Tiket pesawat menuju Bandara APT Pranoto, Samarinda, maupun Bandara SAMS Sepinggan, Balikpapan sempat mengalami kelangkaan. Andai ada harganya terlampau mahal. Ada cerita beberapa calon penumpang yang tertulis dalam media prokal.co berjudul "Sulit Dapat Tiket Pesawat ke Kaltim, Terjebak di Jakarta". Tentunya pengalaman tersebut seharusnya membuat pemerintah segera merapat untuk menyelesaikannya.
Peningkatan kunjungan ke Kaltim dampak IKN dikatakan penyebab tiket mahal dan langka. Hal ini diungkapkan oleh Ketua DPD Asosiasi Pengusaha Rental Mobil Daerah (Asperda) Kaltim, Damun Kriswanto dan Sekretaris DPW Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Kaltim Daru Widiyatmoko.
Selain itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno di Balikpapan dalam kunjungannya ke Balikpapan kemarin (1/5) pun menyebut kondisi terkait sulit dan mahalnya harga tiket pesawat ini harus segera diselesaikan. Dia mengungkapkan, berkoordinasi dengan kementerian terkait akan mencari solusi untuk menuntaskan masalah ini.
Konsekuensi Transportasi Dikapitalisasi
Sungguh disayangkan dengan mahal dan langkanya tiket pesawat, tentu membuat masyarakat semakin sulit. Padahal pemerintah berkewajiban menyediakan transportasi yang nyaman, aman, dan mudah dijangkau masyarakat. Pemerintah lemah, hanya sekedar regulator tanpa bisa intervensi karena bandara dan pesawat milik swasta bukan negara. Bandara sudah berstatus Badan Layanan Umum (BLU) sehingga asas pelayanan pun bersifat komoditi.
Hal itu konsekuensi dari sistem ekonomi neoliberal yang mendudukan negara sebagai perpanjangan tangan kepentingan para kapital. Prihatin, Indonesia dengan SDA melimpah tidak mampu membuat sejahtera rakyatnya dengan terjangkaunya transportasi udara.
Kasihan rakyat Indonesia, penerbangan yang menandakan kemajuan suatu bangsa tetapi sulit dijangkau. Belum lagi jaminan keselamatan karena seringnya kecelakaan akibat transportasi yang sudah lama digunakan atau tua. Jika demikian dipertanyakan kepedulian pemerintah akan transportasi, lantas ke mana lagi rakyat berharap solusi akan tiket mahal dan langka.
Islam Peduli Transportasi
Dalam Islam, negara memiliki kewajiban mengelola langsung moda transportasi publik tanpa dilandasi komoditi alias untung rugi, melainkan berlandaskan prinsip pelayanan kepada rakyat. Sedangkan untuk pembiayaan salah satunya bersumber dari kekayaan alam yang dikelola oleh negara berdasarkan prinsip syariat.
Tata kelola transportasi publik dalam sistem Islam dilandasi oleh akidah Islam dengan visi me-riayah/ pelayanan rakyat. Transportasi publik merupakan urat nadi kehidupan, sehingga negara memiliki kewajiban untuk memenuhinya secara langsung.
Oleh karena itu, negara menyediakan moda transportasi yang memadai sehingga transportasi terjangkau artinya tidak mahal. Selain itu negara akan mengawasi jalannya transportasi agar tidak terjadi kesulitan dan kecelakaan, apalagi hingga hilangnya nyawa. Termasuk dalam sarana dan prasarana penunjang transportasi.
Negara dalam Islam melarang transportasi publik termasuk bandara penerbangan dikuasai individu, swasta atau asing agar keberadaannya murni untuk melayani hajat publik. Negara akan betul-betul memperhatikan rakyatnya. Apalagi dalam Islam, musafir merupakan orang yang harus dimuliakan dan ditolong. Demikianlah pelayanan Islam dalam hal transportasi, tentunya semua itu akan terlaksana dengan penerapan Islam kaffah. Wallahu’alam...

No comments:
Post a Comment