Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tawuran, Produk Pendidikan Sekuler Kapitalis Liberal Ngiler Cuan

Tuesday, July 16, 2024 | Tuesday, July 16, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:42:14Z

Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty

(Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Aksi tawuran lagi-lagi terjadi di Jalan Basuki Rahmat (Bassura), Cipinang Besar Utara, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. Dugaan sengaja buat mencari cuan melalui medsos pun muncul dibalik terjadinya aksi tawuran. Diketahui, tawuran tersebut melibatkan warga RW 01 dan RW 02 pada Kamis (27/6), sekitar pukul 05.30 WIB. Para pelaku tawuran itu menggunakan berbagai benda, seperti batu, petasan, dan senjata tajam. (detiknews..com, 30-06-2024).

Akhir-akhir ini tawuran memang semakin menjadi. Tawuran yang merupakan salah satu bentuk kenakalan remaja, selain semakin marak, jumlah korban tewasnya pun naik. Sungguh miris, jika memang tawuran yang dipenuhi aksi kekerasan ini diduga sebagai cara baru cari cuan, bahkan tayang secara live di medsos. Aktivitas promosi pada netizen dilakukan dengan janjian di medsos. Bagaimana tidak menggiurkan, keuntungan dari konten tawuran berpotensi besar karena yang tertarik menonton banyak. Apa yang terjadi Bassura menjadi contoh nyata. Bisa jadi kejadian yang sama juga terjadi di tempat lain.

Tak terhindarkan pula minuman keras dan narkoba menjadi santapan, dikonsumsi bagai pangan utama, agar saat menjalani aksi mereka seperti hilang rasa takut. Tak luput pula senjata tajam seperti parang, celurit, belati hingga golok banyak ditemukan di tempat kejadian. Seakan satu paket, satu kejahatan bersamaan dengan kejahatan lainnya. Tindakan kriminal seakan kegiatan biasa saja. Lumrah sekalipun diiringi peristiwa berdarah.

Sepertinya ada yang salah di negeri ini. Remaja terlahir bagai monster tak humanis. Pendidikan yang ada tak hadirkan produk baik. Generasi terwujud menjadi sangat kriminal. Agama tak dijadikan sebagai aturan. Allah tak lagi ditakuti. Rasulullah tak lagi dinunuti. Sungguh paham sekuler liberal telah membuat remaja hilang akal sehat. Asas manfaat menjadi tolok ukur perbuatan. Materi menjadi standar kebahagiaan. Inilah yang menjadikan kehidupan umat makin tak wajar. Alhasil, konten tawuran dianggap sebagai sesuatu yang logis-logis saja. Para pelakunya tidak peduli jika kontennya mencelakai orang atau dirinya sendiri. Selama profit didapat, hidup serasa senang-senang saja.

Menyakitkan. Sekularisme yang melahirkan liberalisme telah menjadikan manusia bebas melakukan segala sesuatu sesukanya, sepuas-puasnya. Sekulerisme liberal tidak menjadikan manusia peduli jika perbuatannya telah menzalimi orang lain. Yang dipikirkan hanyalah kesenangan. Dengan begitu, mereka tidak merasa takut memukul bahkan menusuk temannya yang ia anggap musuh dalam tawuran. Mereka pun tidak takut untuk meminum minuman keras dan narkoba, padahal telah jelas keharamannya. Demikian pula dengan para pengikut dan penontonnya. Alih-alih melaporkan ke pihak yang berwenang untuk mencegah, mereka malah menikmati adegan kekerasan tersebut. Sungguh tragis, sudah sedemikian rusaknya para remaja saat ini.

*Produk Pendidikan Sekuler Kapitalis Liberal*

Sungguh saat ini potensi besar yang dimiliki generasi muda nyatanya disalurkan pada aktivitas-aktivitas nihil manfaat. Tawuran yang kian mengerikan dan meresahkan ini sejatinya telah menggambarkan adanya kegagalan sistem pendidikan saat ini. Sistem pendidikan sekuler kapitalis liberal telah mencetak generasi nir-kualitas.

Sistem yang menjauhkan agama dari kurikulumnya ini telah menjadikan generasi muda tumbuh tanpa iman dan takwa. Ditambah lagi sistem pendidikan sekuler hanya berorientasi akademik. Akibatnya para peserta didik hanya fokus pada dirinya sendiri. Cari cuan tanpa peduli halal atau haram mewarnai kehidupan mereka. Mereka lakukan apa pun hanya demi capaian materi.

Senyatanya, sistem pendidikan sekuler ini pun telah gagal menanamkan tujuan hidup. Para pelajar tidak memiliki tujuan kuat di balik fitrah penciptaan mereka. Walhasil para pelajar mudah stres dan gamang dalam menghadapi persoalan hidup. Kesehatan mentalnya terdistruksi, miskin akhlak sehingga mudah terbawa pada perbuatan nista, termasuk tawuran.

*Sistem Islam Hadirkan Generasi Terbaik*

Jika sistem sekuler kapitalis liberal hadirkan generasi minus, berbeda dengan sistem kehidupan Islam. Sistem Islam senantiasa mengarahkan umat untuk melandasi setiap amalnya pada akidah Islam. Penanaman akidah dilakukan di berbagai lapisan. Mulai dari keluarga, masyarakat, hingga negara. Dalam sistem ini remaja akan memiliki akidah yang kuat dan perilakunya pun akan senantiasa terikat dengan syariat.

Dalam sistem Islam pun, para ibu selaku pendidik pertama dan utama di tengah keluarga, dituntun agar selalu paham dengan kewajiban utamanya, yaitu mendidik anak-anaknya berbasis akidah Islam. Para ibu mendidik putra putrinya penuh dengan kasih sayang. Dari model keluarga seperti ini, lahirnya generasi yang kuat dan tangguh dalam mengarungi kehidupan sungguh niscaya. Dalam sistem Islam para ibu bukanlah orang-orang yang lebih tertarik dalam karir publik, mereka lebih bahagia dalam karir domestik sebagai perempuan berkarir surga. Tentunya dari rahimnya pula lah generasi emas harapan peradaban mulia.

Demikian pula sistem kontrol masyarakat dalam sistem Islam sangatlah kuat. Gaya hidup individualistis tidak mewarnai masyarakatnya. Seorang muslim akan sangat peduli pada sesamanya. Jika ada yang berbuat maksiat, seperti tawuran, ia akan bersegera menasihati dan berusaha mencegahnya. Alhasil tawuran pun tak membudaya.

Dalam sistem Islam, negara (Khilafah), memiliki kewajiban mengurus dan melindungi umatnya. Khilafah akan sangat serius dalam menjaga akidah umat sehingga mereka senantiasa hidup dalam ketaatan. Negara akan menyaring konten media di tengah-tengah umat agar yang tersisa hanyalah konten positif dan bermuatan dakwah. Adegan kekerasan yang menginspirasi terjadinya tawuran, akan dicegah penayangannya. Begitu pun sistem sanksi, negara akan memastikan memberikan hukuman yang menjerakan kepada pelaku kekerasan.

Sejatinya sistem pendidikan Islam yang berlandaskan akidah akan melahirkan generasi yang berkepribadian Islam, yaitu generasi yang memiliki pola pikir dan pola sikap Islam. Keimanan yang selalu ditanamkan oleh para pendidik, akan melahirkan generasi yang bertakwa, yaitu generasi yang senantiasa melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Dalam sistem pendidikan Islam para pelajar senantiasa mengisi waktu berharganya dengan menuntut ilmu demi keberkahan hidupnya. Sistem pendidikan Islam menanamkan pada mereka agar dengan ilmu mereka bisa menyempurnakan ibadahnya sekaligus bermanfaat bagi umat. Inilah yang menjadikan para pelajar menggunakan energi besarnya untuk giat dalam belajar bukan untuk tawuran.

Sistem pendidikan Islam mampu menjadikan para pelajar kuat dalam menghadapi berbagai macam persoalan. Mereka memahami bahwa cobaan hidup adalah wujud kasih sayang Allah Ta’ala pada seorang hamba. Dengan begitu, mereka tidak dipusingkan dengan stres atau masalah kesehatan mental lainnya yang menyeret mereka pada tindakan kriminal berujung hilangnya nyawa.

Oleh karena itu beralih pada sistem kehidupan Islam yang akan mengantarkan umat pada peradaban gemilang sangatlah urgen. Dengan sistem kehidupan Islam yang berlangsung, akan menghadirkan sistem pendidikan Islam yang mampu melahirkan produk generasi cemerlang. Di bawah naungan Khilafah yang telah terbukti selama hampir 14 abad, generasi tawuran ngiler cuan tidak akan terwujud. Profil generasi emas bukan hanya sebatas mimpi, namun niscaya terealisasi.

Wallaahu a’laam bisshawaab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update