagi. Bayangkan, nilai satu dirham pada masa Rasulullah dengan hari ini, daya belinya masih sama, yakni satu dirham, sekalipun saat ini sudah tidak pakai sistem dinar (emas) dan dirham (perak) lagi. Alhasil, tidak terjadi penurunan kesatuan moneter sebagaimana definisi inflasi yang terjadi seperti saat ini.

Oleh karena itu yang dibutuhkan dunia saat ini jika memang benar-benar ingin menjaga kualitas hidup manusia maka harus menjalankan syariat Islam saat menggunakan uang dalam penunaiannya.

Tentunya menjaga stabilitas kesatuan moneter dengan menjadikan kembali emas dan perak itu sebagai sistem di berbagai negara menjadi mekanisme terbaik yang dipilih. Dengan pilihan ini umat manusia (bil khusus) di suatu negara bisa mendobrak dominasi negara-negara Barat. Negara itu memiliki bargaining position yang tinggi di hadapan semua negara lain dan itu hanya bisa ditemui dalam sistem Khilafah Islam.

Dalam sistem Islam, Khilafah Islam memiliki tanggung jawab terhadap dunia untuk mengembalikan stabilitas kesatuan moneter dengan memberlakukan sistem moneter yang diperintahkan dalam Islam dan menata semua mekanisme ekonomi yang lain dengan syariat Islam secara kafah. Dengan cara seperti ini dominasi negara-negara luar yang memaksakan imperialismenya melalui mata uang, tidak akan bisa terjadi atau bisa dihentikan dan dilawan.

Dalam sistem Islam, paradigma sistem moneter dengan menggunakan mata uang emas dan perak, pencetakan mata uang tidak bisa dilakukan dengan mudah karena bertumpu pada ditemukannya emas dan perak. Apalagi, kalau dilihat begitu banyak emas dan perak yang Allah ciptakan di muka bumi.

Dalam Islam semua mekanisme ekonomi yang menciptakan ekonomi yang menggelembung karena transaksi-transaksi ribawi diharamkan. Dengan syariat Islam secara kafah, stabilitas moneter dunia pun terwujud, daya beli masyarakat membaik, tidak mengalami penurunan karena uang yang dipegangnya memang memiliki daya beli yang setara. Ketika hal ini berkelanjutan, maka kesejahteraan dan keadilan akan merata di seluruh alam sebagaimana yang memang telah Allah janjikan, yakni apabila bumi, alam, dan seisinya diatur dengan syariat Allah saja. Inflasi meninggi tidak lagi dihadapi baik sedikit atau banyak, karena Islam memiliki solusi pasti. Bukan hanya Bekasi yang merasakan namun seisi dunia diniscayakan. MaasyaaAllaah.
Firman Allah Ta’ala,

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” ( QS. Al a’raaf:96).

Wallaahu a’laam bisshawaab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update